
Hari ini alana sibuk menata beberapa makanan di tas besarnya. Dia sudah menyiapkan dua tas, satu untuk makanan saja dan satu untuk perlengkapan, baju dan lain-lain. Sepertinya yang dia bawa akan lebih banyak makanan daripada barang pribadi atau barang penting lainnya.
Untuk perlengkapan kemah, biar Ananta yang mengurus. Dia sangat bisa di andalkan kok. Jadi alana bisa bersantai memikirkan makanan dan barang-barang menarik yang bisa dia keluarkan nanti.
Kalau tentang agenda yang satu ini alana memang paling semangat karena dia yang memintanya sejak awal. Makanya dia sudah sibuk sejak pagi, tidak bermalas-malasan seperti saat di ajak ke tempat yang tidak dia sukai.
Masih pagi dia sudah ribut di grup chat, memastikan semua orang setuju untuk pergi. Mengingatkan hal yang sama berkali-kali sampai yang menjawab sudah malas menanggapi.
"Jangan lupa hari ini kita camping. bawa makanan yang banyak dan semua harus ikut" tulisnya di grup dadakan yang berisi Alana, Ananta, gea, dan Rara. Arkan, jelas dia tidak bisa ikut dulu. Mungkin nanti Alana akan pamer kalau ada waktu. Kalau ingat juga sih.
Gea yang terlampau sabar masih menanggapi sedikit dengan stiker lucunya bergambar orang yang lelah. Ya, semuanya sedang lelah melihat tingkah Alana yang terlalu semangat itu. kalau melihat chat di atasnya, kita akan tahu kalau Alana sudah mengatakan hal yang sama berkali-kali.
"aku tunggu di depan." balas Ananta, tidak menanggapi chat Alana sebelumnya. Yah, dia punya prinsip kalau orang lain sudah menjawab dia sudah terwakili, lagipula responnya mungkin akan sama saja.
Membaca pesan itu, Alana segera membawa dua tasnya ke lantai bawah. mereka akan berangkat dari asrama dengan mobil Gea. Jadi Ananta menunggu di depan asrama bersama yang lain.
__ADS_1
Dia benar-benar menjadi satu-satunya laki-laki di grup mereka. Ananta hanya bisa berharap orang-orang tidak akan menganggapnya aneh karena bergaul dengan banyak perempuan.
Andai saja ada Arkan mungkin keadaannya akan sedikit lebih baik. Tapi membawa arkan malah akan menambah bebannya untuk sekarang ini karena arkan belum bisa berjalan dengan benar.
Baru kali ini keberadaan arkan terasa sangat penting buat Ananta. Mengingat pacar menggemaskannya ini pasti akan selalu menyeretnya kemana-mana. Jadi dia butuh orang untuk sekedar menormalkan suasana supaya tidak dikatakan aneh karena berkumpul dengan geng penuh perempuan. Yah, Ananta pasrah saja. Dia terlalu menyukai Alana sampai rela mengikuti kemauannya begini. Yang penting Alana senang kan.
Alana tersenyum cerah melihat Ananta sudah ada di lobi depan, tidak boleh masuk tentu saja. Ini asrama perempuan. Dan seperti dugaan, Ananta membawa barang-barang yang lebih penting dan lebih diperlukan untuk camping. Mereka tidak akan menginap sih, tapi tetap saja butuh banyak hal.
"Seneng banget?" tanya Ananta begitu Alana sampai di hadapannya. Alana mengangguk.
"hmmm. seneng banget. makasih udah ikut." balas Alana. Senyum manis semacam ini, bagaimana Ananta bisa menolak? tentu saja tidak bisa... sekalipun jiwanya lebih ingin tiduran di rumah tanpa melakukan apapun.
Berbeda dengan Gea yang suka menjelajahi tempat apapun. Dia sama semangatnya dengan Alana. Awalnya tidak ada yang mengira kalau mereka akan secocok ini dalam hal suka pergi ke mana saja. Nyatanya mereka seperti berbagi pikiran yang sama dalam banyak hal.
Bahkan sepanjang jalan Alana dan Gea menyanyikan lagu yang mereka sukai saat Ananta hanya bisa duduk di pojokan sambil mengamati Alana yang riang. Rara? jangan tanyakan... dia sudah tidur sejak tadi karena perjalanan mereka masih sangat lama.
__ADS_1
Mereka berangkat pagi dan sampai di lokasi agak siang. Angin segar menyerbu disertai hawa dingin yang tidak pernah hilang. Bahkan ada sedikit kabut saat mereka mulai melihat perbukitan dari dalam mobil tadi.
Setelah sampai, Ananta dan Gea yang sibuk untuk membangun tenda. Alana membantu memegangi saja, karena dia malas mempelajari caranya. Dia suka menikmati alam, tapi dia tidak sesuka itu untuk mempelajari hal rumit seperti ini. Kan dia punya ananta yang siap membantu segalanya. Jadi setelah tenda mulai berdiri dia minggir bersama Rara memakan snack dari tasnya yang sudah di letakkan di atas tikar bersama dengan kompor portable dan peralatan lainnya dari tas Ananta dan beberapa milik Gea.
"bukannya kita tidak akan menginap. Kenapa harus repot bangun tenda sih" ucap Rara yang menonton Gea sibuk dengan tendanya.
"Biar suasananya seperti kemah. Lagipula kamu tidak berhak berkomentar karena sepertinya kamu yang akan tidur di sana lebih dulu" balas Alana melihat Rara yang terlihat sangat malas melakukan apapun dan bisa jatuh tertidur kapan saja.
"huft, tidak. Mungkin aku perlu menghirup udara disini juga biar bisa berkepala dingin seperti kalian." Rara berbalik menatap bentang bukit di depannya. Anehnya dia benar-benar nyaman, meski sedikit mengantuk juga. Dia merasa seperti sedang di peluk oleh alam dan menemukan kedamaian. Sesuka-sukanya dia dengan damai kota, nyatanya saat bertemu langsung dengan angin segar alami dia terbuai juga.
Berdiam lama menatap hamparan hijau ini nampaknya tidak buruk juga. Asalkan ditemani makanan ringan dan makanan enak lainnya yang akan mereka masak nanti. Ditambah lagi orang-orang yang bersamanya sekarang bisa disebut sebagai safezone juga. Tempat bercerita sekaligus menyadarkan kepala yang aman.
Di tempat ini, suara berisik dan kekhawatiran terasa senyap untuk sementara waktu. Masalah perasaan atau apapun itu, biarkan mereka menunggu saat dia kembali nanti. Untuk sekarang dia mau diam, dan bernafas... suara yang dia dengar hanya berisik Gea yang mengeluh kelelahan dan Alana yang tidak berhenti berencana memasak makanan nanti.
"huft sudah selesai tuan putri" ucap Gea yang gemas karena sejak tadi dua temannya ini hanya menontonnya yang bekerja keras.
__ADS_1
"terimakasih kerja kerasnya" balas Alana tersenyum menyodorkan snack di tangannya yang dia rebut dari Rara. Sedangkan Rara membuka satu bungkus lagi. Gea mengambilnya meski sebenarnya dia tidak terlalu tertarik.
Akhirnya Gea punya waktu untuk duduk sebentar setelah beberapa lama membangun tenda yang akan segera dibongkar lagi nanti sore. Yah, sudahlah... ini semua demi menyenangkan sahabat manisnya itu. Salah Gea juga menjanjikan hal yang membuatnya lelah sendiri. Lagipula, menjelajahi alam tidak pernah mengecewakan baginya, dia tetap senang juga sudah menuruti Alana untuk pergi kesini.