Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
sembilan belas. rahasia


__ADS_3

Alana masih belum mendapat penjelasan dari kepergian Ananta kemarin. Lagi-lagi dia ditinggalkan dengan pikiran-pikiran liarnya sendirian. Pikiran liar yang mulai membayangkan hal-hal yang mungkin terjadi. Terlebih, sikap Ananta terasa sedikit berbeda hari ini. Ananta berubah dalam semalam.


Ananta jelas-jelas tidak ada di ruang Olimpiade siang ini, tapi juga tidak menghampirinya seperti biasa. Ananta bahkan tidak berangkat ke sekolah bersamanya. Dia menyadari ada hal buruk yang tidak dia ketahui terjadi kemarin.


Alana masih berkelana jauh dalam pikirannya sampai-sampai tidak ada satupun materi di kelas yang dia pelajari dengan benar.


"Alana!!!" Panggil seorang guru dengan setengah berteriak, Alana tidak menyadarinya karena dipikirannya masih penuh dengan Ananta.


"Na..." Lisa teman sebangkunya berusaha menyadarkan Alana. Alana baru menoleh setelah dia menyenggolnya beberapa kali.


"Eh kenapa?" Alana nampak linglung.


"Bu Dian..." Bisik Lisa mengisyaratkannya untuk menghadap ke depan. Ketika dia menoleh, Bu Dian sudah berkacak pinggang menatapnya dengan marah.


"Kalau tidak serius, lebih baik kamu keluar dari kelas saya!" Ucap beliau.


Tidak berani membantah, dengan pasrah Alana berjalan keluar dari kelas tanpa sedikitpun protes. Dia berakhir bersandar pada tembok depan kelas dengan tubuhnya yang lesu.


"Iiih bodoh. Ananta bodoh." Ucapnya kesal. Dia menyalahkan Ananta yang membuatnya tidak bisa fokus dalam hal apapun.


Setelah jam pelajaran usai, kini mereka memasuki jam istirahat. Tapi Alana enggan keluar dari kelas untuk menemui Ananta. Lagipula dia yakin, Ananta tidak akan berada di tempat yang dicarinya juga. Kalau memang Ananta yang menjauh, mau dicari pun akan percuma saja.


Alih-alih pergi ke kantin, Alana memilih tidur di kelas. Alana mengabaikan perutnya yang lapar gara-gara lupa tidak sarapan tadi pagi. Mood nya yang buruk membuatnya malas melakukan apapun.


"Na, nggak lapar?" Tanya Lisa sebelum meninggalkan Alana sendirian di kelas. Alana hanya menggeleng pelan sebelum meletakkan kepalanya di atas meja.


"duluan aja" ucapnya singkat. Dalam sekejap dia benar-benar ditinggalkan sendirian di dalam kelas.


Saat matanya terpejam, Alana mendengar langkah mendekat ke arah mejanya. Dia menyadari itu. Namun Alana enggan bangun dan memilih berpura-pura tidur. Tangan entah siapa mengusap kepalanya dengan perlahan. Orang itu tidak berbicara satu kalimat pun.

__ADS_1


Setelah beberapa llama diam, dia meninggalkan sesuatu di meja, lalu pergi meninggalkan kelas Alana. Alana menunggu dengan tenang. Masih berpura-pura tidur sambil menahan rasa penasarannya sekuat tenaga. Setelah suara itu benar-benar hilang, baru Alana mau bangun dan memeriksa sekelilingnya.


'Bau parfum itu... Familiar' pikir Alana menerka siapa yang baru saja datang. Dia menatap benda yang ditinggalkan orang tadi. Sepotong roti isi keju susu favoritnya. Melihat roti bertoping susu dan keju itu, tiba-tiba dia merasa lapar. Makanan yang satu ini tidak bisa dia tolak. apalagi hanya orang-orang tertentu yang tahu makanan kesukaannya itu.


"aku tahu ini kamu... Iya kan" Gumam Alana sebelum menyantap roti berukuran sedang itu. Perasaannya terasa sedikit lebih baik meski rasa khawatir masih mengganggunya. Alana bahkan tidak bisa menahan senyumnya lagi. Setidaknya dengan ini dia tahu Ananta baik-baik saja walaupun Ananta masih belum menemuinya untuk bicara.


Setelah jam sekolah selesai, sepanjang siang dia masih tidak bertemu Ananta. Alana masih tidak berhenti menulis pesan untuk Ananta meski tidak satupun dibaca. Dia memilih kembali ke asrama dengan sedikit lesu.


Alana melangkahkan kakinya dengan lambat sampai Ibu asrama menghentikannya ketika akan menaiki tangga ke lantai dua.


"mbak Alana tunggu." ucapnya tergopoh menghentikan Alana yang sudah menaiki beberapa anak tangga. Ibu itu memberikan sebuah buket bunga berwarna ungu kepada Alana.


"Ini mbak, ada titipan bunga dari mas ganteng buat mbak Alana." Ucap si ibu membuat Alana bertanya-tanya.


"Dari siapa buk?" Tanya Alana masih belum paham siapa orang yang memberikannya bunga.


"Itu mas yang sering sama mbak..." Penjelasan itu tidak membantu, pikiran Alana menebak dua orang yang sebenarnya terasa tidak mungkin.


"Oh.. Mas Ananta mbak... Yang ganteng itu, katanya buat mbak Alana." Ucap si ibu akhirnya mengingat nama Ananta.


Mendengarnya hati Alana langsung menghangat. Bahagia menyerbu hatinya melihat bunga pertama yang Ananta berikan padanya. Yah, bunga pertama yang dia dapat selama mengenal Ananta. Sangat manis sekaligus ironis. Karena sudah puluhan tahun dia mengenal Ananta, baru hari ini dia diperlakukan sebaik ini.


"Itu udah dari kemarin sih mbak, maaf ya baru sempet dikasihkan sekarang." Ucap si ibu lagi, namun Alana menghiraukannya setelah bunga cantik itu berada dipelukannya. Rasa bahagia memenuhi dadanya meski tetap saja khawatirnya belum hilang sepenuhnya.


Dia mengirim pesan untuk berterima kasih, jelas saja. Hanya ini cara mereka berkomunikasi sekarang. Mereka masih belum bertemu sama sekali sejak kemarin.


***


Setelah hari dia menerima bunga, Alana masih belum bertemu Ananta di sekolah. Dia tidak bisa menemukan Ananta dimanapun. Berbeda kelas di SMA ternyata sangat merepotkan karena dia jadi kesusahan mencari tahu kabar Ananta.

__ADS_1


Siang harinya perasaan Alana bercampur aduk saat menerima pesan Ananta yang berbunyi 'jangan cari aku, aku mau sendiri dulu'. Kalimat yang sangat menyesakkan bagi Alana, apalagi Alana tidak tahu permasalahan apa yang terjadi sampai Ananta belum mau menemuinya. Entah apa masalahnya sekarang. Apa ini karena dirinya atau hal lain???


Saat hatinya berantakan itu, dia justru menemukan arkan yang menghampirinya dengan senyuman yang terlihat ragu.


"Na, ikut yuk. Aku mau kasih tau pesan dari Ananta" Ucap arkan dengan sedikit perasaan misterius, berbanding terbalik dengan arkan yang biasa berbicara lepas dengan Alana.


Arkan membawa Alana ke sebuah cafe yang menjual kue-kue manis kesukaan Alana, sedikit terlihat kikuk di lingkungan yang tidak biasa dia datangi. Padahal arkan yang mengajaknya ke sana.


Arkan memandang Alana di tengah suasana yang sangat canggung. Tidak satupun memulai pembicaraan. Sejak awal Alana bersiap menjadi pendengar, sedangkan arkan terlihat ragu dan berakhir tidak bicara sama sekali.


Raut wajahnya terlihat frustasi seolah harusnya dia melakukan sesuatu selain duduk diam.


"Arkan. Mau kasih tahu apa..." Ucap Alana tidak tahan karena arkan hanya diam di depannya.


"Diem dulu bentar" Ucapnya, lalu melanjutkan tingkah anehnya yang seperti sedang mengumpulkan keberanian.


"Buruan" Alana semakin tidak sabar setelah beberapa menit berlalu. Kue yang dia pesan sudah habis tak bersisa. Arkan melirik jam di tangannya dengan gugup. Ada peperangan tak kasat mata di batinnya sekarang.


"Enggak deh Na, nggak kuat. aku menyerah." Ucapnya menghela nafas panjang lalu beranjak dari tempat duduk, menuju kasir membayar pesanan mereka lalu pergi meninggalkan Alana yang masih duduk bengong di meja. 'Menyerah kenapa?' Alana masih bertanya-tanya saat arkan sudah benar-benar keluar dari cafe.


"Dasar aneh. Ngapain ngajak-ngajak kesini. Ninggalin lagi." Kesal Alana tak bisa ditahan lagi. Bukannya menjawab pertanyaan di kepala Alana, arkan justru menambah beban pikirannya dengan duduk diam sambil mentraktirnya makan kue.


Alana semakin kesal dengan dua anak laki-laki aneh yang berpredikat pacar dan sahabatnya itu. Setelahnya, Arkan justru mengirim pesan yang tidak dia harapkan. Pengumuman tentang jadwal kegiatan club drama besok yang hanya dibacanya sekilas dengan malas. Dia tidak peduli lagi dengan hal itu. Pikirannya penuh dengan Ananta sekarang.


Setelah kejadian di kafe, Alana juga masih malas bertemu dengan arkan. Datang ke kegiatan club berarti dia harus bertemu arkan lagi hari minggu. Akhirnya, walaupun merindukan gea, dan rara, Alana memilih pulang ke rumah untuk kabur dari kegiatan club.


...****************...


Hai... terimakasih sudah baca ceritaku, beri hadiah dengan nonton iklan gratis atau kirim poin ke penulis yuk biar makin semangat buat nulis chapter selanjutnya...

__ADS_1


see you kalo udah semangat nulis lagi, hehe


__ADS_2