Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
empat puluh satu. ditinggal


__ADS_3

Hari ini alana masih harus ke rumah sakit lagi, sudah lama dia absen dengan izin resmi. Setelah Ananta siuman, proses pemulihan kondisi Ananta masih butuh waktu yang cukup panjang. Ayahnya bilang masa pemulihan itu bisa 4 sampai 6 minggu.


Tapi tidak peduli berapa lama dia akan selalu mendampingi Ananta, meski setelah satu minggu berlalu dia tidak menunggu di rumah sakit secara penuh, tapi bergantian dengan ibu Ananta.


Seperti hari ini, dia baru datang karena ibu Ananta memberinya waktu untuk pulang ke rumah atau asrama. Sebagai gantinya, wanita itu akan menjaga Ananta di rumah sakit.


Alana baru membuka pintu saat Ananta dan ibunya menoleh dengan kaget sebelum tertawa kecil. Alana penasaran, apa mereka membicarakan dirinya? kenapa respon mereka seperti itu.


"selamat datang alana" sapa wanita itu dengan ramah. Sekarang dia tidak bisa menahan senyum di wajahnya yang terlihat cerah.


"iya tante. Ini aku bawain makanan, sama puding dari ibu" balas alana, kali ini dia pulang ke rumah untuk mengambil beberapa baju yang lebih nyaman. Dia tidak memberitahu ibunya kalau dia akan pulang, tapi saat sampai di rumah ibunya sudah menyiapkan banyak barang untuk dia bawa ke rumah sakit.


"kasih tahu ibu kamu ya... titip terimakasih dari tante" ucapnya. Alana menatap Ananta yang masih tersenyum.


"iya tante, Alana sampein nanti" balas Alana sebelum menoleh ke arah Ananta yang masih tersenyum kecil.


"kenapa senyum?" tanya Alana penasaran. Mereka ini senang karena dia datang atau menertawakannya sih? lebar sekali senyumnya.


"seneng aja ada kamu" ucap Ananta dengan manis. Hei, sejak kapan ananta suka bersikap manis. Alana pasti sudah berteriak andai dia tidak sedang diamati oleh dua orang di depannya.


"nggak percaya, kenapa sih. Ngetawain aku ya?" balasnya menolak mengakui kalau dirinya sudah tersipu dari tadi.


"enggak... beneran."


"huft, kalau nggak mau kasih tahu ya sudah." balas Alana, dia mau merajuk sebenarnya. Tapi tidak bisa, karena dia datang juga tujuannya buat merawat Ananta.


"Alana. Karena kamu sudah disini tante pulang dulu ya, sebentar aja" pamit ibu ananta. Tidak biasanya wanita itu pamit secepat ini, harusnya mereka makan bersama dulu baru berganti shift.


"kok buru-buru tante" balas Alana masih dalam nada yang sopan.

__ADS_1


"iya biar kalian ada waktu berdua. Udah ya... Ta, ibu pulang dulu" ucap wanita itu dengan cepat meninggalkan Alana yang hampir melongo. Ada apa dengan ibu dan anak ini sih. Kesal sekali.


"kenapa senyum!" tanya Alana sekali lagi dengan nada yang lebih tinggi. Namun kali ini ananta hanya menggeleng, tidak menjawab apapun.


"mau makan puding" ucapnya menirukan anak kecil. Harusnya ananta itu di beri titel anak, bukan pacar. Dia sering berubah jadi manja begitu kalau ada Alana. Padahal kalau Alana mengintip saat bersama ibunya dia tidak pernah bersikap seperti itu.


Alana hanya menuruti, tangannya sibuk mengambil puding yang dibuatkan ibunya ke dalam piring kecil lalu menyodorkannya di depan Ananta.


"mau di suapin boleh?" tanya Ananta sekali lagi.


"yang habis operasi itu dada kamu, kenapa yang nggak berfungsi tangannya." jawab Alana dengan ketus. Meski menjawab begitu Alana masih saja menuruti dan menyuapkan suapan besar untuk Ananta, untung saja dia tidak tersedak.


"makasih" ucap Ananta tersenyum lebar. Entah, dia terlihat sangat bahagia hari ini. Dia menghabiskan puding hampir separuh dari yang Alana bawa.


"pudingnya enak." ucap Ananta di sela-sela makan. Dia mau menghabiskan semuanya.


"iya lah. tinggal makan." balas Alana dengan ketus. Sebenarnya dia juga heran dengan dirinya sendiri kenapa mau saja dikerjai Ananta seperti ini. Tapi ya sudahlah, lagipula dia masih sakit.


"aku nggak makan" balas Alana.


"iya iya... nemenin makan." lanjut Ananta.


Selang beberapa lama, pintu ruangan Ananta di ketuk oleh seseorang. Ada Bella yang datang, membawakan satu keranjang buah-buahan yang di tata dengan cantik.


"halo kak" ucapnya menghampiri Alana dengan riang. Tapi dia tidak bisa langsung memeluknya, karena Alana masih memegang piring. Alana membalasnya dengan senyum singkat. Sedikit malu karena dia barusan masih menyuapi Ananta.


"yang sakit nggak di sapa nih?" tanya Ananta yang hanya bisa melihat sambil menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang rumah sakit.


"hehe... iya, halo juga kak Ananta." ucapnya, jarak usia mereka tidak banyak, tetapi Bella ini suka memanggilnya kakak akhir-akhir ini. Melihat tangan Alana yang masih sibuk, Bella meletakkan bawaannya di meja.

__ADS_1


"bagaimana kabar kak Ananta? sudah baikan?" tanya Bella, Ananta mengangguk pelan.


"sudah lebih baik, bisa makan enak juga" ucapnya merasa bahagia karena sebelumnya beberapa hari dia hanya bisa minum susu yang sangat tidak ramah di lidah.


"hmmm, syukurlah kalau begitu." balas Bella.


"Arkan? sudah baikan?" Ananta balik tanya, karena akhir-akhir dia jarang mendengar Alana cerita tentang Arkan gara-gara sibuk merawatnya.


"sudah, tapi proses penyembuhannya lama. Jadi masih harus sabar nungguin dia sambil bolak-balik ke rumah sakit deh" Bella menghela nafas. Seperti sebelumnya, keadaan mereka mirip, hanya beda penyakit saja.


"maaf ya, belum bisa menengok ke sana" ucap Alana. Kali ini dia tidak sering datang bukan karena rasa bersalah lagi, tapi karena dia sudah terlalu sibuk hanya dengan merawat Ananta. Beberapa hari yang lalu Ananta mulai mengeluh gatal di bagian jahitan, jadi Alana harus ekstra mengawasi Ananta supaya tidak menggaruk di bagian yang luka.


Ananta juga masih harus minum obat setiap hari untuk mempercepat pemulihan kondisi tubuhnya. Jadi yah, Alana sangat sibuk.


"iya kak... nggak apa-apa. Ini juga aku baru bisa kesini sekarang" balas Bella.


"semoga kak Ananta sama arkan bisa cepet pulih ya. jadi bisa balik sekolah lagi kayak biasa." lanjutnya menghadap penuh ke arah Alana.


"iya, makasih..." balas Ananta yang tidak dilirik sedikitpun, sedikit kesal karena kalau sudah bertemu mereka seperti tidak menganggap keberadaannya.


"Bella mau puding?" tanya Alana disambut anggukan cepat oleh Bella. Alana mengambil dua piring puding untuk mereka makan bersama di sofa yang disediakan. menyamankan posisi untuk ngobrol lebih banyak.


"Alana aku mau pudingnya lagi" ucap Ananta yang hanya sebuah alasan. Dia sudah kenyang, tapi dia kesal karena ditinggalkan sendirian di atas tempat tidur.


"enggak. kamu udah makan banyak" balas Alana melanjutkan obrolannya lagi.


"iya deh huft, aku harus sembuh biar nggak ditinggal sendiri mulu sama yang jaga. kasihan banget sih... udah sakit nggak ditemenin" ucap Ananta agak keras, sengaja supaya Alana mendengarnya. Tapi Alana masih masa bodoh, dia mau makan dulu sekalian istirahat. Lagian, dia tahu Ananta cuma bercanda. Dia memang mirip anak kecil sejak habis operasi.


"kak..." panggil Bella, tersenyum kecil melihat tingkah Ananta.

__ADS_1


"Ananta memang lebay gitu ya?" tanya Bella tidak bisa menahan ketawa.


"iya, biarin aja. Udah biasa kaya gitu" balas alana, meski sesekali dia masih melirik Ananta yang akhirnya mengambil buah di atas nakas kecil yang bisa dijangkaunya sendiri.


__ADS_2