Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
Lima belas. Tempat bersandar


__ADS_3

Ananta tersenyum melihat foto yang dikirim Arkan pagi ini. Menurut pandangannya, Alana masih orang yang sama. Orang yang perlu dipaksa berinteraksi dengan orang lain untuk mendapat teman.


Alana bukan orang yang bisa memulai percakapan, apalagi sejak tumbuh dewasa bersamanya. Padahal andai Alana menjadi sedikit terbuka dengan orang lain, Alana mungkin bisa dengan mudah mendapat teman.


Yah, dia sudah membuktikannya hari ini dengan memasukkan Alana di club drama bersama arkan. Baru sebentar ada di ruangan yang sama, Alana sudah mendapat teman bicara.


Rasanya beberapa beban yang mengganjal di hatinya ikut berkurang melihat Alana tersenyum bersama teman-temannya yang lain.


***


Ananta beranjak dari tempatnya duduk setelah melihat beberapa dokter dan perawat sudah keluar dari ruang rawat inap di hadapannya.


Tidak seperti jadwal yang seharusnya, hari ini Ananta tidak pergi belajar untuk Olimpiade. Dia justru pergi ke rumah sakit untuk menemui seorang teman lama. Perempuan yang juga penting dalam hidupnya.


Perempuan itu duduk bersandar pada kepala tempat tidur di ruangan serba putih saat Ananta membuka pintu. Menatapnya yang baru masuk dengan senyuman.


"Hai," Sapa Ananta setelah sebelumnya menunggu hampir 1 jam di luar ruangan. Yah, orang yang akan dia temui ini sedang menjalani pengobatan jadi dia hanya bisa menunggu dengan sabar di luar ruangan.


"Hai, terimakasih sudah datang" Jawab Fio. Ananta meletakkan buah-buahan yang sedari tadi digenggamnya sebelum menatap Fio dengan senyum tipis.


"Kamu baik-baik saja kan??" Tanya Ananta menunjukkan simpatinya. Pertanyaan yang kadang terdengar menyedihkan bagi pasien seperti dirinya, tapi tetap saja di katakan setiap saat juga.


"Kamu tahu sendiri, orang seperti kita tidak pernah benar-benar baik-baik saja." Jawab Fio, kalimat itu sangat menusuk. Tapi benar adanya.


"Tapi yah, kondisiku sedikit lebih baik sekarang dari pada biasanya." Lanjutnya dengan sorot mata yang teduh.


Ananta datang padanya dengan tatapan yang sama dengan kebanyakan orang. Bedanya, Ananta spesial karena Ananta turut merasakan sakit yang sama dengan apa yang dia rasakan.

__ADS_1


Ananta tidak menjawab, dia hanya tersenyum mendengarnya.


"Ada apa kesini?" Tanya Fio mengalihkan pembicaraan dari empati yang menyesakkan. Lebih baik bercerita tentang hal-hal di luar gedung rumah sakit dari pada mendengar simpati yang semakin lama semakin memuakkan itu.


"Merindukanmu." Ucap Ananta singkat. Sudah beberapa tahun berlalu sejak kak Fio dipindah ke rumah sakit di luar negeri. Sejak itu juga mereka tidak pernah bertemu dan baru bertemu lagi saat pergi ke danau kemarin. Karena itu juga Ananta buru-buru ingin menjenguknya di rumah sakit untuk tahu keadaannya secara langsung. Juga, untuk mengatakan hal-hal yang mengganggunya belakangan ini.


"Jangan begitu, kamu membuatku terlihat seperti orang ketiga tau." Jawab kak Fio sedikit kesal. Dia tidak terbiasa dengan kata-kata manis seperti itu. Dengan perlakuan Ananta yang baik dan ramah, dia yakin dirinya pasti sering menjadi objek kecemburuan Alana.


"Aku tidak bermaksud seperti itu... Tapi aku memang merindukan kakak..." Jawab Ananta, rindu tidak selalu tentang pasangan kan, Pikirnya membela diri. Dan benar, rindunya pada Fio seperti mencari harapan untuk hidup lebih lama. Kalau dia saja yang bahkan tidak pernah keluar dari rumah sakit sejak kecil bisa bertahan sampai saat ini, maka artinya dirinya sendiri bisa bertahan hidup juga.


"Oh iya, Ngomong-ngomong kesini sendirian?" Tanya kak Fio mengedarkan pandangan ke arah pintu dimana tidak ada seorang pun berada di sana. merasa aneh karena tidak ada Alana yang mengekori anak laki-laki di depannya. Setahunya, hal seperti ini sangat jarang terjadi.


"Iya... Alana masih sibuk" Kak Fio mengangguk, namun menatap dengan senyum yang mencurigakan. Dia selalu berharap hubungan keduanya selalu baik. Makanya dia sedikit khawatir saat melihat Ananta datang sendirian.


"Kalian, baik-baik saja kan..." Tanya Kak Fio dengan pandangan bertanya.


"Kamu tahu apa yang ku sesali saat aku jatuh sakit??" Kak Fio mulai berbicara lagi, dia memilih kata-katanya dengan hati-hati. Ananta menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku menyesal selalu sendirian." seketika suasana berubah dingin di akhir kalimatnya, merubah keadaan menjadi sedikit serius. Senyum masam yang semula ada pudar seketika.


"Meski harus terjebak dalam perasaan yang tidak enak, harusnya aku membiarkan orang lain untuk berada di dekatku." sesalnya mengingat-ingat tentang orang-orang yang dulu diusirnya pergi karena menyatakan cinta padanya. Baginya, cinta hanya harapan kosong bagi pasien penyakit mematikan seperti dirinya. Awalnya dia tidak ingin melukai orang lain, meski tidak sedikit orang tulus yang datang padanya. Dan pada akhirnya, dia justru memilih menyakiti dirinya sendiri dengan bertahan sendirian.


"Perasaan sendiri dan kesepian itu..., sangat mengerikan" Ananta mendengar setiap kalimatnya dengan seksama. Terasa ada pedang menyayat dengan hati-hati di dalam dadanya. Jelas, nada suara itu penuh penyesalan.


"Jatuh cinta adalah anugerah untuk orang seperti kita. Jangan menyia-nyiakannya. Orang-orang yang tulus menyayangimu adalah hadiah dari Tuhan supaya kamu nggak berjuang sendirian. Mereka juga kan, alasanmu bertahan hidup" Ucap kak Fio dengan bijak. Dia menempatkan diri sebagai contoh buruk, karena pada akhirnya dia ditinggalkan dan menyesal sendiri.


"Jangan sampai kamu menyesali sesuatu sepertiku" Lanjutnya dengan perasaan yang tercampur.

__ADS_1


"Aku tahu kak." Jawab Ananta, setiap kalimat Kak Fio begitu tepat bersarang di hatinya seolah membaca satu-satu kekhawatiran yang ada di dadanya. Dia bersyukur karena sudah memutuskan untuk datang, meski harus menitipkan Alana di club drama lebih dulu.


"Aku hanya merasa bersalah karena sudah melibatkan Alana dalam kesedihan dan kesakitan yang harusnya tidak dia rasakan." Ucap Ananta mengeluarkan kegelisahan yang satu-satu.


"Aku yakin, bagi Ara... Bertemu kamu bukanlah sebuah penyesalan." Fio melanjutkan kalimatnya di tengah suasana yang berubah sendu.


"Cukup jujur pada diri sendiri kalau kamu membutuhkannya. Perlakukan dia sebaik mungkin. Dan jangan pedulikan hal buruk yang belum terjadi." Ucap kak Fio lagi.


"Hmm" Ananta mengangguk sebelum melanjutkan kalimatnya. Dadanya terasa menghangat. Hati dan pikirannya menjadi sedikit lebih ringan dari sebelumnya.


"Terimakasih sudah menghiburku" Ucap Ananta di kalimat terakhirnya sebelum mengalihkan pembicaraan pada hal lain lagi. Fio mengangguk sembari melemparkan senyum.


Entah, rasanya begitu mudah bagi Ananta untuk mengeluarkan isi hatinya di depan perempuan yang sedikit lebih tua darinya itu.


Hal-hal yang sudah berlalu di antara mereka membuat kak Fio menjadi tempatnya bersandar dan menenangkan diri. Tempatnya bercerita hal-hal yang lama ia pendam.


"Lain kali ajak Alana kesini. Aku tidak mau dia salah paham." Ucapnya sedikit kesal. Apalagi sikap Ananta yang mencurigakan pasti sudah membuat Alana cemburu dan salah mengira kalau mereka berselingkuh. Padahal mereka hanya saling melepas kekhawatiran di dada masing-masing.


Padahal, Fio sendiri sangat ingin berteman dengan Alana.. Orang yang sejak lama dia kagumi.


"Iya, maaf. Aku takut dia langsung marah kalau aku bilang mau ketemu kak Fio." Ucap Ananta membela diri.


"Dia marah juga pasti karena sikapmu yang mencurigakan." Kesal kak Fio.


"Hehe, maaf deh. Lain kali aku ajak dia kesini." Lanjut Ananta sebelum pamit untuk kembali ke sekolah. Dia juga tidak bisa berlama-lama di sana karena kak Fio masih harus banyak-banyak beristirahat.


***

__ADS_1


__ADS_2