
Alana tidak tahu jika rasa bahagianya kemarin hanya sebentar. Pesannya tidak dibalas lagi oleh Ananta hari senin. Tangannya ingin meremat sesuatu karena kesal. Tanpa sadar bahwa satu halaman bukunya sudah lecek hampir sobek karena ulahnya.
Notifikasi pesan baru yang masuk membuat rasa kesalnya berubah menjadi panik. Pasalnya pesan itu berasal dari Arkan yang langsung memintanya pergi ke rumah sakit tanpa menjelaskan apa-apa. Meski begitu Alana sudah tahu lebih dulu alasannya. Segera Alana menelpon ayahnya yang juga sedang mode sibuk tidak mengangkatnya sama sekali. Sekarang jam istirahat siang. Dan Arkan baru memberitahunya sekarang! bukannya itu sangat terlambat.
Alana langsung keluar dari kelasnya, dengan terburu-buru pergi menuju rumah sakit setelah Arkan mengirimi ruangan tempat Ananta dirawat.
Ananta masih tidur saat dia sampai. Sesekali dahinya mengerut dalam tidurnya. Alana mengambil posisi untuk duduk di kursi sebelah kanan tempat tidur. Arkan menatapnya dengan rasa bersalah sekaligus lega karena kehadiran Alana.
Puas menatap Ananta yang tidur dengan tenang, Alana menghadap arkan dengan tatapan marah. Alana merasa diabaikan karena baru diberitahu sekarang. Arkan yang ditatap begitu menggeleng dengan panik.
"Dia yang melarangku." Ucapnya membela diri. Dia mengelus dada saat Alana kembali melihat ke arah Ananta yang tidur. Anak ini terkadang bisa lebih menyeramkan daripada macan.
"Enggak peduli dia bilang apa. Lain kali harus kasih tahu aku dulu." Ucap Alana dengan nada dingin. Dia membenci keadaan yang membuatnya tidak bisa mengawasi Ananta sepanjang waktu sekarang. Rasanya Ananta selalu menggaris jarak yang teramat lebar di saat dia harusnya ada disamping Ananta. Laki-laki ini, terus saja bersikap menyebalkan.
"Mumpung si biang onar tidur, aku mau ngadu" Ucap arkan tiba-tiba menjelma menjadi anak kecil dengan nada bicara yang dibuat-buat.
"Hmm?" Alana menjawab tanpa menoleh lagi. Arkan bersandar di tembok di belakangnya. Alana sudah membayangkan hal-hal aneh yang akan dibicarakan arkan untuk membunuh sepi. Tapi nyatanya kali ini Arkan benar-benar terdengar serius.
"Ananta sempat memintaku mendekatimu. Buat bantu ngejauhin kamu dari dia." Kalimat arkan membuat Alana menoleh seketika, memberikan perhatian penuh pada apa yang dikatakan arkan.
"Aku sempat setuju buat bantu dia, aku tahu kekhawatiran dia tentang seorang Alana. tapi akhirnya aku nggak bisa." Arkan merubah suasana dengan nada bicaranya.
"Kamu tahu aku terlalu sayang sama bella dan nggak mau dia kecewa. Kamu juga tahu sendiri dia sebaik apa" Lanjutnya sedikit menyombong tentang bella yang ditemui Alana kemarin.
"andai beneran dilakuin juga aku yang nggak mau." balas Alana lirih membuat Arkan tersenyum kecil sebelum kembali memasang ekspresi seriusnya. Dia membuat suasana hening lagi dengan dia satu-satunya yang bicara.
"Ananta terlalu sayang sama kamu sampe dia nggak mau kamu sedih tiap liat dia begini." Dia mengambil jeda sebelum kembali berbicara.
__ADS_1
"Bodoh sih, tapi cowok baik emang kaya gitu, Na. Selalu lebih mikirin perasaan orang lain daripada dirinya sendiri. Apalagi ini tentang orang yang dia cinta" Dia sedikit tersenyum di akhir kalimatnya. Setitik kagum dia tunjukkan pada laki-laki yang masih menutup matanya erat di atas ranjang rumah sakit. Namun saat melihat Alana masih menatap padanya dengan raut serius arkan sedikit kesal dibuatnya.
"Harusnya dia kasih tau kamu aja biar ada alasan buat manja-manja" Lanjut arkan berusaha memancing emosi Alana, dia tidak tahan berlama-lama dalam suasana serius begini. Dan sepertinya dia berhasil karena sekarang Alana mencubit lengannya dengan ekspresi datar tanpa rasa bersalah.
"Sebenarnya, aku justru berharap Ananta kaya gitu." Tidak. Usahanya gagal karena dalam sedetik Alana membuat suasananya menjadi serius lagi. Akhirnya dia membuang muka pura-pura melihat keluar jendela.
"Arkan. Maaf ya jadi merepotkan" Panggil ibu Ananta yang baru saja selesai mengurus administrasi. Arkan segera membungkuk beberapa kali untuk menghormati perempuan paruh baya itu. Setelahnya dia menyibukkan diri membantu ibu Ananta untuk menata kresek besar yang dia bawa. Melihat tas besar disandarkan pada lemari kecil itu Alana menebak kalau Ananta akan menginap beberapa hari.
Setelah meletakkan berkas-berkas, perempuan paruh baya itu memeluk Alana sebentar untuk saling menguatkan. Dia sangat tahu, Alana sama khawatirnya dengan dirinya sekarang.
"Tante, Alana boleh jagain Ananta ya kali ini" Ucap Alana dengan wajah memelas. Dia selalu diusir pergi sebelumnya oleh Ananta.
Ibu Ananta hanya menatapnya dengan tatapan dalam sebelum mengangguk lemah.
"Semoga Ananta baik-baik aja ya." Ucapnya menatap sendu ke arah Alana.
***
"Maaf membuatmu khawatir lagi." Ucapnya lirih, dia memperbaiki posisinya untuk duduk sebelum mengusap rambut Alana.
Setelah beberapa saat ayah Alana datang untuk memeriksa kondisi Ananta. Melihat anaknya tertidur, di samping Ananta dia hanya menggeleng pelan.
"Dia bolos sekolah hari ini?" Ucapnya melihat Alana yang masih memakai seragam sekolah, tanda dia tidak pulang sama sekali sejak siang tadi. Ananta hanya mengangguk ragu, sejujurnya dia juga baru bangun dan langsung menemukan Alana sudah berada di sampingnya.
"Maaf om, gara-gara saya dia jadi sering bolos" Ucap Ananta sedikit merasa bersalah karena selalu melibatkan Alana dalam masalahnya.
"Nggak apa-apa, Om sudah berterimakasih. Karena kamu, dia mau lanjut sekolah." Jawab laki-laki itu menampakkan senyumnya. Dia lega karena Ananta terlihat baik-baik saja meski berdasarkan pemeriksaannya pagi ini ada hal-hal yang membuatnya khawatir. Tapi bagaimanapun dia harus tetap optimistis dan berharap yang terbaik untuk Ananta.
__ADS_1
"Jangan mengkhawatirkan banyak hal, kamu harus fokus memperbaiki kondisi dulu sekarang." Tambahnya. Yah, dia harus serius tentang anak laki-laki yang sudah seperti anaknya sendiri ini. Ingat kan, kalau Ananta baik-baik saja, Alana juga baik-baik saja.
"Nanti kalau dia bangun tolong suruh dia cari ayahnya ya." Ucapnya sebelum memeriksa pasien yang lain.
Setelah ayahnya benar-benar pergi akhirnya Alana bangun, sebenarnya dia hanya pura-pura tidur. Dia sudah sadar sejak Ananta mengelus kepalanya. Melihat Alana bergerak bangun, Ananta sedikit terkejut sebelum menatap heran Alana yang mengawasi pintu memastikan ayahnya tidak masuk ke ruangan lagi.
"Loh, kamu enggak tidur?" Tanya Ananta meminta perhatian Alana.
"Ssst, jangan keras-keras nanti ayah balik ke sini lagi." Panik Alana. Kenapa sembunyi-sembunyi kalau nantinya dia harus tetap menemui ayahnya. Ananta menatap heran dengan kelakuan Alana.
"Aku masih mau di sini" Ucap Alana sedikit memelas.
"Tapi Kamu harus masuk sekolah besok" Ucap Ananta final. Alana mengangguk menyetujui, itu lebih baik dari pada diusir sekarang juga.
"Tapi sekarang udah sore" Alana mengangguk lagi.
"Jadi kamu harus balik ke asrama" Alana tidak mengangguk lagi. Itu kan artinya sama. Dia tetap diusir sekarang.
"Tapi aku mau disini" Alana mulai merengek, meski dia tahu biasanya strategi ini juga akan gagal.
"Udah ada ibu, kamu jangan khawatir. Ayah kamu juga disini" Ucap Ananta tidak berubah fikiran meski sudah mendengar rengekan Alana. Dia masih sama seperti biasanya.
"Janji harus kasih kabar terus. Handphone harus selalu nyala. Angkat telfon terus tiap saat. Sekali kamu enggak jawab aku berangkat ke rumah sakit." Ucap Alana panjang lebar. Ananta hanya tersenyum lalu mengangguk pelan. Alana kan memang selalu keras kepala, jadi harusnya dia tidak heran lagi.
"Satu lagi."
Alana diam beberapa saat, sambil menatap mata Ananta.
__ADS_1
"Jangan lupa, aku selalu sayang kamu." Ucapnya sebelum pergi keluar ruangan meninggalkan Ananta yang tidak bisa tidak tersenyum mendengar itu.
Yah, dia juga selalu tahu itu. Tapi mendengarnya, rasanya menyenangkan.