
***
Ananta masih terisak di bahu Alana yang mulai basah. Sudah sedikit lebih tenang meski masih belum mau bicara.
"Ananta... Udah makan?" Tanya Alana, dia tahu andai menanyakan hal lain pasti berakhir tidak di jawab oleh laki-laki yang diselimuti hawa suram di hadapannya itu.
Ananta hanya menggeleng pelan di bahu Alana. Tangisnya sudah mulai berhenti menyisakan jejak air matanya saja yang kemudian di usap lembut oleh Alana.
"Arkan... Ada makanan?" Tanya Alana, arkan juga hanya menggeleng. Biasanya mereka akan beli makanan di luar tapi karena hari ini arkan buru-buru untuk menengok Ananta dia tidak sempat beli makanan.
"Bisa minta tolong beliin dulu?" Lanjut Alana memberi isyarat kalau dia akan mengganti uangnya nanti. Arkan mengangguk patuh dan segera keluar dari ruangan.
Ibu penjaga asrama masih di ruangan yang sama. Masih mengamati dua murid sma di depannya. Sekarang dia mengerti kenapa Alana berusaha keras menerobos dan meminta izin untuk pergi ke kamar Ananta.
"Ibu mau ke kamar mandi dulu sebentar." Ucapnya memberi ruang keduanya untuk bicara. Hanya sebentar tentu saja. Dia masih harus berjaga dan memastikan Alana baik-baik saja sampai dia keluar dari asrama laki-laki ini.
"Ananta..." Ucap Alana lagi memancing mulut Ananta yang masih rapat untuk berbicara.
"Hmm?" Ananta menjawab pelan suaranya sedikit teredam karena dia masih bersandar di bahu Alana.
"Kamu kan yang kasih roti di kelas kemarin" Ucapnya perlahan. Kepala Ananta di bahunya bergerak mengiyakan. Dia sedang mencari-cari topik untuk memancing Ananta menjawab pertanyaannya satu-satu.
"Aku tahu kamu peduli sama aku." Alana tersenyum bangga, rasanya lebih bahagia saat dia sudah memastikannya. Meski senyumnya agak tidak cocok dengan kondisi di sekitarnya sekarang. Dia menghempaskan senyumnya sebentar lalu mimik mukanya kembali berubah serius.
"Terus kenapa beberapa hari ini enggak mau ketemu aku?" Alana mulai menanyakan masalah mereka beberapa hari ini. Hari-harinya terasa aneh tanpa Ananta berkeliaran di depan matanya.
"..."
"Karena kak Fia?" Alana menebak Jawaban yang baru dia tahu dari ayahnya. Mendengar nama perempuan itu membuat Ananta meremat baju Alana di bagian punggung. Rasa sakit tak kasat mata tersalurkan hingga Alana seolah ikut merasakannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu enggak cerita. Padahal aku bisa temenin kamu." Alana mengeratkan pelukannya pada Ananta. Mencoba menenangkan anak laki-laki yang sedang berduka itu. Entah, rasanya ada hal lain yang membuat Ananta berduka selama ini.
"Kamu harus ikhlas biar kak Fia tenang pergi ke surganya." Ucap Alana mencoba menghibur Ananta meski dia tidak yakin jika kata-katanya tepat. Ananta mengangguk lagi dalam pelukannya.
"Na..." Ananta memanggil Alana dengan suaranya yang parau.
"Aku tahu aku butuh kamu." Ucap Ananta pelan, akhirnya mengeluarkan rasa sesak di dadanya sembari menahan sekuatnya untuk tidak menangis lagi. Dia benci terlihat rapuh di depan Alana meski nyatanya dia selalu terlihat begitu.
"Tapi aku egois karena selalu maksa kamu ada di sampingku karena kondisiku" Kalimatnya terasa menggantung, Alana menunggu dengan sabar meski mulutnya sudah gatal ingin menjawab Ananta. Sangat sulit membuat Ananta berbicara jujur dan terbuka seperti ini. Alana tidak mau kehilangan kesempatan lagi.
"Padahal aku bukan orang yang tepat buat kamu." Lanjut Ananta.
"Ta... Aku yang lebih butuh kamu tau." Jawab Alana tegas. Dia gemas dengan laki-laki yang dia cintai itu. Kenapa juga dia terus menerus merasa kecil padahal dia sudah menjadi orang paling berharga di hidup Alana.
Alana mengambil nafas panjang lagi dan menghembuskannya dengan kasar. Padahal dia sudah sangat sebal dan hampir frustasi gara-gara Ananta menjauh darinya. Tapi kenapa malah masalah seperti ini penyebabnya.
"Tapi karena aku suka sama kamu."
"Oke mungkin aku akan terdengar lebay. Tapi dari pertama kali lihat kamu, hatiku udah bilang kamu orang yang tepat." Terusnya tanpa sedikitpun menampakkan ragu.
"Aku juga." Ucap Ananta lirih. Dia menarik kepalanya dari bahu Alana, menampakkan matanya yang memerah sehabis menangis.
Baru sebentar menatap mata Alana lurus, Ananta kembali menyandarkan dahinya di bahu Alana. Rasa malu yang terlambat datang menyerbunya. Diikuti rasa canggung yang aneh padahal dia baru saja menatap Alana yang sudah dikenalnya bertahun-tahun.
Apa barusan dia mengungkapkan perasaan dan pemikirannya yang konyol pada Alana. Tiba-tiba otaknya terasa kosong, dia tidak tahu harus bicara apa sekarang.
"Sini... Aku mau lihat wajah kamu." Alana menjauhkan kepala Ananta dari bahunya untuk melihat wajah Ananta sekali lagi.
"Udah baikan?" Tanya Alana langsung. Ananta mengangguk pelan sesekali menghindari mata Alana dan tidak menatapnya langsung.
__ADS_1
Alana mengusap pipi Ananta yang basah dengan ujung lengan kausnya. Ananta beruntung wajahnya tidak membengkak meski baru saja menangis cukup lama. Hanya jejak air mata dan hidungnya sedikit memerah. Membuatnya terlihat baik-baik saja sekarang.
"Janji enggak akan sembunyi dan kabur-kabur lagi?" Ucap Alana mengeluarkan jari kelingkingnya. Ananta mengambilnya dengan sedikit ragu.
Ibu asrama kembali ke dalam kamar saat keadaan Ananta sudah lebih baik. Dia tersenyum canggung pada wanita paruh baya itu, sedikit merasa bersalah karena harus merepotkannya menunggui Alana di dalam asrama laki-laki.
Beberapa saat setelahnya Arkan datang membawa empat kotak makanan untuk mereka. Langkah kakinya yang tergesa memelan setelah melihat Ananta sudah duduk dengan sorot mata yang lebih baik.
Seperti dugaannya, Alana adalah obat ampuh untuk keadaan Ananta yang seperti orang depresi itu. Diapun membagikan makanan yang dibawanya.
"Harusnya Alana tidak makan disini kan..." Ucap Ananta melirik ibu asrama yang terlihat serba salah menerima kotak makanan dari arkan.
"Sudah biarkan saja. Semua gara-gara kamu tau" Serbu arkan merasa bisa memaki Ananta lagi dengan keadaan Ananta sekarang.
Arkan jelas kesal, jelas-jelas Ananta yang membuat mereka dalam kondisi ini.
"Sudah, tidak apa-apa. Yang penting kondisimu sudah baik-baik saja." Ucap Ibu asrama menengahi.
"Lain kali kalau ada kondisi seperti ini laporkan pada ibu, barangkali ada yang bisa dibantu sama orang dewasa. Paham?" Ketiga murid sma itu mengangguk patuh.
Di tengah rasa canggung, mereka makan bersama-sama di kamar Ananta. Sesekali saling melirik dalam diam. Setelahnya Alana pamit setelah memastikan Ananta benar-benar baik-baik saja. Dia mengelus rambut Ananta yang duduk tegak di atas tempat tidur.
"aku merepotkan ya? maaf" ucap Ananta yang tiba-tiba di serang rasa bersalah. Dia menahan tangan Alana yang masih berada di kepalanya. Tangan itu bergerak untuk mencubit pipinya.
"udah yang penting setelah ini nggak boleh begini lagi. kalau ada masalah dan nggak mau ngomong sama aku, setidaknya kamu punya Arkan, kamu punya orang tua kamu, kamu juga bisa bicara sama ayah. jangan terluka sendirian. ya?" ucap Alana hampir marah lagi. Senyumnya mengembang setelah melihat Ananta mengangguk patuh.
"kali ini aku beneran pamit, kita ketemu lagi besok." Ananta mengangguk lagi, setelahnya dia hanya menatap lekat punggung Alana yang berjalan keluar bersama ibu penjaga asrama, menyisakan dia dan Arkan sendirian.
"jangan ngeledekin gue dulu" ucapnya Buru-buru, di sambut tawa Arkan yang sangat puas itu.
__ADS_1