Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
enam puluh tujuh. terlalu aneh


__ADS_3

Mungkin Alana memang terlalu ketara dalam memperlakukan Arkan. Meski sedikit terlambat, dia ingin memperbaiki rasa bersalahnya dengan caranya sendiri. Siapa tahu, itu akan membuat Arkan merasa lebih baik.


Makan siang Arkan agaknya akan sulit di cerna. Alana sesekali memperhatikan dia yang makan dengan tidak nyaman. Belum lagi Ananta yang seperti menyembunyikan kecemburuannya karena perlakuan istimewa Alana padanya juga ikut melotot di sampingnya. Bolehkah seseorang menyelamatkannya sekarang?


"Nggak bakal ada yang rebut kan... makannya pelan-pelan aja." Ucap Alana yang justru membuat Arkan tersedak. Pergerakan Alana yang segera mengambilkan air juga justru menambah keruh suasana.


Arkan keheranan, alasan apa yang membuat makhluk satu ini berubah sikap menjadi aneh. Ya... Alana bersikap baik padanya itu aneh. Yang normal adalah Alana yang sesekali menjadi partner in crime nya. Alana yang suka sok-sok an membencinya karena terlalu akrab dengan Ananta. Lebih normal lagi Alana menjauhkan diri darinya karena kesal. Bukannya sedekat ini, apalagi memberikan perhatian berlebihan.


Sungguh, Arkan benar-benar mencintai Bella dan tidak punya pikiran sedikitpun untuk menggantinya dengan orang lain, apalagi Alana.


"Na..." panggil Arkan setelah meminum air putih yang diambilkan Alana. Dia harus menelan makanan sebelum mulai bicara.


"Aku beneran udah punya pacar." ucapnya lagi.


"iya tahuuuu. udah sana makan." balas alana. Bagaimana bisa lupa, Alana saja akrab dengan Bella berkat kecelakaan Arkan. Dia hanya mau memastikan kalau Arkan makan dengan baik, itu saja.


Berkat Alana dan Ananta yang mengawasinya makan, akhirnya Arkan baru menghabiskan sepiring nasi gorengnya saat bel berbunyi lagi.


"Aku sudah selesai makan. Ta... duluan ya" ucapnya segera setelah suapan terakhir. Dia belum selesai mengunyah tapi sudah buru-buru kembali ke kelas untuk menghindari bicara lebih banyak dengan Alana. Alana yang sekarang ini agak menyeramkan baginya.


"kamu kenapa sih na. Arkan jadi nggak nyaman makannya" tanya Ananta mempertanyakan apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"ini semua juga gara-gara kamu." balas Alana yang ikut pergi meninggalkan Ananta yang kembali ke kelas paling akhir. Apaaaa lagi kesalahannya sampai-sampai Alana jadi lebih sayang pada Arkan dari pada dia.


"Alana versi ini, lucu juga. Tapi aku tidak mau sering-sering melihatnya." bisik Ananta. Sedikit banyak dia tahu alasan kenapa Alana memperlakukan Arkan dengan baik. Alana ibarat menjaga permukaan kaca yang rapuh. Tanpa dia tahu, Arkan tidak Selemah itu. Tapi Ananta akan membiarkannya saja. Dengan begitu, Alana akan merasa lebih nyaman jika dia berusaha membalas Arkan dengan caranya. Ini seperti membayar hutang tak kasat mata yang hanya bisa di penuhi oleh orangnya langsung.


...****************...


"Akhirnya!!!!" teriak Gea terlalu senang saat melihat Arkan memasuki ruang klub. Ya... dia berteriak karena sesenang itu beban yang dia pikul akan kembali pada pemilik aslinya. Sumber utama kesenangannya adalah ini. Tapi dia juga lega bahwa Arkan sudah sembuh sekarang. Gea menepuk nepuk punggung Arkan agak keras sampai-sampai dia mengaduh kesakitan. Normal saja, karena Gea memukulnya agak keras jadi dia sedikit meringis.


"Gea... jangan keras-keras. Arkan kesakitan." ucap Alana mengingatkan. Kalimat singkat yang berakhir menerima tatapan sinis Gea. Hanya bercanda, tapi agak menyeramkan juga.


"heiii sejak kapan Arkan kesakitan karena dipukuli pelan begini" balas Gea menepuk punggung Arkan sekali lagi.


"Wajar saja dia kesakitan ge. Badannya kan habis remuk karena kecelakaan." kali ini Rara yang bicara. Ya... si tuan putri yang sekalinya bicara selalu menyakitkan. Efek putus cinta agaknya berimbas banyak pada sikap Rara yang tidak ragu lagi berkomentar sesukanya.


"hei... aku masih sekuat dulu ya. apa-apaan." Arkan tidak terima. dia semakin diremehkan saja gara-gara Alana.


"hummm masih kuat. ya udah gih bantuin ganti galon dispenser." tantang Gea. Yah... airnya memang habis. tapi Gea sengaja menghiraukan semua laki-laki lain yang ada di ruangan dan menyuruh Arkan yang baru saja sembuh itu agak berlebihan.


"tidak usah biar aku saja." ucap Alana menawarkan diri. Dia masih harus menjalankan tugas menjaga tubuh Arkan. Akhirnya Gea dan Rara melongo bersamaan. Sikap Alana memang di luar dugaan. Musuh bebuyutan yang berbaikan saja itu masih normal. Tapi ini... sampai membantu hal sekecil angkat galon itu baru aneh. Sangat tidak biasa. Mereka hanya mengamati Alana yang berjalan santai menuju dispenser yang terletak di sudut ruangan sebelum akhirnya Dewa datang entah darimana mendahului Alana mengganti galon berisi airnya.


"humph" Alana membuang nafas kasar melirik sinis ke arah dewa yang menatapnya heran. Sepertinya dia tidak berbuat salah, kenapa Alana marah padanya. Setelahnya Alana membuang muka. Dia kembali berjalan ke arah Gea dan teman-temannya yang menunggu dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


Alana tidak jadi mengganti galon, tapi Alana tetap jadi bulan-bulanan Gea karena sikap tidak biasanya itu. Gea saja sudah memeriksa suhu tubuh Alana dengan menempelkan permukaan tangannya ke dahi Alana. Karena Alana yang normal tentu tidak akan menawarkan diri seperti itu.


"Alana. sudah kubilang aku sudah punya pacar." ucap Arkan untuk kesekian kali. Tapi apakah Alana mendengarkannya? tentu saja tidak.


"berisik" dia hanya menjawab dengan satu kata itu sebelum mengalihkan perhatian ke tujuan awal mereka berkumpul di tempat ini. Untuk berlatih akting. Menghiraukan Gea yang masih tidak melepas pandangan darinya sama sekali.


"huft, aktingnya keren sih. Hampir aja aku percaya. Kamu akting kan na... jujur deh" ucap gea masih berusaha mengelak dan mencari pembenaran. karena alana yang dia tahu tidak akan sebaik itu pada arkan.


"apa sih, enggak." balas alana singkat. dia hanya sedang dalam misi, pikirnya.


"Hummm... dia tidak sedang akting sih, dia hanya gila." celetuk Rara. Yah tuan putri lemah lembut itu benar-benar sudah menghilang.


"ish. Arkan baru sembuh, aku cuma membantunya sedikit. Itu saja. Apanya yang aneh?" tanya Alana merasa Gea dan rara bersikap terlalu berlebihan.


"Aneh lah" ucap rara dan Gea bersamaan. Sosok Alana sudah benar-benar berubah di mata mereka hanya karena dia berniat membantu Arkan. Karena... semua orang tahu mereka lebih mirip musuh yang berteman daripada sahabat baik yang saling menolong.


"Arkan... mau minum nggak?" ucap Alana menyodorkan botol air mineral di tangannya yang masih bersegel. Dia belum meminumnya sama sekali. Arkan menggeleng panik mendengarnya.


Gea segera bergerak mendekat menangkup dua pipi Alana di tangannya


"kamu kenapa sih. Salah makan? atau Arkan guna-guna kamu? perlu aku bawa ke dukun sakti biar kamu balik jadi Alana yang dulu nggak?" ucapnya gemas. Padahal selama liburan Alana normal-normal saja. Apa dia terlalu stres karena kembali ke sekolah jadi berubah begini?

__ADS_1


"Sudah-sudah. biarin aja ge. nanti juga dia bakalan berubah jadi normal lagi." balas rara yang memberi respon paling normal di sini. Iya, Rara... bukan arkan yang menatap takut pada Alana sejak detik dia hadir di ruangan ini.


"Na... cepat balik jadi Alana yang dulu!" ucap Gea lagi


__ADS_2