
Alana bangun di pagi hari dengan perasaan aneh. Hari ini dia tidak lagi harus pergi ke rumah sakit pagi-pagi. Dia tetap harus bangun pagi sih, tapi ke sekolah bukan ke rumah sakit.
Rutinitas baru ini jauh berbeda dengan dia biasanya, dia sudah terlanjur terbiasa sampai-sampai dia mengemas dua makanan hari ini. Tapi ya sudahlah bisa dia makan nanti bersama temannya yang lain.
Jauh dalam hati dia juga suka kebersamaan bersama ananta beberapa minggu ini. Terasa sangat intens. Tapi bukan berarti dia ingin menjalaninya lebih lama. Ya boleh-boleh saja seperti itu asalkan kondisinya bukan karena ananta sakit. Kan banyak alasan untuk bisa bersama tiap hari seperti itu. Menikah misalnya. Ah... pikirannya semakin menjelajah jauh.
Alana menepis pikiran anehnya sebelum mengemasi peralatan sekolahnya lagi. Sangat membingungkan, alana bahkan salah memeriksa jadwal dan memasukkan buku-buku semester kemarin. Sekarang ini sudah semester genap, sebentar lagi mereka ujian. Tapi rasanya tidak banyak materi yang di ingatnya. Aktivitas di rumah sakit seperti sudah menghapus semua ingatannya.
Tentang Arkan, dia sudah pulang lebih dulu dari rumah sakit. Tapi alana yakin dia tidak langsung bisa berangkat ke sekolah seperti Ananta. Dua laki-laki yang biasa mengganggunya seharian itu masih dirawat di rumahnya masing-masing sedangkan dia sudah di suruh kembali ke sekolah.
...****************...
Rasa aneh kembali melanda saat alana sudah tiba di sekolah. Teman sekelasnya banyak bertanya tentang kondisi Ananta kepadanya. Dia hanya menjawab seadanya sambil tersenyum canggung.
"jadi Ananta beneran mendapat jantung baru? hebat sekali." ucap salah seorang teman. Hebat apanya. Kalau bisa menyembuhkan jantung yang lama Alana tidak akan memilih transplantasi. Menunggu di luar ruang operasi itu rasanya takut setengah mati. Tapi Alana harus menjawab dengan tenang, meski kepalanya sudah penuh makian.
"Iya, ada orang baik yang kondisinya kritis jadi Ananta bisa mendapat jantung barunya." jawab Alana berusaha menekan emosinya sendiri.
"aku tidak tahu itu disebut beruntung atau tidak. setahuku, pendonor nya tidak akan selamat kan..." tanya temannya yang lain, lebih memahami situasi.
Iya, mereka harus merelakan kepergianmu seseorang untuk menyelamatkan Ananta. Orang yang bahkan tidak pernah dia temui selama hidupnya.
Alana hanya mengangguk, menciptakan suasana aneh di antara mereka. Tentu, bagi siapapun kematian adalah hal yang sakral.
"kebetulan sekali Arkan juga saat itu sempat kritis" kalimat itu membuat semua hening seketika. Alana tiba-tiba takut dengan pikiran-pikiran yang muncul setelahnya.
__ADS_1
"kasihan sekali, dua sahabat terkena musibah di saat yang bersamaan" ucap orang lain lagi menimpali. Kalimat itu membuat hati Alana lega dengan cara yang aneh. Alana belum memastikan kecurigaannya lagi, dia bahkan tidak mau berpikir ke arah sana lagi. Alana mau memutuskan bahwa semuanya hanya kebetulan, setidaknya itu lebih nyaman untuk hatinya.
"sudah sudah. aku mau ke kantin." ucap Alana akhirnya bangkit dari kerumunan yang penasaran itu. Mereka hanya diam pagi tadi, tapi saat waktu istirahat semua menanyakan keingintahuannya pada Alana.
Sampai di kantin Alana seperti menyendiri, dia memesan makanan lalu mengambil tempat di pojokan. Mencoba menghindari keramaian meski tetap saja orang-orang ini menghampirinya.
Gea datang mendekat, ini pertama kali mereka bertemu setelah sekian lama. Sebelumnya Alana hanya menjawab singkat pesan-pesannya di chat selama di rumah sakit. Gea memasang ekspresi biasanya, gemas dan antusias. Alana seperti sebuah benda yang sangat menarik baginya.
Baru bertemu beberapa detik Gea sudah memeluknya dengan gemas. Dua teman yang mengikuti dibelakang hanya bisa menggeleng pasrah. Gea tidak bisa di larang kalau sudah seperti itu.
"maaf aku tidak bisa sering menjenguk ke rumah sakit." ucap Gea dengan bibir manyun. Sebaliknya, Alana juga akan gemas kalau melihat Gea bertingkah seperti itu.
"iya... aku tahu kamu sibuk" ucap Alana.
"dan lagi, tiap aku ke sana kamu selalu tidak ada. Aku kan mau ketemu kamu" ucap Gea ngotot. Yah, mereka seringnya datang terlalu malam, jadi Ibu Ananta sudah menyuruh Alana pulang saat Gea datang menjenguk.
"Kamu tahu kan, Club berantakan gara-gara Arkan nggak ada. Jadinya aku ikutan Handle. Dasar ngerepotin. Untung dia sembuh jadi bisa aku maki-maki nanti" lanjut Gea. Lucunya... dia bisa bersikap sangat lembut pada Alana, tapi berubah menjadi sedikit kasar pada Arkan. Entah apa yang membedakan keduanya. Setahu Alana, dirinya dan Arkan itu sama-sama merepotkan. Apalagi dia yang tidak hadir berminggu-minggu. Meski ketidakhadiran Arkan pasti lebih merepotkan sih.
"Gea, jangan kebanyakan spill the tea gitu deh. Nanti orang ngiranya club kita beneran berantakan" ucap Rara mengingatkan. Gea memang sering kelepasan kalau sudah emosi.
"iya tau. Lagian pementasan kemarin lancar kok. Nggak ada yang tahu kalau dalamnya berantakan." ucap Gea. Alana memang sempat mendengar kalau mereka punya satu pementasan. Tapi yah, dia dan Arkan sudah pasti tidak bisa ikut. Sayang sekali. Meski kemungkinan besar hanya menjadi panitia atau pembantu umum dia juga ingin melihatnya.
"Alana... mau peluk lagi yang banyak." ucap Gea berubah menjadi manja sekali lagi. Alana pasrah, memeluknya. Lagipula, dirinya juga butuh pelukan untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia barusan melalui hal-hal berat, jadi dia mau sekalian memulihkan hatinya.
"Na, besok mau jenguk Arkan, mau ikut?" ucap Rara dibalas alana dengan anggukan karena Gea masih memeluknya dengan cukup erat.
__ADS_1
Mendengar Rara menyebutkan tentang Arkan, membuatnya teringat dengan Ananta lagi. Setelah Gea melepas pelukannya dan memesan makanan Alana menyempatkan mengirim pesan pada Ananta.
"Hai, gimana hari ini?" tanya Alana, hari ini dia tidak bisa melihat kondisi Ananta secara langsung, sedih sekali.
Beberapa lama ponselnya diam. Baru beberapa menit setelahnya Ananta membalas pesan Alana.
"Keadaanku? kangen kamu" balas Ananta.
"ish serius. Lukanya udah kering belum? udah bisa gerak normal kan kakinya? makannya enak? Ada alergi atau apapun nggak?" balas Alana. Dia sedang serius sekarang.
"daripada tanya begitu mending kesini deh." balas Ananta santai tanpa memikirkan berapa nekad seorang Alana kalau sudah tentang dirinya.
"oke. Aku bolos lagi ya hari ini. lagian nggak betah lama-lama di sekolah nggak ada kamu" balas Alana dengan cepat.
"hei, enggak. Bercanda. Baru aja masuk sehari." pinta Ananta. Oke, dia memang harus serius kalau bicara sama Alana.
"Lukanya udah kering kok, nggak ada alergi. Barusan kaki masih agak kaku tapi udah bisa di pake jalan sedikit-sedikit. dan, makanannya enak tapi lebih enak yang kamu bawa dari rumah kemarin" lanjut Ananta menjawab semua satu persatu.
"pengen kesitu" balas Alana.
"nggak perlu, tunggu aku balik ke asrama aja." putus Ananta.
"besok minggu aku kesitu setelah jenguk Arkan."
"duluan Arkan nih daripada aku" balas Ananta, bercanda sih. Tapi cemburunya beneran.
__ADS_1
"ya udah kamu dulu." balas Alana. Nanti dia bilang Gea, untuk jenguk Ananta dulu. Humph, merepotkan.