Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
dua puluh enam. mencintai


__ADS_3

Ananta berjalan di samping kiri Alana, arkan berjalan di samping kanan Bela. Sedangkan Alana dan Bela bergandengan tangan di tengah. Mereka berjalan seperti sudah ada formasi yang ditetapkan. Jadi mau belok kemanapun posisinya tetap sama.


Hanya berubah ketika harus mengantri saat beli tiket masuk sebuah taman bermain. Iya, taman bermain. Ananta tidak terlihat antusias padahal jalan-jalan hari ini untuk menghiburnya.


Alana melihat semua wahana seru dengan matanya yang berbinar, permainan ekstrem yang sudah lama ingin dia coba tersedia di hadapannya. Arkan juga sama, dia suka hal-hal yang menantang.


"Berani naik rollercoaster?" Tanya Alana pada ketiga orang di depannya. Ananta menggeleng pelan. Sudah pasti dia tidak bisa ikut naik karena kondisi tubuhnya yang lemah. Bella juga sama, perempuan yang anggun itu tidak suka hal-hal yang terlihat menakutkan. Sedangkan arkan? Hanya mengangguk dengan mantap tanpa mengalihkan pandangan pada antrean panjang di depannya.


"Aku carikan snack dulu. Nanti pergilah ke sana" Ananta menunjuk gazebo lucu berbentuk jamur di dekat wahana yang akan dinaiki Alana.


"Oke. Aku tantang buat enggak berteriak selama di atas. Mampu nggak?" Ucap Alana sudah berjalan berdampingan dengan arkan. Saling menantang dengan semangat yang sama membara.


"Kak. Aku temani beli makanan." Bella mengikuti Ananta yang juga beranjak pergi ke arah sebaliknya. Bella mengikuti dalam diam sebelum memutuskan untuk mulai bicara.


"Kak Ananta... Cinta sama Alana?" Ucap Bella tiba-tiba. Hal yang seolah sudah dia pikirkan lama itu akhirnya dia utarakan pada laki-laki yang juga teman dari pacarnya.


"Tentu saja. Aku tidak tahu di masa depan akhirnya akan bagaimana, Tapi untuk sekarang, iya. Aku cinta Alana" Ananta berbicara dengan pelan. Jarang sekali dia bisa terbuka begini dengan perempuan selain Alana. Tapi dia juga tidak mau ragu lagi dengan perasaannya. Jadi dia utarakan saja.


"Aku, bingung dengan arkan" Mendengar Ananta mau terbuka padanya, Bella ikut membicarakan tentang dirinya.


"Kadang, aku pikir aku mencintainya. Tapi aku juga takut kalau aku bukan satu-satunya buat dia." Bella sedang Mencari-cari jawaban tentang hatinya yang terasa aneh.


"Dari yang aku tahu. Hanya kamu orang yang dia tunjukkan padaku dengan bangga sebagai pacarnya." Ucap Ananta jujur. Entah, barangkali perkataannya dapat memperbaiki perasaan Bella.


"Apa... Ada orang lain lagi yang kamu tahu?" Ucap Bella takut-takut. Jujur, dia sudah bersiap mendengar hal-hal buruk tentang arkan.


"Cuma kamu. Bella, yang fotonya dia simpan di mana-mana. Aku bahkan melihatnya menyelipkan fotomu di meja belajar juga" Ucap Ananta tersenyum mengingat betapa berlebihannya arkan yang menghias foto itu dengan bingkai kayu dan bunga kering.


"Dia bisa tersenyum di hadapan semua orang. Tapi itu bukan tatapan cinta. Hanya kamu yang dipandang begitu." Ananta memberi jeda untuk mengamati respon Bella yang sedikit menunduk.


"Perlakuannya yang manis itu apalagi. Kalau tidak bertemu kamu aku pasti tidak akan pernah melihatnya." Bella tersenyum. Kalau dia dengar dari Ananta yang sekamar dengan arkan. Artinya semua jujur kan.


"Kalau tidak percaya tanya Alana juga. Dia sampai melongo melihat kelakuan arkan di sampingmu. Karena biasanya dia bertingkah konyol. Dan aneh" Lanjut Ananta.

__ADS_1


"Oke. Aku percaya. Terimakasih ya. Bantu aku mengawasi dia juga kalau boleh." Hati Bella membaik mendengar setiap kata-kata Ananta. Ya, sepertinya dia memang mencintai arkan, makanya sampai kepikiran seperti ini.


"Hmmm. Boleh. Syaratnya bantu aku bawa makanan. Kita akan memesan banyak" Jawab Ananta. Meski tidak ikut bermain, setidaknya dia harus mendapat makanan enak hari ini.


Mereka memesan waffle, es krim, bahkan juga cotton candy berwarna warni. Masing-masing membawa satu. Semua menjelma menjadi tiga kantung kresek berukuran jumbo. Ananta membawa dua kantung, dan satunya di bawa Bella sesuai janjinya.


...****************...


Alana baru saja turun dari rollercoaster dengan menahan tawa. Dia ingat jelas ekspresi arkan yang menahan teriakan sampai terlihat seperti sedang di kamar mandi.


"Diam. Jangan ketawa" Marah arkan. Alana justru tertawa semakin keras.


"Awas saja nanti di wahana selanjutnya" Arkan menampakkan tatapan tajam.


"Udah, makan dulu. Ananta pasti udah beli makanan enak" Jawab Alana dengan ceria.


Dia berjalan menghampiri gazebo yang di maksud Ananta. Ananta dan Bella membawa cotton candy masing-masing satu, lalu saling tertawa membicarakan sesuatu.


Tawa Alana padam seketika, perasaannya aneh. Tidak mungkin kan Alana cemburu dengan Bella yang jelas-jelas adalah pacar arkan.


"Eh. Enggak." Alana menggelengkan kepalanya menepis pikiran buruk yang baru saja hadir. Tidak. Dia harus percaya Ananta. Dia mengembalikan senyumnya seperti semula lalu berjalan lagi menghampiri Ananta.


"Ananta... Kamu harus tau tadi ekspresi arkan kaya orang mau eek" Ucap Alana dengan ceria.


"Hmm.. Iyaaa" Balas Ananta singkat yang justru menyodorkan permen kapas yang dia ambil sedikit untuk disuapkan ke Alana.


...****************...


Alana mau mengambilnya sendiri tapi tangannya buru-buru di tepis Ananta.


"Jangan. Tangannya kotor" Alana hanya mengangguk patuh lalu memakan permen kapas di tangan Ananta.


"Hmm.. Enaknya punya pacar rasa ayah" Ledek arkan tersenyum usil. Namun tiba-tiba Bella juga menyodorkan permen kapasnya pada arkan.

__ADS_1


"Cie, yang udah kayak anak kecil disuapin mamah." Balas Alana.


"Udah, jangan damai. Tengkar enggak apa-apa tapi duduk dulu." Ucap Ananta yang memang sudah menduga mereka akan bertengkar seperti biasanya.


"Ananta. Nanti ikut naik yang ayunan" Ucap Alana saat sudah duduk disamping Ananta. Bukan pertanyaan, tapi pemberitahuan. Jadi Ananta mengangguk saja karena dia seperti tidak punya pilihan lain kalau Alana sudah menatapnya tajam.


"Iya" Balas Ananta singkat.


Setelah menghabiskan waffle, es krim dan air putih satu botol mereka berempat naik ke wahana yang di maksud Alana itu.


Ananta pikir ayunan yang dimaksud Alana adalah ayunan pendek seperti di taman kanak-kanak. Tapi ternyata yang di maksud adalah ayunan dengan ketinggian beberapa ratus meter. Ananta sampai pusing saat dia mendongak menatap puncak dari benda yang harusnya biasa dimainkan anak-anak itu.


Ananta hampir mengurungkan niatnya untuk ikut naik andai Alana tidak menyeretnya lebih dulu. Begitu duduk petugas mengunci kursinya untuk keamanan. Kepala Ananta pusing lagi melihat pijakan tanah yang semakin menjauh. Kakinya terangkat tinggi. Dia berpegangan erat. Huft, untung saja jantungnya sedang baik-baik saja.


Dia sedikit panik saat melihat Alana justru merentangkan tangannya seperti sedang terbang. Sedangkan yang dikhawatirkan malah tersenyum ceria sambil sesekali melambai ke arah Ananta. Alana bahkan sempat mengeluarkan kamera dan mengambil beberapa foto. Untung saja kameranya tidak jatuh karena sudah di ikat strap super kuat.


Kaki Bella mendadak lemas setelah kembali menyentuh tanah. Dia berpegangan pada arkan yang masih berdiri kokoh. Ananta langsung mencari tempat duduk saat tubuhnya masih terasa melayang. Alana mengusap punggungnya pelan sambil menawarkan botol kedua. Lucu juga melihat Ananta kewalahan begini.


Setelah beberapa puluh menit beristirahat, Ananta dan Bella sudah terlihat baik-baik saja. Tapi Alana belum puas. Setidaknya ada satu wahana lagi yang ingin dia naiki berempat. Sebelum dia menghilang lagi berdua bersama arkan ke wahana yang tidak mungkin dinaiki Ananta.


Kali ini, biang lala. Mereka mengambil beberapa pose dengan tenang di wahana cantik itu sebelum naik ke atas. Di dalam ruangan sempit itu, tangan Alana sibuk mengambil foto-foto Ananta, juga foto bersama. Sesekali mereka akan gantian untuk foto berpasangan.


...****************...


Setelah puas Alana menempelkan wajahnya di kaca untuk melihat pemandangan indah itu secara langsung. Ananta tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Alana yang menaikkan lututnya ke atas kursi sambil mengintip dari kaca yang sedikit menyilaukan mata.


Bella juga melakukan hal yang sama, tapi dengan sedikit lebih anggun daripada Alana.


Alana diam-diam mengambil tangan Ananta di genggamannya dengan mata masih menatap fokus pohon-pohon yang kini terlihat kecil. Dia tersenyum kecil saat merasakan Ananta mengeratkan genggamannya.


Jalan-jalan hari itu berakhir dengan memori kamera yang penuh. Dan perut kenyang karena sebelum pulang mereka mampir ke cafe untuk makan lagi.


***

__ADS_1


(っ'-')╮\=͟͟͞͞💌


__ADS_2