
Latihan selesai siang hari. Kegiatannya cukup melelahkan walau terlihat hanya duduk-duduk sambil mempraktekkan sesuatu berulang-ulang. Yang kelelahan adalah fokus dan energi sosial untuk mengekspresikan sebuah perasaan.
Nyatanya tampil di atas panggung ataupun dibelakang layar semua sama-sama menguras tenaga. Berlatih sedikit untuk menjadi aktor saja Alana serasa tidak kuat melakukan apa-apa lagi. Meski begitu Gea masih bersikeras mengajaknya pergi makan sesuai janjinya mentraktir Alana dan Rara tadi.
Yah, tinggal makan dan tidak perlu bayar sedikitpun sih enak-enak saja. Tapi dirinya sudah malas berekspresi lagi di tengah keramaian. Tapi karena yang mengajak Gea, harusnya dia akan memilih tempat yang memberikan ketenangan seperti biasanya, jadi Alana mau-mau saja.
"Kita mau makan di mana Ge?" tanya Rara yang merasa jalan yang dilalui semakin lama semakin asing. Jelas sekali biasanya mereka tidak makan di sana.
"ada, tempat yang bagus" Rara mengangguk saja. Kemanapun dia mau asalkan nanti di antar pulang, syaratnya hanya seperti itu.
"huft" Alana menjadi pendiam lagi. Beberapa kali melirik ponselnya setiap kali notifikasi menyala. Tapi berkali-kali pun dia melihat, pesan dari orang yang dia inginkan tetap tidak ada di sana. Suasana hatinya menjadi agak buruk lagi sekarang. Dia kembali mengingat alasan kenapa mereka menjadi perang Dingin begini. Hanya karena dia mengutamakan Arkan satu kali dalam sebuah pertanyaan sederhana. Apa harus marah begini karena hal sepele itu. Padahal selain jawaban itu, dia selalu mengutamakan Ananta.
"sudah. Kita sampai" ucap Gea setelah memarkir mobil di sebuah kafe cantik dengan dominasi warna putih dan krem. Seperti kafe pertama, tempat itu unik dan cantik. Halamannya ditumbuhi banyak bunga, lengkap dengan patung-patung indah juga hiasan alami dari tumbuhan dan akar yang merumbai dengan rapi. Sangat bisa dia jadikan tempat berfoto yang cantik.
"waaah" ucap Rara kagum dengan pemandangan cantik ini. Dia tahu selera Gea memang unik, tapi tetap saja ini pertama kali Gea mengajaknya ke tempat ini. Atau, dia kesini karena rekomendasi seseorang?
"ayo." Gea mengajak mereka memesan makanan, lalu mencari tempat duduk di pojok dengan background buku-buku estetik di lengkapi lampu tua serta lukisan antik di dindingnya. Gea tersenyum sepanjang waktu. Entahlah, mungkin dia ketempelan sesuatu.
Pesan singkat muncul lagi di ponselnya, dan detik itu juga dia menatap Rara dengan kode mata yang hanya mereka berdua pahami.
"Rara, antar aku ke toilet." ucapnya sedikit merengek. Alana tahu, Gea suka bersikap lucu atau imut, tapi dia tidak terbiasa melihat si independen Gea meminta ditemani ke kamar mandi. Aneh sekali.
"ayoo" ajaknya lebih seperti memaksa, karena Rara baru meminum esnya sedikit. Tapi pada akhirnya dia menuruti Gea, meski sambil menunjukkan muka masamnya yang jelas sekali. Entah apapun alasan Gea, Rara tetap kesal karena mengganggunya memakan hidangan enak yang sudah di depan mata.
Beberapa lama Alana makan dengan tenang sendirian, saat panggilan yang dia tunggu selama satu minggu akhirnya datang juga.
__ADS_1
"Kenapa, masih ingat nomorku?" jawab Alana dengan ketus sebelum Ananta sempat bicara.
"masih marah? bukannya aku yang harusnya marah ya?" balas Ananta, memang benar sih. Tapi kan pemicunya sangat sepele dan tidak berdasar.
"Satu minggu nggak ada balas chat atau telpon sama sekali, aku masih nggak boleh marah?" tanya Alana.
"huft, maaf untuk itu. Aku jelaskan langsung saja bagaimana?" Ananta tidak menunggu Alana menjawab, tiba-tiba dia sudah ada di depan Alana saja. Ananta berdiri dalam balutan hoodie kesayangannya, terlihat sangat sehat. Padahal harusnya dia masih perlu banyak beristirahat. Alana menatapnya khawatir, padahal harusnya dia mengomel dulu sekarang.
"kok disini?" tanya Alana setelah ingat harus mengatakan sesuatu. Bukannya harusnya dia baru pulih tiga minggu lagi.
"yah, enggak suka ya aku disini. atau aku pulang saja?" ucap ananta agak kecewa. Alana bukannya tidak mengharapkan dia datang, Alana hanya kaget saja. Kalau tidak ingat berada di tempat umum mungkin Alana sudah memeluk Ananta sambil mencubit pipinya dengan gemas sejak tadi.
"duduk" ucap Alana dingin. Yah, kan masih mode marah. Alana masih diam beberapa menit, melihat ke arah lain saat ananta ada di depannya. Kenapa dia baru sadar, bagaimana kursi di depannya kosong seolah Gea yang sudah mengaturnya begitu. Mereka duduk di bangku dengan empat kursi, Rara duduk di samping kiri, Gea di samping kanan dan kursi di depannya kosong, yang sekarang diisi oleh ananta. Huft, kalau sudah begini pasti Gea terlibat dalam hadirnya ananta sekarang.
"sebenarnya agak lucu, tapi Gea memaksaku membawa ini" ucap Ananta meletakkan buket bunga yang tampak estetik di meja. Melihatnya Alana langsung tersenyum. Ananta dan bunga sangat tidak cocok, tapi itu tetap terasa manis sekali.
"tapi karena kamu keburu marah jadi aku datang lebih awal dari rencana" lanjut Ananta. Memang aneh sih, dia berani membuat Alana marah, tapi tidak tahan membiarkannya terlalu lama. Saat Alana menelponnya memakai nomor Gea dia langsung panik.
"terus..." Alana masih menjawab dengan singkat, Ananta tahu apa yang dia katakan belum membuat Alana puas.
"Gea yang membantu membuat kejutannya," ananta tidak menyelesaikan kalimatnya saat melihat Alana menggeleng pelan.
"kamu beneran cemburu karena masalah arkan?" ucap Alana akhirnya mengutarakan maksudnya. Ananta tidak menyebutnya sama sekali dari tadi, padahal itu satu-satunya hal yang membuatnya marah.
"iya" Alana mengerutkan kening mendengar jawaban ananta yang tanpa ragu itu. Padahal dia jelas tahu arkan dan Alana itu sahabat yang tidak mungkin punya perasaan satu sama lain. Di mata Alana sudah selalu dan hanya ada ananta saja, tapi kenapa itu masih belum membuatnya puas masih takut dia menyukai orang lain.
__ADS_1
"sekedar cemburu tapi tidak marah. Aku tahu kalian dekat sebagai sahabat saja" lanjut Ananta. Dia tidak se kekanakan itu.
"Aku berusaha keras mencari-cari alasan biar bisa membuat kejutan kalau aku memenuhi kemauan kamu untuk cepat-cepat bertemu di sekolah. Dan saat itu momennya tepat, jadi..." Ananta menjelaskan panjang lebar tapi jelas terlihat kalau Alana tidak tertarik mendengarkan sama sekali. Yah, bisa dimengerti, dia pasti dendam satu minggu penuh tidak dihubungi sama sekali. Padahal kali ini keadaan Ananta baik-baik saja.
"maafkan aku, ya" ini usaha terakhir Ananta, kalau ini tidak berhasil juga Ananta tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia mengambil kembali bunga di meja, lalu menyerahkannya langsung ke Alana dengan muka memelas.
"ya..." cara cepat meraih simpati adalah dengan berekspresi menyedihkan, jadi apa kali ini berhasil?
Alana menyilangkan tangannya ke depan dada, salah sendiri Ananta membuatnya kesal saat dia sedang lelah hari ini, dia tidak akan bisa dibujuk dengan mudah.
"Alana... aku sayang Alana selamanya... ya... ya.." ucap Ananta lagi masih menyodorkan bunga cantik itu. Alana tersenyum sedikit, tapi masih belum juga mengambil bunganya.
"Antara aku dan arkan, kamu pilih siapa?" tanya Alana dengan ekspresi serius.
"Alana... selalu Alana" jawab Ananta buru-buru. Akhirnya kini Alana benar-benar tersenyum lalu mengambil bunganya. Dibujuk begini saja dia sudah luluh, dasar.
"antara aku dan arkan, kamu pilih siapa." Ananta balas bertanya pertanyaan serupa. Keadaannya berubah, jadi dia mengharapkan jawaban yang berbeda.
"Arkan" jawab Alana memalingkan muka hanya bercanda tentu saja. Dihatinya, Ananta sudah selalu nomor satu. Dia sudah tidak perlu membuktikannya lagi.
"hmmphh tidak apa-apa. Yang pacar Alana tetap Ananta" jawab Ananta membuat senyum Alana semakin lebar. Ananta versi ini, menggemaskan.
...****************...
"Yeay kita berhasil Ra... seneng deh. Nggak akan ada Alana ngambek-ngambek lagi minggu depan." ucap Gea yang sedari tadi mengintip dari jauh. Pasangan itu kembali bersatu jadi dia tidak akan melihat Alana mode macan lagi setelah ini.
__ADS_1
"ha?" tanya Rara yang sedari tadi tidak paham sisi membantu yang mana yang diperankan olehnya dan Gea. Karena setahu Rara dari tadi dia hanya makan, dan mengekori Gea ke mana-mana sampai ke kamar mandi juga.
"berhasil" ucap Gea tidak peduli dengan tatapan Rara yang bertanya-tanya. dia mengangkat paksa tangan Rara untuk high five sambil tertawa senang.