Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
enam puluh satu. Kejutan yang terduga


__ADS_3

Pementasan drama mereka dilakukan hari ini. Tepat sehari setelah pemeran utamanya memiliki perasaan yang buruk. Gea terus mencuri pandang pada Rara yang sudah memakai kostum. Dia sebagai pengarah tidak bisa berbuat banyak kalau sudah hari pementasan. Hanya bisa berharap emosi Rara kemarin tidak terbawa sampai di atas panggung. Berhasil tidaknya hari ini akan bergantung pada Rara juga.


"Na, jagain Rara terus. Dia nggak kenapa-kenapa kan hari ini?" tanya Gea. Yah, alana juga ikut menjadi aktor, jadi dia bisa lebih dekat dengan Rara di banding Gea yang akan berada di belakang panggung saja.


"aman. kita kan tau, dia si paling bisa pura-pura bahagia." balas alana, agak ironi memang. Mereka benar-benar harus bersenang-senang setelah ini. Harus.


"Ra. kalau ada kendala atau apapun langsung bilang ke kru belakang ya. semangat" bisik Gea pada Rara terakhir kali sebelum dia benar-benar meninggalkan mereka menyiapkan acara.


Rara terlihat lebih baik, dia bisa tersenyum menjawab Gea. Yah, kekhawatiran mereka juga percuma saja. Karena begitu melihat Alana dan Gea, dia tidak lagi memikirkan hal-hal yang menyakiti hatinya. Mereka juga mungkin hanya kaget, karena selama ini dia jarang menampakkan isi hatinya pada siapapun.


"rasanya menyenangkan punya orang-orang yang peduli begini" ucapnya lirih. Gea dan Alana tidak akan pernah tahu bahwa raut khawatir itu yang membuatnya baik-baik saja.


...****************...


Ananta melihat Alana sibuk lagi. Kali ini dia benar-benar tidak bisa terlibat untuk berada lebih dekat lagi seperti kemarin. Dia hanya bisa menonton dari jauh. Sekarang ini masih persiapan panggung sebelum acara utama yang akan di tampilkan hampir terakhir.


Ananta tidak memperhatikan penampilan yang lain, atensinya tertuju penuh pada Alana. Dia terus mengamati alana yang semakin terlihat lucu saat gugup. Dia tahu alana selalu melakukan yang terbaik. Jadi meski Alana terlihat seperti itu dia tidak terlalu khawatir. Ananta percaya, Alana bisa melakukanya dengan baik.


Di sisi lain Rara terlihat serius, sama seperti Gea. Berbeda jauh dengan Alana yang memang baru ikut pertama kali, Rara dan Gea memang terhitung lebih berpengalaman. Sehingga mereka bisa lebih tenang menghadapi situasinya sekarang.


Sepanjang pertunjukan ekor mata Ananta mengikuti pergerakan Alana. Dia tidak peduli yang lain lagi kalau sudah melihat Alana. Dan sesuai dugaannya, Alana melakukannya dengan baik. dia menjadi pemeran pembantu, tapi ekspresi dan pengucapannya termasuk baik meski baru ikut tampil pertama kali.


Setiap perjuangan tidak sia-sia kan. Emosi yang dia keluarkan sampai menguras tenaga dalam latihan latihannya terbayar hari dengan penampilan yang memuaskan.

__ADS_1


Rara sebagai pemeran utama juga melakukannya dengan baik. Nyatanya emosi sesaat yang sempat meledak kemarin tidak mengganggunya sama sekali.


Yang paling lega adalah Gea, pengarah panggung yang jantungnya terus berpacu cepat sepanjang pertunjukan. Dia hanya bisa mengontrol kondisi panggung, bukan emosi pemainnya jadi dia sangat khawatir selama pertunjukan berlangsung. Dia baru bisa bernafas dengan benar saat semuanya selesai.


...****************...


Setelah drama selesai, Ananta pergi ke belakang panggung untuk memberikan buket bunganya untuk Alana. Agak berlebihan sih, tapi ini juga bagian dari kenangan jadi dia mau membuatnya spesial saat di ingat nanti.


"Selamat ya. Panggung pertamanya berhasil." ucap Ananta. Dia berjalan lurus menuju Alana, padahal pemeran utama disini adalah Rara.


"uhuk-uhuk aduh batuk" ejek Gea yang agak gemas sekaligus iri.


"buat Gea juga ada kok. tuh dibawain sama Dewa" lanjut Ananta. Benar saja, dibelakangnya dewa membawa dua buket lainnya. Satu diserahkan untuk Rara, katanya itu dari arkan untuk pemeran utama hari ini.


Bunga yang Satunya lagi untuk Gea.


"ini dari arkan juga?" tanya Gea. Lalu tiba-tiba dewa memberi kode pada Ananta untuk tutup mulut, karena dari gesturnya sekarang Ananta seperti akan mengatakan sesuatu.


"huft, aku yang bayar" ucapnya berbohong, tentu saja dari dewa. Bagaimana bisa Gea percaya kebalikannya.


"kamu beli buat Gea juga" balas Alana. Anak manis itu tiba-tiba terlihat marah karena cemburu.


"nanti aku ceritain" balas Ananta. Dan begitu saja Alana tenang kembali. Lagipula gabungan Gea dan Ananta itu agak tidak mungkin di matanya.

__ADS_1


"udahlah, pokoknya terimakasih." balas Gea tidak mau banyak berkomentar.


"gaisss. Terimakasih buat kerja kerasnya hari ini. Nanti abis acara ada traktiran makan sepuasnya dari arkan. Jangan ada yang pulang dulu. oke" panggil Gea agak keras hingga lima belasan orang kru club drama mendengarnya. Mereka semua tersenyum senang, menjawab dengan serempak. Makan gratis, siapa yang tidak suka coba.


Setelah penampilan mereka ada satu hal lagi yang masih harus diperiksa. Seorang guru sudah memasang daftar siswa berprestasi dan ranking paralel di papan pengumuman, tapi belum banyak yang tertarik karena masih terfokus pada festival dan acara di panggung. Setelah tampil baru Alana teringat lagi dengan pengumuman itu.


"Ta... berani check ranking paralel??" tantang Alana. Dia masih yakin Ananta tidak termasuk dalam setidaknya 5 ranking teratas. Dia tidak tahu saja Ananta sudah meminta kesempatan mengerjakan semua ulangan harian yang dia tinggal untuk memenuhi kolom nilainya. Jadi, Ananta cukup percaya diri dia masih ada di paling atas.


"sekarang?" ucapnya terlihat agak ragu. Melihatnya Alana tersenyum menang bahkan sebelum dia melihat hasil yang sebenarnya.


"ayok" balas Alana menarik Ananta menuju papan pengumuman.


Begitu sampai Ananta mencari nama Alana, sedangkan Alana mencari nama Ananta di mulai dari rangking 10 ke atas.


Hanya 50 rangking saja yang di pasang di sana dan nama masih termasuk di kolom 10 terakhir. Alana berada di area yang sama dengan Gea paling atas, di susul Rara lalu Alana. Ananta tersenyum senang menemukan nama Alana ada di sana. Walau seharusnya Alana bisa berada dalam area sepuluh besar andai dia lebih serius belajar.


"kamu curang ya? ngaku. kamu nyogok semua guru kan buat kasih nilai" ucap alana. Dia masih menatap tidak percaya pada nama Ananta yang masih bertengger di nomor satu. Sedangkan si pemilik nama malah hanya tersenyum tipis menaikkan bahunya dengan gestur 'mana ku tahu'.


"jadi boleh minta hadiah?" tanya Ananta yang tidak lupa dengan janji Alana di hari Alana menjenguknya ke rumah.


"ish mau gimana lagi, terpaksa. Pokoknya jangan yang aneh-aneh." balas Alana agak cemberut. Dia tidak bisa menebak isi otak ananta. Kalau sudah mode jahil permintaannya pasti aneh-aneh.


"siniin tangannya" ucap Ananta. Dia menyuruh Alana membuka telapak tangannya menghadap ke atas. Alana hanya mengikuti dengan patuh sebelum akhirnya tersenyum lebar karena Ananta menggenggam tangannya setelah itu.

__ADS_1


"ada kamu di sampingku itu udah cukup" balas Ananta lagi. agak membuat geli memang. Tapi sudahlah. Alana sangat senang sekarang jadi dia akan mengabaikannya dan tidak berkomentar. Hanya tersenyum, sangat lebar.


__ADS_2