
Bella tinggal lama di ruangan Ananta, bercerita tentang hal-hal lucu yang dia temui selama merawat Arkan.
"Tau nggak kak... ekspresi arkan lucu banget pas gengsi mau bilang makasih." ucap Bella dengan antusias.
Dia mengingat hari dimana arkan berdehem beberapa kali sebelum mengucapkan terimakasih dengan suaranya yang pelan. Keadaan saat itu sedikit agak canggung karena Bella sedang menyuapkan makanan saat itu. Mereka saling diam sebelum akhirnya Bella tersenyum senang.
Seorang Arkan, yang terkenal suka menggoda banyak perempuan terlihat gugup hanya karena mau bilang terimakasih. Pasti hanya Bella seorang yang diperlakukan seperti itu.
"aku bisa bayangin sih kaya apa." balas Alana tersenyum. Sebanyak yang dia tahu, kelakuan Arkan itu selalu absurd, dan over percaya diri. Nyatanya orang seperti itu luluh juga pada orang yang selalu menemaninya di saat sakit. Alana bisa membayangkan betapa Arkan akan lebih mencintai Bella setelah ini.
"pengen deh di tatap begitu juga... sayangnya aku nggak pernah." lanjut Alana dengan raut kecewa. Yah, mau bagaimana pun dia tetap sayaaang sama ananta entah bagaimana pun sikapnya dia tetap suka.
"heh, aku denger ya... dan... aku pernah kok" sahut Ananta yang mendengar percakapan Alana dan Bella. Suaranya sedikit lebih samar saat mengatakan kalimat terakhir. Sedari tadi dia hanya mendengarkan sambil asyik memakan buah-buahan dari parsel yang dibawa Bella.
"ih diem. kamu tuh nggak di ajak" balas Alana kesal. Bella hanya tertawa. Dua sahabatnya ini lucu kalau sedang berdebat. Jadi dia hanya menonton saja. Sampai tiba-tiba telponnya memperdengarkan nada dering yang khusus di setelnya untuk chat dari Arkan.
"kak... aku harus pamit dulu... Arkan udah nyari nih" pamit bella.
"iya. makasih ya udah kesini, semoga Ananta sama Arkan cepet sembuh jadi kita bisa jalan-jalan lagi." balas Alana melontarkan sebuah do'a sesering mungkin. Kalau perkataan adalah do'a semoga Tuhan segera mendengarnya dan memberi takdir baik pada mereka.
"aamiin. dadah kak Alana. kapan-kapan ketemu lagi" ucap Bella melambai sebelum berbalik menuju pintu. Pintu diketuk saat dia akan keluar, membuatnya berpapasan dengan tamu yang baru datang. Bella tersenyum canggung, menunduk sebentar sebelum keluar dari ruangan.
__ADS_1
Tamu yang mengira sudah dipersilahkan masuk itu memasuki ruangan, membuat Alana dan Ananta menoleh ke arahnya.
"Hai.. kak Rosi" ucap Alana yang langsung tersenyum senang, sedangkan Ananta masih mengamati orang asing di depannya.
"siapa Na?" tanya Ananta pada Alana yang sudah menghampiri kak Rosi dengan gembira. Dia memeluk perempuan itu dengan hangat, mengabaikan pertanyaan Ananta. Yah, Ananta tidak tahu bahwa orang ini berperan besar dalam operasinya beberapa hari lalu.
"kakaknya pemilik jantung yang berdetak di dada kamu sekarang" ucap kak Rosi sambil tersenyum. Tidak ada perasaan sedih atau aneh di antara mereka. Dia sudah menerima takdir dan semua yang terjadi. Ananta menatap dengan dahinya yang mengerut, dia masih mencoba mencerna maksud dari perkataan perempuan di depannya. Setelah sadar dia menatap dengan penuh rasa bersalah.
"jadi..." ucapnya menggantung. Dia mengingat fakta bahwa pernyataan tadi berarti berita duka untuk seseorang yang tidak pernah dikenalnya sama sekali. Orang yang menjadi alasan jantungnya mulai kembali pulih dan terasa lebih baik dari jantungnya dulu yang sering membuatnya sakit.
"iya... dan nggak perlu merasa bersalah. Dia bahagia kok, kasih jantungnya buat kamu. Lebih senang lagi kalau dia tahu kalian orang yang baik." balas Rosi. Entah di sudut yang mana kalimat yang sok bijak itu dia temukan di kepalanya. Semua terlontar begitu saja saat melihat Ananta yang terlihat mempersiapkan kata maaf yang tak ingin didengarnya.
"jadi, terimakasih?" tanya Ananta tidak yakin. Dia tidak tahu harus berbicara apa. Yang paling pantas dia ucapkan hanya terimakasih kan sekarang?
"lagian aku kesini karena mau ketemu alana." ucapnya, membuat Alana yang sedari tadi berdiri di sampingnya bertanya-tanya. Alana menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan dia tidak salah dengar.
"aku kak?" tanya alana, padahal dia sudah yakin kalau kak Rosi mau menjenguk ananta, orang yang menghidupkan jantung adiknya untuk waktu yang lebih lama.
"iyaaa... aku kangen sama kamu" lanjutnya menatap penuh ke arah Alana. Lagi, keberadaan ananta serasa setipis udara sekarang. Kenapa sih orang-orang yang datang hari ini malah membuatnya diabaikan begini. Ananta ingin memprotes, tapi yah... mau bagaimana lagi. Alana memang populer, jadi dia yang harus sabar (menghembuskan nafas panjang).
"kakak so sweet banget deh. pengen aku jadiin kakak deh" ucap Alana menggandeng lengan Rosi. Yah, dia sudah terlalu lama menjadi anak tunggal, diperhatikan oleh kakak yang lebih tua sedikit ini rasanya menyenangkan.
__ADS_1
"boleh" jawab kak Rosi tersenyum senang.
"eh?" Alana hanya melongo mendengarnya. Jadi dia benar-benar boleh jadi adik kak Rosi?
"iya... tadinya aku yang mau jadiin kamu adek. Eh, keduluan" ucapnya tertawa kecil. Sosok Alana mengingatkannya dengan Andini. Perempuan lucu yang baik hati. Bedanya, Alana terlihat lebih bahagia daripada Andini yang dia kenal selama hidup.
Diam-diam dia ingin momen itu kembali. Saat dia bisa bicara tentang banyak hal pada adiknya. Andini selalu mendengar keluh kesahnya, tanpa Rosi tahu kalau Andini sendiri punya banyak luka dalam dirinya. Melihat Alana yang begitu tegar dan ceria, dia seperti menemukan adiknya dalam versi yang lebih bahagia. Versi dimana dia tidak sakit dan menderita.
"mau" balas Alana dengan suara yang manja. Dia segera memeluk kakak barunya itu.
Lagi, ananta hanya menonton dari atas ranjang rumah sakit. Jantungnya terasa berdetak dengan nyaman, membuatnya merasa tenang hanya dengan melihat pemandangan kakak beradik tidak sedarah itu berpelukan.
"nanti, sesekali aku ajak jalan-jalan mau?" tanya Rosi dijawab anggukan antusias dari Alana.
"Tapi setelah dia keluar dari rumah sakit ya kak" ucap Alana menunjuk ke arah Ananta. Ananta sudah seperti orang ketiga yang siap dimarahi sekarang. Lagipula memang benar, Alana jadi tidak bisa menikmati kehidupan sma nya dengan normal karena dia.
"ok. Kita tuker-tukeran nomor HP dulu boleh" tanya kak Rosi dibalas senyum lebar Alana yang mencari-cari handphone nya di sela-sela kulit jeruk di atas nakas. Dia kembali sibuk di dunianya bersama kak Rosi. Membawanya ke sofa. Mengabaikan Ananta yang masih cemberut di atas ranjang.
"akhir-akhir ini, kenapa yang bikin aku cemburu perempuan semua sih." gumamnya, lirih. Dia galau bercampur senang karena pasti akan susah bermanja dengan Alana kalau temannya datang. Meskipun senang juga, karena ada teman yang datang Alana jadi lebih relax dan enjoy saat merawatnya.
"Alana... aku mau minum obat." ucap ananta mencari perhatian.
__ADS_1
"udah tadi. diem dulu" marah Alana sebelum kembali mengobrol dengan kak Rosi.
"yah... jadi orang ketiga beneran kayaknya." gumamnya lirih.