Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
enam puluh empat. hilang


__ADS_3

Memakan hidangan yang dibuat Rara (meski beberapa gosong) sudah cukup membuat mereka kenyang. Dilanjut dengan Ananta yang dengan sigap membuatkan coklat hangat saat suasana menjadi semakin dingin. Kabut mulai muncul lagi, padahal sekarang masih siang hari. Sepertinya mereka memang datang kesini pada saat yang kurang tepat. Jadi pemandangan di depan mereka sering tertutupi oleh kabut. Langitnya juga sering redup.


Gea dan Alana sekarang sibuk membereskan bekas alat makan mereka. Rara sudah memasak, jadi mereka membiarkan Rara bersantai lagi. Sudah agak aneh saat melihat dia sudah hampir tertidur, tapi malah menawarkan diri untuk memasak. Padahal di antara mereka, Rara adalah yang paling tidak suka dengan alam. Dia lebih suka keramaian, mall dan tempat nongkrong lainnya. Tapi datang kesini sepertinya sudah sedikit merubah pikirannya. Alana saja suka tempat seperti ini, meski tidak bisa sering-sering pergi juga, karena jaraknya yang agak jauh.


Beberapa lama mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Alana pikir Rara ada di dalam tenda saat dia tidak menemukan Rara di matras tempat mereka duduk tadi. Pikirnya, Rara pasti sudah tidur, mengingat dia sudah mengantuk sejak pertama kali sampai di bukit.


"Ge.. menurut kamu, dia udah baik-baik saja? nggak?" tanya Alana pada gea yang mencuci piring di depannya. Daripada membantu, Alana memang lebih banyak melihat. Sekarang saja Alana hanya membantu Gea memegang piring yang sudah di cuci.


"entahlah. Kalian nggak tahu seberapa misterius isi pikiran dia. Keliatannya udah ketawa-ketiwi, tapi aku yakin dia masih sakit hati. Aku tahu dia sesayang itu sama mantannya, meski dia nggak pernah mau nunjukkin. Perasaan yang di pendam lama-lama pasti jauh lebih nyakitin daripada yang ekspresif kayak kamu" Alana mengangguk mendengar penjelasan Gea. Hanya Gea yang tahu orang yang berstatus mantan dengan Rara itu orang seperti apa, jadi Alana hanya bisa menilai dari penjelasan Gea saja.


"emang mantannya itu bangsat banget, nyebelin. Nggak pantes dia tuh buat dapetin Rara yang se soft itu. Tipe yang sayang banget dan tulus sama orang meskipun gengsian dan gak bisa nunjukin afeksi. Kalo dibolehin Rara juga, udah aku labrak dari lama." balas Gea. Reaksinya membuat Alana tertawa kecil. Ya, dia sangat setuju pada pernyataan kalau Gea itu cukup protektif terhadap teman-temannya. Sikapnya itu membuatnya merasa beruntung karena mereka menjadi teman, bukannya musuh.


"eh, tunggu, emang aku se ekspresif apa?" tanya Alana, saat baru mencerna kata kata terakhir Gea barusan.


"kamu itu. mau ada masalah apaaa aja sama ananta, pasti semua tau. Dari ekspresi nya gerak-geriknya. semua keliatan jelas tanpa perlu nebak-nebak." balas Gea. Benar juga sih, kadang kalau sedang marah semua orang akan kena imbasnya. Tidak peduli apa mereka terlibat atau tidak, asal ada di depan Alana bisa ikut kena getahnya.


"emang bener kata Rara sih, kamu tuh sosok mama banget, perhatian" balasnya sambil tersenyum. Yah, Gea perhatian dan protektif. Tipe teman yang akan maju paling depan kalau temannya tersakiti.


"sudah ku bilang aku tidak punya anak!" balas Gea agak keras.


"udah sana bangunin Gea, coklat bikinan ananta udah jadi tuh" lanjut Gea saat melihat Ananta sudah menata empat gelas di satu baku kecil. Benar-benar Ananta sudah menyiapkan semuanya sampai detail yang tidak terpikirkan.

__ADS_1


"iya..." balas Alana menurut. Dia harus jadi anak yang baik kan untuk mama Gea.


...****************...


"Ra... Rara hilang" ucap Alana setelah mengintip dari celah tenda. Rara tidak ada di sana. Alana panik, kembali menghampiri Gea dengan berlari kecil setelah memeriksa di beberapa sudut tenda. Alana sudah memutari tendanya tiga kali untuk memastikan Rara benar-benar tidak ada.


"apa sih. bukannya tadi di matras situ" balas Gea masih bersikap tenang. Yah, manusia segede Rara gimana bisa hilang sih. Ini kan cuma bukit kecil, dekat hutan dan tempat yang cukup luas... yah, kalau dipikir pikir, memang bisa membuat siapapun tersesat sih. Tapi ini Rara, yang selalu aware dengan sekitar.


"ga ada ge... aku udah muter tiga kali, dia ga ada di tenda." balas Alana masih panik. Ananta yang mendengar akhirnya menghampiri Alana yang kebingungan. Ananta menepuk punggungnya pelan, supaya Alana tidak terlalu panik.


"kita cari dulu, nggak usah panik" balasnya.


"cari barengan aja. takut ada yang kepisah lagi malah tambah bingung" balas ananta.


setelahnya mereka pergi bersama-sama setelah membereskan beberapa barang. Mereka hanya berbekal peta digital yang ada di website tempat wisata ini. Ada puncak bukit yang memiliki gazebo untuk melihat pemandangan dari ketinggian, dan air terjun. Juga sungai-sungai kecil di bawah air terjun. Semuanya pasti sedang sangat dingin mengingat kabur tipis yang masih memenuhi semua tempat.


Mereka pergi ke tempat terjun lebih dulu. Di cuaca yang dingin ini seharusnya Rara tidak ke sana. Tapi segalanya tetap memiliki kemungkinan kan. Jadi mereka tetap pergi.


Hanya ada gemericik air dan beberapa wisatawan lain di sana. Tidak ada yang berenang, airnya terlalu dingin sekarang. Udaranya juga, meski itu membuat suasana nya sangat segar. Tapi terlalu dingin juga sebenarnya tidak nyaman. Lihat saja orang-orang memakai pakaian tebal, sudah seperti berada di luar negeri.


Setelah menatap kecewa sekaligus khawatir, mereka pun beranjak dari sana. Rara tidak ada, tentu saja. Rara tidak mungkin pergi ke sini. Tapi puncak bukit? lebih tidak mungkin lagi kan.

__ADS_1


"jangan putus asa gitu dong. dia gak akan hilang kok. Segede ini pasti bisa pulang. Jangan khawatir" ucap Ananta, hanya dibalas lirikan marah dari Alana. Dia sudah merasa bersalah sejak tadi, karena dia sudah memaksa Rara pergi ke sini, jadi kalau Rara sampai hilang, itu salahnya juga.


"jangan berfikir yang buruk-buruk dulu na..." balas Gea.


puncak bukit itu cukup tinggi, pasti melelahkan untuk menaiki tangga sampai ke sana.


"AAAAaaarrrggghhhhh" suara keras itu terdengar dari tempat mereka berdiri. Hal itu membuat Alana dan Gea sedikit berlari untuk mencapai puncak. Ananta sudsh mengikuti di belakang Alana, untuk berjaga kalau-kalau Alana terjatuh.


"DASAR BEGO!!! GUE GAK AKAN CINTA SAMA ORANG KAYA LO LAGI!!!"


teriakan itu lagi lagi terdengar. Yang kali ini membuat mereka tidak jadi khawatir. Karena mereka tau jelas, orang yang dicari sedang baik-baik saja... sangat baik sampai bisa berteriak seperti itu.


Rara ada di pinggir gazebo. berbalut selimut tebal. sedikit terengah-engah setelah berteriak sekuat tenaga. Hatinya terasa lebih ringan sekarang. Dan benang ruwet dihatinya sudah terurai semuanya.


Hatinya menghangat, apalagi saat Alana dan Gea memeluk di kanan kiri tubuhnya.


"gitu dong. pinter" balas Gea tersenyum cerah. Mereka tertawa setelahnya.


Ananta?


mengabadikan momen di pojokan dengan keberadaannya yang setipis udara.

__ADS_1


__ADS_2