
Alana menatap ke arah jendela yang agak berembun. Hari ini ujian sudah di mulai. Kelas di acak lagi, kali ini dia bisa satu kelas dengan Gea, tapi tanpa Rara. Mereka terpisah di tiga kelas berbeda. Rara sendiri, Ananta juga sendiri.
Alana tidak khawatir sama sekali dengan ujiannya, dia malah kesal karena masih tidak bisa satu kelas dengan Ananta sekalipun kelasnya sudah di acak.
"humph, menyebalkan... keseeeel" ucap Alana. Gea yang duduk tepat di depannya itu sudah duduk secara terbalik untuk menghadap Alana.
"cuma sebentar naaaa. sabar. Masih ingat kan setelah ujian kita ada jalan-jalan." ucapnya mencoba membuat Alana agak ceria sedikit walau itu susah sekali.
Alana masih dalam mode ingin dekat dengan ananta sepanjang waktu, jadi kalau pisah sebentar saja dia mudah marah dan mengeluh begini.
huft, Alana meletakkan kepalanya di meja. Bermalas-malasan sebelum ujian dimulai. Bahkan saat lembar jawaban sudah sampai di mejanya dia masih mengisinya dengan kepala di atas meja.
Ujian bagi Alana itu hampir seperti pindah tempat tidur. Setelah mengerjakan soal yang bisa dia kerjakan, sisanya akan dia jawab secara acak, setelah itu kalau guru pengawas membolehkannya keluar duluan dia akan keluar setelah tiga puluh menit saja. Sedangkan kalau guru pengawas tidak mengizinkan, dia hanya akan tidur sampai jam ujian selesai. Begitu terus sampai hari terakhir.
"pak... boleh?" tanya Alana. ini ketiga kalinya Alana bertanya untuk keluar duluan karena dia selesai mengerjakan soal yang hanya separuh dia kerjakan sungguh-sungguh itu. Pengawas itu geleng-geleng kepala saat tahu Alana menjawab pilihan yang sama di sepuluh pertanyaan terakhir. Setelah menghembuskan nafas kasar akhirnya pengawas itu mengizinkan Alana keluar juga.
Dia tersenyum sangat lebar mengambil pensilnya lalu keluar dari kelas. Melambaikan tangan pada Gea yang hanya meliriknya sedikit sebelum kembali mengerjakan soal.
"mau makan apa? nanti aku pesankan di kantin Ge... udah nggak usah sungkan" ucap Alana. Tadinya Gea menghiraukannya, tapi saat dia bilang begitu akhirnya Gea menjawab juga.
"Gado-gado krupuknya banyak" balasnya lirih.
__ADS_1
Gea tidak secuek Alana kalau tentang ujian. Makanya dia tidak tergoda oleh Alana. Tapi kalau di beri tawaran makan siang tanpa antri ya dia mau mau saja.
Alana masih di luar kelas saat Gea meliriknya sekali lagi. Alana tersenyum senang melambaikan tangan lagi di luar jendela, melayangkan flying kiss untuk Gea yang tersenyum geli.
Agenda selanjutnya adalah pergi ke kelas ananta yang jaraknya hanya 3 kelas dari ruangan Alana. Di sana dia melakukan hal yang sama. Tersenyum, melambai dengan heboh di jendela sampai ananta melihatnya. Meski kali ini ananta butuh waktu agak lama sampai dia menyadari keberadaan Alana. Laki-laki itu kalau sudah fokus dengan sesuatu, ada gempa bumi pun sepertinya tidak akan sadar.
Baru setelah teman sebangku ananta memberitahunya, dia akhirnya menoleh ke arah jendela. Tempat Alana tersenyum konyol untuk mengganggu konsentrasinya. Dan, usaha Alana berhasil. Ananta tersenyum lebar meski tetap menahan suaranya.
"yang ada di luar jendela, kalau sebegitu ingin ketemu kenapa tidak masuk saja sekalian" tegur pengawas ujian yang sudah memperhatikan sejak tadi. Kelakuan murid-murid nya ini semakin hari semakin aneh, tapi lucu juga saat dilihat. Dia sudah lega karena setidaknya mereka tidak melanggar peraturan sekolah.
Di tegur seperti itu membuat Alana malu sedikit. Dia menunduk untuk memberi hormat pada guru yang bertugas sebelum berlari ke arah kantin. Meninggalkan Ananta yang tertawa semakin lebar melihat Alana berlari kecil meninggalkan kelasnya.
Sampai di kantin Alana memesan nasi goreng. Dia akan memesan gado-gado untuk Gea dan makanan lain untuk Ananta saat sudah hampir waktu istirahat nanti supaya tetap enak di makan.
Tapi hari ini kan berbeda. Mungkin nasi goreng akan jadi menu favoritnya selama hari-hari ujian. Itu pun kalau dia bisa keluar duluan seperti hari ini.
Wangi nasi gorengnya memenuhi seluruh kantin, membuat Alana semakin lapar. Es jeruknya sudah habis separuh selama dia menunggu makanannya matang. Huft, memang harus banyak-banyak bersabar supaya dapat makanan enak.
Baru setelah nasinya matang Alana mulai memesankan gado-gado dua dan satu bakso. Dia sudah mengamankan empat kursi di kantin. Jadi dia bisa makan dengan tenang.
Beberapa lama kemudian Gea dan Rara datang bersama menghampiri Alana. Sedikit mengeluh karena ujian hari ini agak sulit.
__ADS_1
"wah. Alana jjang" ucap Gea melihat gado-gado nya yang sudah siap makan. Alana sudah makan seperempat porsi saat mereka baru datang.
"benar-benar cuma Alana deh yang bisa begini." balas Rara. Anak-anak lain yang baru datang masih ribut memesan makanan dan mengantri, tapi makanan mereka sudah siap di santap. Sangat beruntung bukan.
Setelah Gea dan Rara ikut bergabung makan bersama, barulah ananta datang. Dia pasti memeriksa jawaban berkali-kali sampai-sampai keluar lebih lama dari biasanya.
"wah. Terimakasih, tapi sepertinya hari ini aku mau nasi goreng." ucap ananta melirik menu yang di makan Alana. Harumnya memang semerbak, dan terlihat masih hangat.
"mau? nih" ucap Alana menyuapkan satu sendok untuk Ananta. Ananta tersenyum senang menerimanya. Tapi akhirnya itu membuat Rara dan Gea iri juga. Mereka membuka mulut begitu ananta makan satu sendok. Alana berubah menjadi ibu-ibu yang punya anak tiga. Tapi ya sudahlah, asalkan yang lain senang Alana juga ikut senang kan.
"lagi" ucap Ananta dengan agak tidak tahu diri.
"nggak. Makan baksonya atau aku marah" ucap Alana. Dia hanya berbaik hati untuk satu sendok. Selebihnya kalau mau harus antri dan beli sendiri. Ananta hanya tertawa, Alana semakin mirip ibu-ibu, tapi versi judes dan pelit.
"sayang Alana deh" ucap Rara merayu Alana barangkali dia bisa dapat suapan kedua kan.
"nggak. kalau mau lagi beli sendiri" balasnya. Nyatanya judesnya Alana tidak pilih-pilih, seorang Rara pun tetap tidak di beri pengecualian.
"Na... besok pesenin nasi goreng semuanya aja ya. Nasi gorengnya enak. Bintang lima. Pelayanan ramah." Gea tertawa senang memberikan dua jempolnya untuk Alana. Tapi Alana masih tidak tersenyum.
"aku bukan Grab food, bintang satu" balas Alana.
__ADS_1
"Alana pacar paling baik, cantik perhatian. Besok nasi goreng empat ya..." kali ini ananta yang ikut merayu. Dan tentu saja yang paling manjur.
"oke" jawab Alana singkat, membuat Gea dan Rara kesal bersamaan. Memang selalu saja, lebih spesial pacar dari pada teman sendiri, iya kan.