Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
tiga puluh delapan. Harapan


__ADS_3

Ayah Alana kembali ke ruangan Ananta setelah mendapat persetujuan dari Alana. Berita ini akan sangat mengejutkan, tapi ironis disaat yang bersamaan. Yah, karena kita tidak bisa berbahagia di atas kematian orang lain. Tapi tetap saja, ini amal baik bagi pendonor itu. Jantungnya akan berdetak lebih lama dengan memberinya ke orang lain. Dan bagi Ananta, ini harapan yang terlihat mustahil untuk terjadi. Tapi nyatanya harapan itu terjadi. Tuhan pasti sangat menyayangi Ananta dengan sepenuh hatinya.


Dokter itu berdiri dengan gugup. Melihat wajah Ananta dia langsung tidak tahu harus menyampaikan dengan bagaimana. Dia takut akan ada kekecewaan untuk kedua kalinya. Karena sebelum operasi selesai, semua kegagalan mempunyai kemungkinan yang tinggi.


"Sebelumnya saya tidak ingin menaruh ekspektasi setinggi yang sebelumnya, karena sekali lagi ini belum pasti" ucapnya memulai membawakan kabar pada Ananta dan orang tuanya.


"Tapi kami mendapatkan pendonor potensial dengan kondisi tubuh yang cocok dengan Ananta." lanjutnya. Sesuai dugaan, mereka tidak serta merta bahagia, karena pernah gagal sebelumnya. Meski tidak dikatakan pasti ada kecewa dalam lubuk hatinya. Terlihat sekali bagaiman ibu Ananta berusaha tersenyum pada harapan yang hampir kosong itu. Sedangkan Ananta masih diam tidak bersuara. Dia memilih menatap ke arah Alana. Karena seperti sebelumnya, Alana pasti tahu segalanya.


Alana yang ditatap oleh Ananta akhirnya tersenyum dengan tulus sebelum mengangguk dengan pelan. Ananta tahu jawaban ini hampir pasti jika Alana sudah merespon begitu.


"pihak keluarga sudah menyetujui, dan kita bisa menjadwalkan operasi secepatnya sebelum keadaan pendonor memburuk lebih dari sekarang" lanjut ayah Alana itu di tengah keheningan.


"Terimakasih banyak dokter" ucap Ananta kemudian, ikut tersenyum dengan tulus. Kali ini dia tidak memanggil dengan sebutan om seperti biasanya. Dia mau menghormati laki-laki yang sudah banyak berjasa dalam hidupnya itu.


"Semoga kamu bisa segera hidup seperti semua anak seusiamu Nanta." ucap ayah Alana. Dia segera pamit untuk kembali mengurus berkas-berkas agar dia segera bisa menjadwalkan operasi. Sebelum itu dia masih akan meminta keterangan dari orang tua Ananta apakah keduanya menyetujui prosedur itu atau tidak.


"kali ini, semoga semua berjalan dengan baik. Kamu sudah banyak berjuang, kamu pantas mendapatkannya" ucap Alana. Ananta sudah menggenggam tangannya sejak tadi. Semakin erat begitu ayah Alana keluar dari ruang rawatnya. Dia sendiri merasa cemas, takut untuk berharap lebih banyak.


"jangan khawatir," ucap Alana dengan tatapan yang dalam. Dia harus yakin sekarang. Bisa jadi pikiran positif dan keyakinannya menjadi alasan Tuhan memberinya takdir yang baik.

__ADS_1


Sorenya Ayah Alana memanggil orang tua Ananta ke ruangannya. Alana dan Ananta hanya terdiam di ruangan.


Ananta memandang Alana dengan tatapan sendu cukup lama, sebelum dia akhirnya berbicara.


"Na, aku takut." ucapnya lirih. Sangat singkat tapi kalimat itu sudah menyampaikan semua yang dia rasakan sekarang. Iya, dia takut. Operasi itu tidak selalu berhasil meski dilakukan oleh dokter sekalipun. Tetap ada kemungkinan dirinya tidak akan bangun setelahnya. Bagaimana kalau dia pergi tanpa dia sadari? meninggalkan semua orang dengan duka yang lebih menyakitkan lagi. Memikirkannya rasanya hati Ananta seperti di remat dengan kuat. Rasa sakit imajiner terasa meski tubuhnya benar-benar sedang baik-baik saja.


"Kamu harus selalu ingat, aku menunggu kamu sembuh Ta" balas Alana dengan singkat juga. Dia sudah menyampaikan semuanya. Kadang, kalimat penghiburan yang panjang akan kalah dengan tatapan dalam yang terasa menenangkan jauh di dalam hati.


Ananta mengangguk. Dia ingin menangis sebentar, sebelum orang tuanya kembali nanti. Alana hanya diam menunggui Ananta yang mulai meneteskan air mata. Dia senang, Ananta mau menunjukkan sisi rapuhnya di depan Alana. Itu artinya mereka berbagi luka lebih banyak dari sebelumnya. Ini terasa jauh lebih menenangkan dari pada saling menangis diam-diam.


Ananta mengusap air matanya setelah menangis agak lama. Alana sudah mengusapnya tadi, tapi itu saat air matanya belum berhenti mengalir. Sekarang dia mengumpulkan kekuatannya lagi. Kembali menjadi Ananta yang kuat dan selalu baik-baik saja apapun yang terjadi.


"kalau semua selesai, kita bisa bersiap untuk operasi dua hari lagi" ucap sang ibu merespon tatapan Alana yang terlihat sangat penasaran. Bagaimanapun untuk hal seperti ini anak kecil seperti Ananta dan Alana biasanya tidak dilibatkan. Saat mengambil keputusan akhir orang-orang dewasa yang akan memegang kendali penuh. Tapi mereka bisa tenang, karena keputusan yang di ambil sudah pasti yang terbaik untuk semuanya.


"yang kuat ya nak" lanjut ibu Ananta yang kini mengelus punggung Ananta yang sejak tadi duduk diam tanpa berkata apa-apa. Ananta hanya mengangguk pelan.


Ananta terlihat tersenyum lebar untuk mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.


Setelah agak lama Alana pamit untuk keluar sebentar, dia mau mengganggu ayahnya sekali lagi.

__ADS_1


"Yah," panggil Alana begitu dia sampai di ruangan serba putih ayahnya.


"humm?" lagi, ayahnya selalu terlihat sibuk setiap kali dia datang ke kantornya.


"Alana mau tanyaaa" lanjut Alana meminta perhatian penuh. Tapi ayahnya tidak bisa sekarang. Banyak hal-hal penting yang harus segera di atasi. Ada banyak diagnosa dan pasien baru yang menunggunya. Alana pasti lupa kalau ayahnya ini dokter utama penyakit dalam. Dia tidak bisa mengganggunya sesuka hati.


"kenapa sayang" balas sang ayah, meski bernada lembut tapi perhatiannya masih tidak teralihkan sama sekali.


"Dokter bedahnya Ananta nanti siapa?" tanya Alana. Dia mau memastikan Ananta mendapatkan penanganan yang terbaik, meski itu sangat tidak perlu karena ayahnya sudah pasti melakukannya duluan tanpa diminta.


"ada, teman ayah" jawab ayah Alana sekedarnya. Diberitahu pun dia tidak yakin Alana mengenalnya.


"siapa namanya yah" tanya Alana lagi belum puas dengan jawaban yang didapatnya. Dia berencana mencari tahu banyak hal tentang dokter yang menangani Ananta di internet, sampai dia yakin dia bisa menyerahkan prosedur menakutkan itu pada mereka dengan tenang.


"Dokter terbaik di divisi bedah, kamu tidak perlu mencarinya di internet, dia sudah pasti sangat berbakat. Tingkat keberhasilan operasinya lebih dari 80 persen dan dia sudah berpengalaman dalam transplantasi jantung." jelas sang ayah panjang lebar meski dia tidak yakin Alana akan percaya.


Alana terlihat akan bicara lagi sehingga ayahnya itu akhirnya hanya dia dan mendengarkan.


"ayah tidak khawatir dengan Ananta" tanya Alana takut-takut. Dia tahu jawabannya bagaimana, tapi tetap saja dia bertanya.

__ADS_1


"Ayah khawatir, sangat khawatir. Karena itu ayah mau menyiapkan semuanya dengan sempurna semaksimal ayah. Jadi jangan ganggu ayah lagi, ya. Biarkan ayah bekerja." jawab ayah Alana. Akhirnya Alana mengangguk-angguk sendiri kemudian pamit untuk keluar dari ruangan ayahnya. Dia tahu ayahnya sudah berusaha keras, dia sedikit menyesal karena sudah meragukan ayahnya sebelumnya.


__ADS_2