
Arkan sudah membuat janji pada Bella tapi pada kenyataannya, mereka tetap belum bisa bertemu dalam waktu dekat. Setidaknya Arkan harus menunggu tubuhnya pulih dan bisa duduk dengan benar sebelum pergi kemanapun. Salahnya sendiri mencari kesulitan saat tubuhnya dulu baik-baik saja. Yah, dia akui pikiran konyolnya saat itu benar-benar sangat bodoh. Tapi yang sudah terjadi hanya bisa disesali, sekarang dia hanya bisa menunggu tubuhnya pulih kembali.
Setelah beberapa minggu berlalu, keadaan mulai membaik satu persatu. Ananta masih harus dipantau penuh sampai tiga bulan ke depan. Tapi dia sudah di izinkan pergi ke sekolah tiga minggu lagi. Yah, tiga minggu yang sangat lama untuk Ananta dan Alana. Sekarang rasanya Alana membenci waktu yang terasa berjalan lambat.
Alana sendirian di sekolah, Arkan dan Ananta tidak masuk, dan di kelas dia benar-benar sendirian. Salah sendiri juga tidak mau berteman dekat dengan siapapun di ruangan itu, jadinya dia hanya sekedar saling sapa saja dengan teman-teman lainnya tanpa bisa mengajak bicara lebih banyak.
Kalau boleh dibilang, sekarang ini Alana sedikit kesepian. Dia masih belum terbiasa meski sudah menjalaninya begitu lama. Biasanya dia akan buru-buru mencari arkan atau Ananta saat waktu istirahat datang, sekarang keduanya tidak ada di sana. Sekolah tanpa ada mereka itu tidak menarik lagi.
Alana membeli roti sandwich siang ini, memakannya sedikit di kursi kantin bagian paling pojok untuk menyendiri. Hanya begitu selama beberapa menit sampai akhirnya Gea dan Rara datang menghampirinya. Mereka ini jadi terlalu rajin mencari Alana tiap saat, padahal kelas mereka dan kelas Alana saja berada di dua ujung yang berbeda di sekolah.
"hmm liat tuh temenmu. Galau mulu padahal kemarin baru ketemu pacar." ucap Rara yang tiba-tiba berubah menjadi si ratu gosip, meski itu tidak bisa benar-benar di sebut gosip karena bicaranya di depan orangnya langsung.
"adudu si imut kenapa lagi nih" tanya Gea mencubit gemas pipi Alana sampai kemerahan. Meski tidak terasa sakit tetap saja membuat Alana sedikit risih.
"haaaa... badmood" kesal Alana. Gea dan Rara saling pandang sebelum menatap ke arah Alana lagi dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"nggak mungkin putus dong" ucap Rara sedikit berbisik meski itu masih keras sekali. Tangannya menempel di dagu seolah sedang mengamati sesuatu dan menerka dengan otaknya yang tiba-tiba penuh imajinasi.
"alah paling marahan doang sih" balas Gea yang terasa lebih masuk akal. Dia menanggapi dengan santai, karena yang dibicarakan adalah Alana dan Ananta. Dua pasangan yang hampir tidak mungkin putus kecuali Tuhan yang memisahkan. Kemarin juga saat keduanya bertemu mereka terlihat baik-baik saja, tapi entah bagaimana hari ini sudah uring-uringan begini.
"iya marahan, kenapa mau diledekin?? biar tambah kesel sekalian!" ucap Alana sedikit bernada tinggi. Sandwich yang tadinya akan dimakan sekarang tergeletak di meja. Kalau sedang mode kesal begini siapapun yang ada di hadapannya akan menjadi musuh bagi Alana.
"ish Alana. Kita nggak sejahat itu tau" protes Gea.
"kenapa sih.. sini cerita" Rara bicara dengan nada agak menuntut. Alana versi galau ternyata cukup menyeramkan juga untuk hatinya yang lemah lembut.
"nggak kenapa-kenapa sih. Aku sendiri bingung dia marah kenapa. kayaknya sih gara-gara arkan. Yang pasti sekarang tiap aku telpon dia nggak mau angkat. chatnya juga ga dibales. kesel banget. Apa bolos aja ya. pengen aku dobrak ke rumahnya" ucap Alana panjang lebar sudah seperti kereta yang tidak bisa disetop.
"heh jangan" panik Gea. Alana ini sudah punya surat izin panjang sekali karena menjaga Ananta di rumah sakit, kalau sampai bolos juga kemungkinan besar dia tidak hanya akan berakhir di hukum saja, bisa-bisa dia tidak naik kelas. Beruntung Alana punya teman-teman yang cukup perhatian untuk mencegahnya melakukan hal-hal gila.
"coba telfon pake nomor lain na. barangkali di angkat." ucap Rara dengan bijak. Sisi mengejutkan yang tidak pernah mereka sadari adalah meski terlihat pendiam dan anggun, nyatanya Rara lebih pandai dalam hal hubungan. Yah, meski pacarnya yang terakhir bukan orang yang pantas untuk dia, tetap saja dia yang paling berpengalaman di antara mereka bertiga.
__ADS_1
"iya juga. Berguna juga pengalaman Rara pacaran sana sini" ucap Gea spontan. Kalau masalah percintaan dia tidak bisa memikirkan hal-hal seperti itu karena dia sendiri belum pernah mengalami. Harusnya Gea bersyukur, dewa menyukainya terlepas dari penampilannya yang bisa menakuti Laki-laki itu.
"Heh. kamu bikin aku kelihatan jahat aja. Aku bukan playgirl tau, mereka aja yang nggak pantes buat aku makanya sering putus." balas Rara kesal.
"iya iya maaf. Aku bermaksud memuji tadi. Uri Rara jjang" Balas Gea.
"sudah-sudah, jadi aku menelfon Ananta pakai nomor siapa?" tanya Alana. Benar juga, kalau tujuannya hanya mau bicara dengan Ananta, cara ini bisa di coba. Kalau beruntung, nanti Ananta akan mengangkat tanpa curiga penelponnya adalah penipu atau telpon spam.
"nih, punyaku boleh" Gea menyodorkan Handphone nya yang bercasing serba hitam dengan handgrip yang juga serba hitam, tapi benda itu memiliki ornamen tengkorak yang sedikit lucu di beberapa bagian. Ananta belum menyimpan nomor Gea, jadi telpon yang masuk akan terdeteksi sebagai anonim.
"oke" Alana memasukkan nomor Ananta ke handphone Gea lalu menelponnya langsung. Dia sedikit cemas saat dering telpon terdengar cukup lama, dan akhirnya.
"halo" itu suara Ananta. Laki-laki menyebalkan yang bahkan tidak membaca pesannya sama sekali sejak tadi malam.
"tuh kan. kalau aku yang telpon nggak mau angkat. kalau orang lain langsung diangkat Nanta nyebelin. Awas saja kalau pesanku tetap nggak dibaca. Aku bakal benci kamu selamanya" ucap Alana begitu mendengar suara yang akrab di telinganya itu. Dia langsung menyerbu Ananta dengan rentetan kekesalan sebelum menutup telpon secara sepihak. Haruskah dia marah kepada Ananta? kali ini sikapnya memang menyebalkan sih, walau sebenarnya hal seperti ini sudah sering terjadi. Biasanya dia yang akan mengalah karena keadaan Ananta. Tapi kali ini rasanya di mau beneran marah saja biar kapok.
__ADS_1
Gea dan Rara saling tatap lagi, Alana benar-benar bisa menyeramkan kalau sedang marah. Jadilah Gea mengelus punggung Alana supaya mereka tidak ikut kena marah juga. Si imut kecil ini ternyata masih punya jiwa macan juga, padahal berhadapan dengan Ananta, lain halnya kalau dengan arkan, Alana memang sering menjadi mode macan karena arkan yang usil. Sekarang mereka harus bicara dengan hati-hati supaya tidak kena marah juga.