Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
enam puluh sembilan. bersatunya pasangan aneh


__ADS_3

Hanya satu semester berlalu, dan banyak hal sudah terjadi. Kini Alana memandangi Ananta yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum. Hal sederhana ini rasanya agak spesial baginya.


Gea, Rara dan Arkan, juga teman-teman klub drama lainnya sudah pulang lebih dulu. Mereka menghindar dari melihat kelakuan Ananta yang entah akan seperti apa. Mengingat bagaimana Ananta sok-sokan marah sebelumnya, pemandangannya mungkin tidak akan menyenangkan bagi mereka.


Jadi Alana benar-benar di tinggalkan sendirian untuk menunggu Ananta yang bilang akan datang menjemputnya. Sekian menit berlalu tanpa siapapun di sekelilingnya agak terasa asing bagi Alana. Entah sejak kapan dia jadi tidak nyaman dengan kesendirian. Saat mengingat-ingat ke belakang, dia cukup sering merasakan takut kehilangan orang lain. Mungkin itu alasannya, kenapa sekarang dia tidak suka sendirian.


Makanya saat Ananta datang, rasanya dia seperti sedang terselamatkan oleh perasaan senang yang mengusir pikiran buruk yang sempat mampir. Semagis itu sebuah senyum membolak-balikkan perasaannya. Dengan segera ia balas tersenyum saat Ananta melambaikan tangannya. Kini mereka sudah berada dalam jarak yang cukup dekat.


"yang suka matcha itu kan kamu." ucap Ananta begitu sampai.


"Ya, karena itu kesukaanku. Makanya kamu harus berterimakasih karena aku rela bagi-bagi buat kamu." balas Alana, mencari alasan. Padahal dia menulisnya tanpa pikir panjang.


"Lagian. Gea kan nggak jadi ngadu. Kenapa marah." tanya Alana. Sudah jelas kan. Ananta hanya pura-pura menerima pesan yang tidak pernah dikirim.


"cemburunya udah dari lama. cuma, nemu momen yang pas aja." Ya, cemburunya Ananta sudah sejak Alana bertemu lagi dengan arkan. Perhatian Alana berkurang hampir sepenuhnya. Meski tidak mengatakan apa-apa, bukan berarti tidak merasa sama sekali bukan.


"ih, bisa gitu balas dendamnya." jawab Alana, melirik Ananta. Dia memang sangat jarang sekali mengekspresikan perasaan seperti itu. Jadi sekalinya Ananta bilang cemburu, dia ingin mengabadikan momen langka itu. Karena itu sangat menggemaskan.


Dengan sigap Alana membuka kamera handphonenya. Dia mengambil gambar Ananta saat itu juga. Momen seperti ini harus dia simpan selamanya.


"kenapa sih? aku lagi jelek ya? sampai kamu foto begitu?" ucap Ananta yang terlalu banyak berfikir.


"enggak. momennya bagus aja." balas Alana. Melihat Ananta cemburu itu membuatnya merasa dicintai. Apalagi cemburunya Ananta lucu dan tidak berlebihan.


'kamu lucu soalnya.' pikirnya.

__ADS_1


...****************...


Di lain tempat, Rara bilang dia akan di jemput seorang teman. Itu membuat Gea agak khawatir. Takutnya teman yang dia maksud itu satu spesies dengan orang yang sudah mencampakkan Rara dulu.


"Kita cuma berteman gara-gara bertemu di coffe shop aja. dan janjian karena mau ke sana lagi. Aku nggak bakalan pacaran dulu kok dalam waktu dekat." ucapnya sebelum pergi. Rara memang sangat terbuka dengan Gea. Dia tahu, bagaimanapun keadaannya Gea akan selalu memihaknya, jadi dia bisa bebas mengatakan hampir segalanya.


"Ya sudah kalau kamu bilang gitu. Jangan lupa kabari aku kalau dia macam-macam. Biar aku tinju mukanya" balas Gea.


"tenang saja, aku juga bisa melakukannya sendiri" ucap Rara. Dia juga bukannya anak kecil yang lemah. Dia bisa menjaga dirinya sendiri.


"tetap saja hubungi aku. Biar aku bantu hajar" balas Gea lagi.


Gea hanya pura-pura membiarkan sebenarnya. Mengingat bagaimana Rara marah dulu, Gea bermaksud mengikuti diam-diam. Dia mengamati bagaimana Gea masuk ke dalam mobil laki-laki itu. Dia terlalu fokus sampai dia tidak tahu kalau Dewa juga sedang mengikutinya dari jauh.


"Menurutku kamu terlalu khawatir" ucap dewa menginterupsi.


"Tapi tetap saja aku harus memastikan kalau dia orang baik." balas Gea, tanpa peduli siapa yang bicara.


"kalau baik memang kenapa? katanya mereka hanya berteman." ucap dewa lagi.


"Kamu percaya laki-laki hanya mau berteman? aku tebak pasti si laki-laki mengharapkan sebuah hubungan." balas Gea agak keras.


"iya juga sih." jawab dewa merendahkan suaranya.


'aku sendiri juga begitu sih. eh. tidak. mengenalnya saja sudah cukup sekarang' pikirnya.

__ADS_1


"eh loh. kamu ngapain?" tanya Gea baru menyadari kalau yang mengajaknya bicara dari tadi itu dewa. Orang yang biasanya hanya memelototinya dari jauh. Ya, dia bukannya tidak tahu kalau dewa selalu menatapnya. Tapi tatapan itu agak menyeramkan seolah-olah dewa sangat membencinya karena suatu alasan. Makanya dia mengabaikannya.


"penasaran." balas dewa singkat.


"tebakanku, dia orang yang baik" ucap dewa mengalihkan perhatian Gea dari bertanya alasan keberadaannya. Takutnya Gea menyadari kalau dia sering mengikutinya diam-diam. Meski tidak berniat buruk, dia tetap tidak mau di anggap aneh juga.


"Apa buktinya kalau dia baik?" tantang Gea yang masih skeptis dengan apa yang dia lihat. Senyum yang ramah tidak menjamin semuanya kan.


"kalau begitu kita ikuti mereka. Nanti pasti kelihatan" lanjut Gea.


"Eh, hah?" Ucap Gea agak bingung. Bagaimana bisa dia tiba-tiba malah menaiki mobilnya berdua bersama Dewa. Dewa menyetir lagi. Memangnya kapan dia menyetujuinya?


Ya sudahlah, prioritasnya adalah Rara sekarang. Kalau ada dewa dia jadi bisa mengamati lebih banyak kan.


"by the way. Emang kamu orang baik? sampai bisa menilai orang lain baik.?" tanya Gea. Dewa ini terlihat sangat percaya diri jadi dia ingin menanyakannya langsung.


"Nggak tau. Yang jelas menilai itu tugas sudut pandang orang ketiga. Manusia tidak pintar menilai dirinya sendiri, jadi perlu orang lain untuk tahu jati dirinya sendiri." hmmm Gea mengangguk setuju.


Manusia itu seringnya pura-pura buta sama keburukan diri sendiri atau orang lain. Apalagi kalau sudah jatuh cinta. Mau sejahat apapun, di matanya tetap pangeran berkuda putih yang sempurna. Dia sudah lihat sendiri buktinya dari Rara dan pacarnya sih. Jadi Gea sangat yakin dengan pendapat ini.


"Tapi... setahuku kita tidak akrab. Kenapa tiba-tiba kita bisa semobil begini." ucap Gea. Agak tidak percaya dengan posisinya saat ini. Ini seperti tiba-tiba menjadi teman bicara dalam sehari. Padahal sebelumnya mereka tidak banyak mengobrol sekalipun satu klub.


"kenapa. kamu tidak suka? aku bisa turun di sini kok kalo kamu nggak nyaman." balas Dewa. Mungkin dia terlalu memaksakan kebetulan ini. Yah, bagaimana lagi. Kalau tidak begini mungkin dia tidak akan pernah masuk dalam kehidupan Gea.


"Nggak. aku masih butuh kamu sih." balas Gea tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2