
Hari-hari Ananta selanjutnya terasa lebih sepi dari biasanya. Meski benar-benar tidak marah, Alana tetap jarang bertemu Ananta hingga semester hampir berakhir. Alana selalu dalam kondisi yang sama, terlihat sibuk melakukan sesuatu yang tidak dipahami Ananta. Sesekali dia akan melihat wajah Alana seperti kurang tidur karena kantung matanya yang parah.
Alana terasa menjauh, meski sesekali mereka masih saling bicara dan mengobrol bersama. Pesan Ananta juga dibalas, namun Ananta masih merasa aneh dengan tingkah laku Alana.
"Alana, sedang apa?" pertanyaan seperti itu Ananta kirim hampir setiap hari namun hanya di balas jawaban pendek seperti makan, belajar, mau mandi, dan lain-lain. Alana jarang menceritakan hal-hal konyol seperti sebelumnya. Dia tidak lagi berusaha membuat Ananta tersenyum atau mencari perhatian dengan tingkah absurdnya.
Namun sebelum sempat memperbaiki hubungannya dengan Alana tanpa disadari Ananta, hari kelulusan sudah begitu dekat. Ujian-ujian yang memusingkan sudah berlalu, berkas dan tes masuk sudah dia persiapkan. Bahkan hasil tes sudah keluar, Dia berhasil diterima dan kini hanya tinggal menunggu hari kelulusan sebelum dia benar-benar akan berada jauh dari Alana. Waktu berlalu sangat cepat tanpa dia sadari.
Sampai hari ini pun kelas sibuk dengan persiapan kelulusan besok, semua orang mengurusi segala yang berkaitan dengan acara. Beberapa sudah membicarakan hadiah kelulusan dan hal-hal serupa. Namun Ananta justru menatap sendu ke arah Alana yang terlihat ceria.
Puk
Tangan Ananta menepuk pelan pucuk kepala Alana. Lalu mengusapnya pelan.
Dia mendekat lalu menggeser kursi yang di duduki Alana itu hingga menghadapnya. Setelahnya meletakkan dahinya di bahu Alana, membuatnya Alana duduk dengan kaku. Dia kaget tentu saja, Ananta jarang melakukan hal-hal begini, bersikap manja bahkan terlihat bergantung padanya. Ananta hanya diam untuk beberapa lama tanpa bicara apa-apa sedikitpun. Diam-diam Alana tersenyum, dia mengerti maksud dari sikap Ananta yang terlihat khawatir.
Ananta pasti gelisah sepanjang waktu. Gara-gara sebentar lagi akan berpisah darinya. 'salah sendiri, siapa suruh tiba-tiba sekolah di tempat jauh begitu' pikir Alana sambil tersenyum penuh arti. Kalo boleh memilih, dia tentu akan memilih tidak berpisah sama sekali.
"heh, kenapa?" tanya Alana menjauhkan Ananta dari pundaknya, 'kalau lama-lama begini capek juga, Ananta berat'. Ananta hanya menggeleng lemah. Sempat terpikir di otaknya untuk melakukan hal-hal konyol seperti membatalkan surat penerimaannya di sekolah baru, supaya dia tetap bisa bersama-sama dengan Alana. Lagipula, Alana adalah motivasi terbesarnya untuk tetap bahagia dan hidup sampai detik ini.
Mungkin semua orang akan bilang bahwa Alana yang tidak bisa berpisah dengan Ananta. Alana butuh Ananta, tapi yang tidak pernah mereka tahu, Ananta yang lebih membutuhkan Alana. Alana, sudah seperti alasan Ananta untuk hidup hingga detik ini, alasannya berjuang meski itu menyakitkan. Alana sepenting itu untuk hidup Ananta. Entah bagaimana Ananta menjalani hidupnya nanti tanpa Alana. Apa dia mampu bertahan tanpa mataharinya?
...****************...
Hari berlalu dengan cepat, acara perpisahan itu sudah dimulai beberapa menit lalu. Semua orang terlihat berbahagia kecuali Ananta yang justru menundukkan kepalanya. Perasaannya masih tidak enak. Rasanya hal-hal menyedihkan sudah terlihat di depan mata, bayangan saat dirinya berada jauh dari Alana. Hal itu membuatnya mengusap wajahnya frustasi.
__ADS_1
Lagu-lagu perpisahan yang dinyanyikan sekarang justru membuatnya semakin gelisah. Oh, dia hampir putus asa sekarang. Padahal, pergi dari Alana adalah keputusannya sendiri. Tapi dirinya juga yang menyesal lebih dulu.
Setelah acara perpisahan selesai. Ananta semakin gelisah saat dia tidak menemukan Alana di mana-mana. Hanya untuk berpisah dengan benar saja rasanya sangat sulit. Wajah orang tuanya yang tersenyum bangga itu tidak mampu membuatnya bahagia. Saat ini wajah Alana memenuhi pikirannya.
"Ananta, ayo kita makan di luar setelah ini. Kita harus merayakan kelulusan kamu" Ucap ibunya dengan wajah berseri-seri.
Tentu saja, anak kesayangannya lulus dengan nilai yang bagus dan diterima di sekolah elit. Hal itu tentu harus dirayakan.
"Sebentar ayah, ibu... Aku mau mencari seseorang dulu." Ucapnya meninggalkan kedua orang tuanya di gerbang sekolah yang masih menatap ke arah anaknya yang justru berlari menjauhi mereka.
"sudah, biarkan saja... dia pasti mencari Alana..." ucap sang ayah tidak lagi didengar Ananta yang sudah berjalan menjauh.
Ananta berbalik memasuki sekolah itu lagi. Matanya menelusuri kerumunan. Mencari gadis cerewet yang akan dirindukannya itu. Tapi setelah berkeliling agak lama dia masih tidak menemukan siapapun.
Buk!!
"Hei! Mencari siapa?" Ucap Alana lantang. Dia masih bertanya meski sudah mengamati Ananta dari jauh sejak tadi.
"Kamu." Mulut ananta mengerucut sedikit karena kesal. Apa-apaan. Kenapa Ananta bersikap manis begini. Batin Alana.
"Kenapa mencari ku?" Tanya Alana lagi.
Pembicaraan ini terasa canggung bagi Ananta, dia tidak menemukan kalimat yang tepat untuk dia katakan saat ini.
"Cuma..." Ananta menunduk, rasa yang aneh terus bertumpuk di dadanya.
__ADS_1
"Apa-apaan ekspresimu. Orang yang diterima di sekolah elit tidak boleh terlihat sedih seperti itu." Alana mendongakkan kepala Ananta hingga menatapnya lurus. Dia memarahinya seperti ibu-ibu di luar sana.
"Kamu harus merayakannya dengan keluargamu kan" Ucap Alana lagi, seolah mengintruksikan sebuah perpisahan. Ananta mengangguk lemah.
"Oke. Kalau begitu aku pulang duluan. Kamu harus segera pergi, mereka menunggumu." Ucap Alana lagi dengan tenang. Senyum nya tidak pudar sedikit pun, bahkan lebih lebar seolah dia sudah memenangkan sesuatu saat melihat Ananta yang seperti bersedih karena akan kehilangannya.
"Aku akan pulang setelah berfoto denganmu." Ucap Ananta yang menahan tangan Alana agar tidak pergi. Dia meminta tolong pada orang yang lewat untuk mengambil foto mereka berdua melalui kamera. Ananta berdiri dengan gugup disamping Alana. Hanya berpose beberapa kali sebelum Alana tersenyum puas melihat hasilnya.
Ananta juga melihat hasil foto mereka, dan itu membuat lubang di dada Ananta terasa melebar. Dadanya terasa sesak melihat wajah Alana yang tetap tenang.
"Sampai jumpa lagi" Ucap Alana, masih dengan senyum.
'setelah ini semua tidak akan sama lagi, kan.'
"Sampai jumpa lagi" Balas Ananta dengan lesu. Energinya sudah menguap begitu saja.
'apa kami benar-benar akan berpisah?'
Perpisahan memang selalu menyedihkan.
Tapi bukannya lebih baik begini? daripada kami harus berpisah dengan cerita pilu lain yang lebih menyedihkan.
...Ya... Ceritanya dengan Alana, Ini semua berakhir....
Kalimat itu terpaku di kepala Ananta bersamaan dengan langkah kaki yang membawanya keluar dari gerbang sekolah. Meninggalkan Alana yang masih melambai kecil ke arah punggungnya yang menjauh. Ananta tidak sadar kalau dari tadi Alana tersenyum penuh arti seolah menyembunyikan sesuatu dalam hatinya. Yah, di balik senyum itu Alana juga merasa kehilangan. sudah pasti. Karena yang dia tahu selama dia selalu dirinya yang lebih mencintai Ananta. Selalu dirinya yang lebih peduli dengan Ananta. Dan kini... dirinya juga yang ditinggalkan.
__ADS_1
Tak terasa air mata menetes juga dari mata Alana. Dia baru melepas perasaan berat di hatinya setelah memastikan Ananta tidak terlihat lagi dalam pandangannya. Tanpa Ananta tahu, Alana juga terluka. Merasakan kehilangan yang dia sembunyikan sekuat tenaga dibalik senyum palsunya yang melelahkan.
~aqika