
Wah... Hari ini terasa sangat panjang untuk Alana. Hari minggunya tidak terasa seperti biasanya dimana dia akan rebahan sepanjang hari dan waktu terasa berjalan sangat cepat hingga tiba-tiba sudah hari senin lagi. Semua itu gara-gara perasaannya yang campur aduk. Dia senang bertemu Ananta pagi ini. Tapi setelahnya, hatinya terasa tidak enak begitu tubuhnya sampai di rumah Arkan. Rasa bersalah entah dari mana datang seolah semua yang terjadi benar-benar salahnya. Padahal dia tidak tau kejadian sebenarnya. Jika pikiran buruknya benar pun harusnya itu tentang hubungan Ananta dan Arkan, bukan dirinya. Tapi entah, hatinya ikut terasa tidak nyaman. Meski sepanjang hari perasaannya tertutupi dengan baik karena melihat tingkah Gea yang membuatnya banyak tertawa. Gea tidak akan pernah tau, kalau dia berjasa banyak buat Alana hari ini.
Setelah dua kali makan berat Gea mengajak untuk berpamitan pulang. Dia mengeluarkan sisi anak baik-baik nya saat berpamitan dengan ibu Arkan. Disertai ucapan singkat semoga cepat sembuh untuk Arkan. Gea, Rara dan Alana kembali ke mobil untuk pulang. Gea sudah berjanji sejak awal untuk mengantar Rara dan Alana mengembalikannya ke asrama.
Suasana di mobil sedikit hening, sampai Gea akhirnya memainkan musik kesukaannya dengan cukup keras. Lagu treasure mengalun. Yah, ini sisi imut Gea yang suka cowok-cowok imut juga. Disampingnya Rara hanya diam, sibuk dengan handphonenya entah menghubungi siapa. Sedangkan Alana ikut menggoyangkan kepalanya saat mendengar lagu Darari rock version di putar.
"Alana. Suka treasure juga?" tanya Gea. Yah, mereka banyak mengobrol sebelumnya tapi tidak pernah membahas tentang lagu kesukaan dan bias.
"hummm? aku sih suka semuanya. apalagi yang musiknya seru begini" jawab Alana masih menikmati musik hingga membuatnya sulit mendengar perkataan Gea.
"bias?" tanya Gea lagi mencoba mengecek seberapa tertarik Alana pada boyband kesukaannya ini.
"nggak bisa milih, suka semuanya" balas Alana tersenyum lebar.
"yaaah" Gea kecewa, pasalnya Alana tidak menyebut nama dan terlihat seperti bermain aman. Gea sudah menebak kalau Alana hanya tahu lagunya saja.
"Ish. Raper line aku nggak bisa pilih antara hyunsuk sama haruto, aneh sih karena mereka emang beda banget tapi beneran aku nggak bisa milih. Terus untuk yang lain, aku paling suka mashiho." jawab Alana membuat Gea tersenyum puas.
"okeh. Kamu udah dapat approve jadi teman kesayangan akuh." jawab Gea melirik Alana lewat kaca tengah.
"yeee, aku juga... biasnya Junkyu" balas Rara akhirnya meletakkan HP nya.
__ADS_1
"iyaaaa tauuuu" ucap Gea agak panjang. Dia tahu, karena fotonya terpampang di wallpaper Rara. Memang dia si paling cute luar dalam.
"eh Ge. aku nggak langsung ke Asrama ya... antar ke cafe minamdang aja... mau ketemu pacar" ucap Rara dengan santai. Dia tidak terdengar cute kali ini meski pipinya bersemu merah.
"hah... Rara punya pacar?" ucap Gea dan Alana hampir berbarengan. Gea menekankan mobilnya sampai hampir berhenti karena kaget.
"ish Geeee kan udah tau. Nggak usah pura-pura kaget" Rara menoleh ke arah Gea dengan sedikit kesal, dia bereaksi berlebihan sekarang, padahal Rara selalu cerita semuanya.
"enggak, cuma heran aja. kok bisa nggak putus-putus. padahal dia no jaem banget" seru Gea. Alana yang tidak tau siapa yang mereka bicarakan hanya mendengarkan sambil menoleh bergantian ke arah Rara dan Gea.
"ish. Kan sayaaaang. Udah ah, aku nggak mau dikomentarin begini. ntar turunin di minamdang ya." balas Rara mengulangi perkataannya sebelum memberikan reaksi lain lagi.
"kenapaaa. Penasaran banget ya?" tanya Gea, melihat Alana yang hampir menempelkan kepalanya ke jendela mobil yang tertutup.
"ish, tau aja."
"sinii maju ke depan. Aku nggak mau jadi supir pribadi." ucap Gea menoleh sepenuhnya ke kursi belakang sampai Alana segera menatapnya dan bergegas keluar mobil untuk duduk di kursi depan. Gea memajukan mobilnya lagi disertai suasana yang kembali hening.
"Gea... maaf deh kalau lancang, tapi aku penasaran mau nanya." ucap Alana yang terlalu penasaran untuk diam saja. Pasalnya si paling bodo amat ini ikut mengomentari hubungan Rara dengan pacarnya. Jadi tidak mungkin tidak ada alasan khusus.
"nggak papa Na... Gak akan marah. Tanya ajaa" balas Gea. Dia tidak akan bisa marah, ditambah lagi Alana menjadi mutual barunya untuk membicarakan kesayangannya yang lain.
__ADS_1
"kenapa berharap Rara putus dari pacarnya." ucap Alana membuka suara. Setelahnya suasana kembali hening agak lama, sampai Alana sudah bersiap untuk minta maaf dan menyuruh Gea melupakan pertanyaannya. Tapi akhirnya Gea menjawab duluan.
"Rara itu cute. Tapi bucin tolol. Dia tahu banget bakal berujung sakit hati kalau bertahan sama hubungannya sekarang, tapi dia tetep bertahan." ucap Gea menjalankan mobilnya sambil mengomel dengan nada suara agak meninggi.
Alana kaget mendengarnya. Pernyataan itu. Kalimat yang familiar di telinganya, pernah dia dengar duluu sekali. Pernah menyakiti hatinya juga. Tapi dia tetap menahannya, terus menerus sampai sekarang. Saat keadaannya sedikit lebih baik-baik saja.
"memangnya dia kenapa?" lanjut Alana, entah. Dia sangat ingin tahu pendapat Gea sekarang. Rasanya seperti menunggu orang lain untuk memaki dirinya sendiri.
"dia bukan orang yang baik. Kelihatan jelas di wajahnya, Diam-diam juga aku tahu orang itu kelakuannya bagaimana. dan. nggak pantes banget pokoknya buat Rara. Mending Arkan kemana-mana." ucap Gea bicara panjang lebar seperti orang tua yang menggosipkan anaknya sendiri. Sayang, tapi geregetan.
"Ya kalo arkan kan emang baik Geaaa. Walaupun agak-agak sedikit" jawab Alana. Membandingkan orang lain dengan arkan itu seperti membandingkan pemula dengan profesional. Jauh berbeda. Arkan yang gentle dan berperilaku manis, selalu membanggakan pacarnya dan perhatian diam-diam. Walau di luar selalu menantang untuk menggoda perempuan manapun, dia tidak pernah bertindak sesuatu yang akan menyakiti hati Bella.
"maksudku, benar-benar jauh berbeda. Arkan cuma gaya-gayaan deketin cewek lain, pacar Rara ini beneran deketinnya. Tinggal ketahuannya aja buat di sebut selingkuh" ucap Gea berapi-api. Dia sangat tidak rela kalau sampai sahabatnya nantinya sakit hati karena orang yang tidak pantas. Tapi mau bagaimana lagi. Hati manusia tidak bisa dikendalikan oleh logika. Mereka merasa semaunya.
"oooh..." Alana tidak tahu harus merespon bagaimana. Hanya bisa mengangguk-angguk dalam diam.
'tentu saja keadaannya tidak seperti aku dan Ananta. Apa sih yang kupikirkan. Kita kan udah baik-baik aja. Nggak boleh mikirin hal-hal yang bikin sedih Alana. Stop Kepo!' ucap Alana dalam hati. Ia memfokuskan diri untuk menenangkan Gea kembali.
"huft. biar aku nggak jadi kesel, kita mampir ke cafe dulu yuk" ajak Gea tanpa mendengar penolakan. Karena sedetik setelahnya dia sudah berhenti di sebuah parkiran pinggir jalan.
" iyaaa" ucap Alana sebelum membuka pintu mobil.
__ADS_1