Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
tiga puluh empat. Prasangka


__ADS_3

Alana masih tersenyum mendengar Arkan membicarakan tentang Ananta meski dia sedang dalam keadaan yang lebih menyedihkan. Dia menggeleng pelan setelah mengamati sekali lagi keadaan Arkan dari ujung kepala sampai kaki. Sedikit kesal karena dia laki-laki ini sama-sama lebih mengkhawatirkan orang lain dari pada dirinya sendiri.


Tidak seperti Arkan dan Alana yang terlihat lega, Bella justru menatap Alana dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Dia menatap dengan penuh curiga sebelum menarik Alana untuk pergi keluar ruang, dia ingin bicara berdua saja dengan Alana.


"kak..." ucap Bella setelah berhasil menarik Alana keluar ruangan setelah beberapa menit menjenguk Arkan.


"iya?" Alana menjawab dengan ragu, dia takut Bella akan menanyakan hal-hal yang menjadi ketakutannya beberapa hari ini.


"hari ini itu... hari pertama Arkan mau bicara. Sebelumnya saat ditanya dia hanya mengangguk atau menggeleng, tidak pernah bersuara." ucap Bella dengan nada serius. Membuat Alana merasa akan mendengar hal-hal buruk.


"aku kira, itu karena dia memang belum bisa bicara. Tapi setelah mendengarnya susah payah bicara dengan kakak. Sepertinya, sebelum ini dia memang hanya tidak mau bicara." ucap Bella mengeluarkan kekhawatirannya tentang Arkan. Bella tidak bisa tidak berpikiran buruk melihat Arkan sendiri lebih mengkhawatirkan Ananta dari pada dirinya sendiri.


Alana mengangguk mengerti apa yang Bella. Dia ini masih berusaha keras berpikir positif, meski suasana yang dibangun Bella jelas mengatakan sebaliknya.


"entahlah, mungkin persahabatan laki-laki memang seperti itu. Mereka lebih memikirkan temannya dari pada dirinya sendiri." jawab Alana seadanya. Pertemanan antar laki-laki itu memang sulit dipahami oleh perempuan.


"kak..." Bela memanggil Alana lagi dengan raut muka yang lebih serius.


"Arkan sebelumnya tidak pernah mendaftar sebagai pendonor jantung. Dia mendaftar sejak masuk SMA. Sejak mengenal kak Ananta. Dan setelahnya aku baru tahu kalau Kak Ananta punya penyakit jantung." ucapnya mengungkapkan kecurigaan yang sebenarnya ingin dia pendam sendiri selamanya. Tapi, sekarang dia takut hal buruk terjadi pada Arkan lagi kalau dia tidak mengatakannya.

__ADS_1


"maksud kamu" Alana kaget dengan fakta ini. Kenapa kecurigaan Bella mengarah kepada hal-hal buruk juga. Dia akhirnya melihat dari sudut pandang lain, membuatnya melongo hampir tak percaya setelah menyadari maksud Bella. Matanya sudah melotot. Tangannya membekap mulutnya sendiri.


"tidak mungkin kan." ucapnya. Mencoba mencari kemungkinan lain yang bisa saja terjadi. Tapi itu memang terasa aneh saat Arkan kecelakaan tepat sehari setelah Ananta masuk rumah sakit dengan keadaan cukup parah. Apalagi Arkan juga yang pertama kali mengantar Ananta ke rumah sakit.


"aku juga tidak mau apa yang aku pikirkan beneran terjadi. Tapi... aku semakin berpikiran yang tidak-tidak setiap kali melihat sorot Arkan yang seperti putus asa." ucap Bella menjelaskan keadaan Arkan saat pertama kali membuka mata. Dia, seperti tidak menyangka kalau dirinya selamat.


"biasanya aku melihat mata itu saat dia merencanakan hal-hal buruk untuk dirinya sendiri." Mata Alana melebar lagi. Laki-laki konyol itu pernah merencanakan hal-hal buruk untuk dirinya sendiri? apa maksudnya.


"maksud kamu apa?" Alana menatap tidak percaya. Jujur, dia memang belum tahu banyak tentang Arkan, tapi dia tidak tahu kalau dia sebuta itu tentang Arkan.


"meski terlihat ceria begitu, dia itu sering membenci dirinya sendiri. Dulu sekali aku selalu menghiburnya setiap hari, mengajaknya bermain supaya dia tidak tenggelam dalam suasana suram. Aku yang pertama kali melihatnya tersenyum lagi. tapi aku juga yang pertama menyadari ada banyak luka di pergelangan tangannya. Masa lalunya itu membuatku dengan mudah berpikiran buruk ke arah sana." ucap Bella panjang lebar menjelaskan tentang masa lalunya dengan Arkan yang tidak pernah diketahui siapapun.


"dan ini..." Bella mengeluarkan kertas lusuh dari sakunya.


"ini ditemukan di saku arkan di hari dia kecelakaan kak" ucapnya menyerahkan kertas itu pada Alana. Tulisan di sama membuat kecurigaannya menguat. Sebuah fakta yang justru terlihat sangat ironis.


"kak." panggil Bella lagi meski Alana tidak pernah mengalihkan perhatian darinya sedikitpun.


"aku sungguhan mencintai Arkan dan aku nggak mau kehilangan dia." ucapnya dengan tulus. Seperti Alana, dia juga sering menangis gara-gara Arkan di masa lalu.

__ADS_1


"aku tahu. kita harus lebih ekstra mengawasi mereka. jangan sampai mereka melakukan hal-hal bodoh lagi. ya?" ucap Alana memberi solusi terbaik untuk saat ini. Entah mana kenyataan yang sebenarnya. Yang penting mereka harus sembuh dulu sebelum Alana dan Bella mencari tahu lebih dalam.


"cowok menyebalkan ini hobinya membuat khawatir saja. huh." Alana mendengus kesal. Hanya sedikit bercanda. Sebenarnya dia sekarang sedang sangat cemas dengan hal-hal yang akan terjadi ke depannya.


Alana menepuk punggung Bella, untuk memberinya kekuatan. Mereka harus kuat, karena sudah terlanjur menyukai laki-laki menyebalkan dengan berbagai permasalahan hidupnya. Mereka ini sudah menjadi sumber sakit kepala sekaligus sumber kebahagiaannya. Alana menarik Bella untuk masuk ke dalam ruangan lagi. Menemui arkan yang sedikit melongok mencari keduanya. Dia ini barusan ditinggalkan sendirian di ruangan. Tiba-tiba dia sudah merasa kesepian meski ditinggal hanya beberapa menit.


"Arkan" ucap Alana setelah mengambil nafas dalam-dalam.


"Ananta sudah mendapat donor jantung, dan akan dioperasi beberapa hari lagi. kamu jangan khawatir ya." ucapnya. Bohong tentu saja. Belum ada kabar sama sekali dari ayahnya tentang pendonor lain. Tapi menurut Alana dia harus melakukannya supaya Arkan bisa tenang. Jika benar Arkan berencana melakukan hal-hal buruk untuk Ananta, dia harap Arkan berhenti berpikiran untuk melakukannya setelah ini.


"baiklah" jawab Arkan tersenyum sedikit dengan gips yang masih terpasang membuat lehernya terasa kaku.


"cepet sembuh. biar kita bisa jalan-jalan berempat lagi" ucap Alana. Yah, berharap boleh kan. Kalau ada campur tangan Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin.


"iya" jawab Arkan dengan suara lirih. Hati Alana sedikit lebih lega sekarang. Dia pamit untuk kembali ke kamar Ananta. Dia merasakan dadanya yang terasa lebih bebas sekarang, dia seperti... bisa bernafas lagi. Meski itu diikuti dengan pikiran buruk tentang hal yang mungkin direncanakan Arkan.


Alana mengingat kebohongannya pada Arkan sekali lagi. Ah, andai kebohongan itu benar-benar terjadi, apa kami bisa bahagia lagi? tanya Alana dalam hati. Satu lagi harapan kosong yang dia katakan dengan mulutnya. Ah, Alana lelah terus menerus memikirkan hal-hal yang belum terjadi. Semua kemungkinan hanya sebuah kemungkinan sebelum benar-benar terjadi.


Harapan harapan yang ia panjatkan lebih sering tidak terjadi. Sampai di titik dia malas untuk berharap lagi. Tapi untuk Ananta, dia berakhir melayangkan harapan harapan kosong itu sekali lagi. Jika do'a nya lebih tulus lagi, apakah akan di kabulkan?

__ADS_1


__ADS_2