Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
tiga puluh dua. berbagi luka


__ADS_3

Ayah Alana pamit pergi setelah memberikan kabar yang entah baik atau buruk itu. Dia tidak ingin memperburuk suasana dengan tetap berada di sana. Rasa bersalah juga masih mengganggunya. Dia sungguh tidak tahu sebelumnya kalau orang yang membuatnya kembali mencari harapan untuk Ananta hidup normal adalah sahabat Ananta sendiri. Tapi sudahlah, harapan itupun juga sudah menghilang sekarang. Menyisakan dirinya yang kembali bekerja keras mengecek kondisi pasien UGD serta data potensial donor jantung yang ada.


Menyedihkan memang, ketika belum ada teknologi yang bisa menyelamatkan pendonor dan pasien dalam kasus penyakit jantung. Mereka hanya bisa berharap ada pasien kondisi khusus yang diperbolehkan menyumbang jantungnya untuk pasien jangka panjang seperti Ananta. Meski sebelumnya keajaiban yang dia harapkan tidak pernah terjadi. Ananta sudah menunggu sepanjang hidupnya hingga detik ini tanpa hasil. Tapi kembali lagi, tugasnya hanya berusaha sekeras yang dia bisa. Takdir tetap di tangan Tuhan, dan dia yakin Tuhan punya takdir terbaik untuk anak laki-laki yang sudah seperti anaknya sendiri itu.


...****************...


Alana kembali memakan kuenya meski terlihat jelas bahwa dia sedang pura-pura baik-baik saja. Dia tahu semuanya, sejak awal. Sejak sebelum ayahnya menyarankan prosedur itu untuk Ananta. Sejak dia tahu bahwa Arkan terdaftar sebagai pendonor jantung dia sudah berprasangka kalau jantung itu tentu untuk Ananta. Siapa lagi? pasien lain yang dia tahu sudah lebih dulu meninggal satu persatu. Ananta adalah pasien paling muda, dan dia sangat tahu bahwa tentu saja Ananta ada di antrian teratas data penerima donor berkat ayahnya.


"Alana." panggil Ananta yang sekarang menahan kue yang akan dia masukkan ke mulutnya. Dia menatap lurus ke dalam mata Alana, entah apa yang dia lihat di sana.


"apa? makan yang lain! ini punyaku" ucap Alana sedikit marah. Dia berusaha menyembunyikan segalanya, tapi tentu saja Ananta pasti orang pertama yang menyadari semuanya. Dia menarik tangan Alana untuk turun ke pangkuannya.


"bukan itu" ucap Ananta dengan nada serius. Boleh Alana kabur saja sekarang? Dia tidak tahan ditatap serius begini oleh anak laki-laki di depannya.


"lalu apa." tanya Alana masih mencoba berpura-pura. Dia ini tidak pintar berbohong, lihat saja sekarang dia sudah seperti salah tingkah. Membuat rasa bersalahnya terlihat semakin jelas.

__ADS_1


"aku tahu, kamu tahu segalanya. Tentang Arkan." Ananta berkata dengan perlahan, menahan buncahan perasaan di dadanya. Alana masih menunduk, memilih memperhatikan sepatunya dengan serius. Oh, ada banyak noda di sana. Lupakan. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk memperhatikan hal remeh ini.


"Tentang dia yang menjadi pendonor teratas." lanjutnya setelah menahan nafas beberapa saat. Ini sulit bagi Ananta, tapi dia juga tahu itu lebih sulit lagi bagi Alana yang memendamnya sendirian. Ini pasti penyebab Alana menangis sebelumnya.


"Maaf ya, Lagi-lagi kamu harus mengalami ini gara-gara aku" ucapnya penuh penyesalan. Setiap kalimatnya terasa berat kali ini. Harusnya dia bisa terus tertawa dan bercanda, jadi kalaupun hari-hari ini menjadi hari terakhirnya dia tidak akan memiliki penyesalan apapun. Tapi, dia tidak bisa membiarkan orang-orang di sekitarnya melakukan hal-hal jahat diam-diam hanya untuk menyelamatkannya.


"aku... aku jahat ya?" ucap Alana, kalimat itu akhirnya keluar dari mulutnya setelah dikuburnya dalam-dalam. Sudah, Alana tidak kuat menahannya dengan berpura-pura lagi. Hatinya terasa sakit mendengar Alana menyalahkan diri sendiri seperti ini. Ananta menggeleng pelan mendengarnya. Namun Alana ragu, Alana sendiri tidak yakin Ananta benar-benar tidak menyalahkannya. Dia merahasiakan semuanya. Tentang Arkan yang bisa saja berakhir menyumbangkan jantungnya buat Ananta. Tentang fakta bahwa mereka sempat tidak bisa menyelamatkan keduanya jika operasi itu terjadi.


"bukan salah kamu Arkan kecelakaan. Kamu bukan pelaku na. Kamu hanya pencari harapan, dan aku sungguh berterimakasih akan hal itu." lanjut Ananta. Entah. Semakin kesini dia semakin seperti pria bijak yang tumbuh dewasa. Padahal, jika diberi pilihan dia lebih ingin menjadi anak kecil selamanya.


"ya?" Ananta berkata lagi, mengharapkan jawaban dari Alana yang masih tenggelam dalam suasana suram.


"kalau enggak. nanti aku marah." lanjut Ananta sedikit bercanda, karena di akhir kalimat nya dia tertawa kecil. Meski suasana di sekitarnya masih serius seperti sebelumnya. Dia ini hanya menipu keadaan yang belum baik-baik saja.


"meski harus mati besok aku nggak mau punya penyesalan apapun." ucapnya kembali membawa suasana menjadi serius dengan kalimat yang dia ucapkan dengan ringan seolah tanpa beban. Alana tahu, meski bicara begitu Ananta tetap punya rasa takut. Ananta mengamati Alana yang akhirnya bergerak sedikit untuk meninju dadanya dengan ringan, sangat ringan sampai dia hanya merasakan tangan Alana yang menempel di dada kirinya yang tertutup baju rumah sakit.

__ADS_1


"kamu nggak boleh mati." ucap Alana dingin. Dia tidak mau Ananta mati, harusnya Ananta tahu itu. Harusnya dia menjaga perasaannya yang terus berharap dia bisa hidup lebih lama setiap harinya. Dia sudah bertahan sejauh ini, jadi jangan patahkan keyakinannya sekarang.


"aku sebenarnya juga takut." jawab Ananta. Matanya menerawang seolah sedang melihat sesuatu. Dia pasti sudah membayangkan hal-hal sedih lagi.


"Dulu pertama kali kita bertemu, kita menitipkan harapan pada Tuhan pada bulu dandelion kecil." ucap Ananta membayangkan masa kecilnya di halaman rumah sakit. Saat itu pertama kali Alana menghampirinya dan memulai pembicaraan dengan berani. Alana terus mengganggunya dengan kalimat-kalimat candaannya hingga membuatnya risih dan akhirnya mengamati Alana yang secara aneh juga menarik perhatiannya. Mereka terus bermain bersama sejak hari itu.


"Hari itu aku ingin meminta hidup yang lama dan penuh makna pada Tuhan. Dan aku percayakan semuanya pada-Nya."


"lalu Tuhan mengirim kamu ke hidupku. Alasan untuk aku hidup lebih lama. Alasan aku bernafas dan terus bangun di pagi hari." Ananta mengambil nafas panjang lagi dan lagi.


"sejak hari itu aku cuma mau kamu bahagia Na." lanjutnya, diakhiri tatapan yang dalam.


"bukan bahagia namanya kalau aku hidup tanpa kamu. kamu harus hidup supaya aku tetap bahagia." ucap Alana final.


"kalau begitu ayo bahagia dengan cara yang baik. jangan melakukan hal yang akan kamu sesali hanya gara-gara aku." Ananta masih menatap mata Alana lurus. Alana akhirnya mengangguk. Jujur, dia juga tersiksa sendiri karena berharap hal buruk untuk Arkan demi Ananta. Jadi kali ini dia akan setuju dengan Ananta.

__ADS_1


__ADS_2