
"Sudahlah... tidak perlu khawatir. Mereka pasti lebih tahu bagaimana mengurusi masalah ini sendiri. Sesama laki-laki pasti akan berkomunikasi dengan lebih baik dibanding jika kita ikut campur." ucap Gea mengakhiri kekhawatiran Alana hari itu.
Alana tidak tahu kalau berbagi cerita pada orang yang dia percaya akan membuatnya se-lega ini. Dia tidak tahu apa Arkan akan benar-benar baik-baik saja... tapi rasanya dia mau percaya pada Ananta. Mereka sahabat, jadi harusnya Ananta bisa berbicara dengan arkan dengan lebih baik dibanding dirinya.
Meski dia masih tidak bisa menahan dirinya untuk tetap ingin tahu.
***
"Ta..." pesan singkat itu sudah dia kirim beberapa kali sejak pulang dari kafe. Tapi setiap kali Ananta menjawab Alana akan mengurungkan niatnya dengan bilang tidak jadi.
Alana sudah tau kalau sudah terlanjur membuat orang lain penasaran dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawabannya, tapi dia masih saja melakukannya.
"kamu kenapaaaa??" balas Ananta gemas. Alana bahkan bisa mendengar nada dari tulisan itu sekarang.
"maaf kalo aku terkesan masuk terlalu dalam di hubungan kamu sama arkan... tapi aku pengen tahu... kalian baik-baik aja kan." tanya Alana hati-hati. Segera setelah pesan itu terkirim Ananta menelfonnya balik.
"kok telfon sih" ucap Alana panik setelah memencet tombol untuk menerima telfon.
"ya kamu sih. udah terlanjur bikin gemes." balas Ananta.
"aku udah bilang kan. kalau ada sesuatu bilang aja... nggak usah ragu. kan nggak ada rahasia di antara kita berdua. kalo kamu tanya aku pasti jawab." Ananta bernada sedikit tinggi sekarang. Membuat Alana merasa perlu menjauhkan handphone sedikit dari telinga.
"dan lagi. Yang pacaran itu kita. Kamu bilang gitu kedengarannya kayak aku yang punya hubungan sama Arkan." ucapnya, sedikit konyol... tapi bagaimana lagi, dia sudah terlanjur kesal. Alana tersenyum tipis... ya kan memang mereka punya hubungan, persahabatan maksudnya.
"oke. Aku paham. Jadi bagaimana? kalian baik-baik aja kan?" tanya Alana akhirnya mengatakannya dengan jelas.
"Dia sudah mau bicara lagi kok. Barusan dia buka blokiran" ucap Ananta santai, seolah Arkan hanya mereda dari marah yang sementara.
__ADS_1
"huft, syukurlah kalau memang sudah baik-baik saja." Alana sedikit lebih tenang sekarang. Lihat kan, kalau komunikasi lancar masalah bagaimana pun bisa di atasi.
"Na... kamu lebih khawatir ke Arkan atau ke Ananta pacar kamu?" tanya Ananta yang tiba-tiba berubah menjadi mode jahil.
"ya ke..." jawaban Alana menggantung. Hah, dia terjebak.
"kok mikir dulu sih. Harusnya kan jawabannya sudah pasti." balas Ananta sedikit kesal. Kenapa dengannya hari ini? tingkahnya sangat kekanakan.
"yah, kalau dari kondisinya sekarang lebih khawatir sama Arkan... kan kamu udah baik-baik saja" jawab Alana. Tuh kan, Alana ini sudah berpindah hati.
"Oh, begitu. Lebih penting Arkan sekarang? oke" ucap Ananta sebelum menutup panggilan membuat Alana segera panik. Kan maksudnya bukan begitu.
Dia langsung menelfon Ananta lagi setelahnya. Berharap cemas saat panggilan tidak langsung tersambung. Masa begitu saja marah sih.
"kenapa..." ucap Ananta begitu panggilan tersambung.
"Sayang Ananta banyak-banyak. Banyaaak banget. jangan marah gitu dong." balas Alana panik.
"Ananta." panggilan terputus lagi. Dan kali ini Alana hanya memandang handphone nya dengan lemas. Sepertinya Ananta benar-benar marah kali ini.
***
Kalau Alana yang marah, biasanya Ananta akan datang membawakannya makanan kesukaan atau apapun untuk membujuknya. Tapi sekarang Ananta yang marah, dan mereka belum bisa bertemu membuat Alana frustasi karena tidak bisa melakukan apapun. Kenapa juga dia harus memancing amarah Ananta kemarin. Sekarang dia malah bingung sendiri karena perbuatannya. Dia baru bisa bertemu Ananta minggu depan lagi, pikir Alana frustasi.
"Arkan. tanggung jawab! gara-gara arkan nih aku marahan sama Ananta" tulis Alana dalam pesan singkat yang segera arkan baca tanpa sengaja. Huft, sudah lama Alana tidak menghubunginya dan sekalinya mengirim pesan langsung marah-marah. Apa lagi karena ulah Ananta yang seperti berubah menjadi kekanakan itu.
"heiii kenapa nih. Aku nggak tahu apa-apa. beneran." balas Arkan. Dia merespon seperti dia biasanya seolah kemarin tidak ada surat konyol yang membuatnya sedih dan senang secara bersamaan.
__ADS_1
"pokoknya ini gara-gara Arkan." tulis Alana lagi tanpa menjelaskan inti permasalahan. Sudahlah Arkan tidak mau susah payah mengerti permasalahan mereka. Toh biasanya mereka akan langsung baikan dalam beberapa hari.
"iyaa iya gara-gara aku. Nanti kita selesaikan kalau sudah bisa bertemu lagi." tulis Arkan menghiraukan pesan balasan setelahnya. Ada Bella yang duduk di depannya sekarang, jadi dia tidak mau terlihat tidak sopan dengan menghiraukannya terlalu lama, nanti dikira selingkuh lagi.
"sudah baikan?" tanya Bella yang sedari tadi mengamati tubuh Arkan. Perbannya sudah diganti lagi hari ini, jadi dia terlihat sedikit lebih baik dari sebelumnya.
"sudah." ucapnya singkat, tanpa menyadari Bella masih menatap matanya dengan tatapan yang dalam.
"beneran?" tanya Bella lagi. Arkan balas menatapnya. Lalu mereka saling bicara tanpa suara. Yah, mereka seperti mengerti tanpa harus mengatakan.
"iya... berkat kamu, Ananta, dan Alana..." ucap Arkan lagi dengan lirih. Kali ini sepertinya Arkan jujur. Mendengar bagaimana dia menyebutkan nama Ananta harusnya dia benar-benar sudah baikan secara fisik dan aspek lainnya.
"ngomong-ngomong, sepertinya mereka sedang marahan" ucapnya spontan. Dia ingin berbagi pikiran tentang pesan Alana barusan. Lagipula Bella juga mengenal Alana dan Ananta juga.
"benarkah? kenapa?" tanya Bella penasaran. Ini sudah terhitung kemajuan saat Arkan kembali membicarakan orang lain di depannya.
"sepertinya gara-gara aku. Mungkin aku harus meminta maaf nanti" Arkan tersenyum. Yah, dia tidak keberatan mengganggu hubungan Alana dan Ananta. Toh, itu sudah biasa terjadi. Asalkan mengganggu versinya tidak sampai tahap menghancurkan. Karena dia suka dia sahabat uniknya itu. Dia juga suka melihat mereka bersama, terlihat lucu dan terlihat... hidup.
"ayo bertemu mereka lagi. Aku kangen kak Alana" ucap Bella. Yah, saat Alana datang menjenguk Arkan, Bella sedang ada kegiatan jadi mereka tidak bertemu. Berbeda sekolah membuat mereka harus membuat janji bertemu barus bisa bertatap muka.
"nanti ya... setelah kakinya pulih biar kamu nggak kesusahan" ucap Arkan.
"yah, lama dong. kan keburu kangen" rengek Bella. Dia tahu pemulihan tulang yang patah memakan waktu sangat lama. Sama saja bohong kalau begitu.
"Aku nggak keberatan dorong kursi roda. Asal jalan-jalannya sama kamu" ucap Bella. Sejak awal bukannya dia sudah menunjukkan. Dia mau menerima Arkan apa adanya. Meski dalam keadaan hancur ataupun terluka dia akan tetap ada untuk Arkan. Karena cinta tidak memandang kesempurnaan.
"hmm terimakasih" balas Arkan singkat.
__ADS_1
"jadi... cepat-cepat buat janji sama kak Alana ya." balas Bella.
"iyaaa..."