Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
empat puluh tiga. pulang


__ADS_3

Kak Rosi dan Alana benar-benar menjadi teman dekat. Saat bercanda, Rosi bilang kehadiran Alana membuatnya merasa seperti Andini masih bersamanya. Meski dia tahu yang sudah pergi tidak akan pernah kembali lagi sekalipun kita merindukannya.


Yang jelas, keberadaan Alana menjadi hiburan tersendiri yang membuatnya bisa tetap tersenyum dalam kehidupan yang dia jalani selanjutnya.


Takdir punya banyak rahasia manis ternyata. Dari sebuah perpisahan, dia mengenalkan Rosi dengan orang-orang baik yang bisa dia jadikan tempat bercerita dan bersandar saat melalui hal-hal sulit. Berbagi keluh dan saling mengurangi beban.


"seneng deh, bisa ketemu alana." ucap Rosi saat akan berpamitan hari itu. Dia menatap Alana dengan senyum cerah, seolah tidak ada beban apapun lagi di hatinya.


"aku juga seneng bisa ketemu kakak, terimakasih banyak" balas Alana. Punya seorang kakak tidak buruk juga, dia seperti mendapat lebih banyak kasih sayang yang berbeda dari yang dia dapatkan dari ayah ibu ataupun Ananta. Perasaan nyaman yang hanya datang dari sosok seorang kakak.


Setelah pertemuan singkat hari itu, Rosi sering menelpon Alana sesekali saat waktu luangnya. Alana juga senang, karena di sela kegiatannya di rumah sakit, dia punya tempat bercerita. Alana bisa berbagi keluh kesah yang biasanya tidak bisa dia sampaikan ke orang lain. Itu membuatnya sedikit lebih bahagia dari biasanya.


...****************...


Saat kamu mulai terbiasa akan sesuatu, biasanya waktu terasa berjalan lebih cepat. Kalimat itu dia rasakan juga akhirnya. Saat dia sudah terbiasa dengan rumah sakit dan merawat Ananta, penantian panjang itu akhirnya berakhir juga. Bukannya dia bersedih karena tidak bisa lagi menemani Ananta di rumah sakit, Alana hanya meras beberapa waktu yang dia alami terasa berharga.


Awalnya di masa pemulihan itu Ananta terus meminum obat untuk mempercepat penyembuhan luka sambil di awasi kalau-kalau ada efek operasi yang timbul atau alergi baru yang muncul. Setelah semua dipastikan baik-baik saja dia dipindahkan ke ruangan biasa. Dan dua minggu setelahnya ayah Alana bilang kalau Ananta sudah boleh pulang.


Respon pertama Ananta adalah tersenyum senang, walau setelah beberapa saat senyumnya memudar sedikit. Dia melirik ke arah Alana yang juga tersenyum bahagia, jelas saja... kalau sudah boleh pulang artinya keadaan Ananta membaik.


"yah... jadi ga bisa manja sama Alana lagi dong" gumamnya lirih merasa kecewa akan sesuatu. Aneh sebenarnya kalau dia bilang senang di rawat di rumah sakit, tapi kalau bersama Alana rasanya nyaman juga.

__ADS_1


"hmm kamu tadi ngomong apa ta?" tanya Alana yang tidak mendengar gumaman lirih Ananta menjadi penasaran.


"enggak..." balasnya singkat. Sekarang ini yang berada di dekatnya adalah ibu Ananta, sedangkan Alana ada di sebrang sedang mendengar penjelasan ayahnya tentang apa-apa yang harus di perhatikan setelah keluar dari rumah sakit nanti.


"Sabar dulu lah Ta... apa ibu lamar sekarang aja?" balas ibu Ananta lirih. Dia sudah menahan senyum dari tadi melihat anaknya yang justru tidak terlihat senang karena sudah bisa pulang dari rumah sakit.


"enggak. Ananta mau sekolah dulu aja" bisik Ananta yang tidak mau didengar Alana untuk kedua kalinya. Mereka kembali mendengar penjelasan ayah Alana dengan seksama.


Secara garis besar, pantangan untuk Ananta masih sama, tidak boleh berolahraga atau melakukan hal-hal yang memacu detak jantung yang terlalu keras. Hanya saja, dengan jantung yang baru harusnya Ananta bisa bertahan lebih lama dan tidak lagi merasa sesakit dulu. Meski tentunya dia harus beradaptasi dengan organ barunya itu.


Tubuh manusia tidak seperti mainan yang bisa dilepas pasang dengan mudah tanpa efek apapun. Tubuh manusia perlu waktu untuk kembali ke keadaan semula. Jadi memang perlu waktu evaluasi yang lama sebelum Ananta dibolehkan pulang, untuk memastikan jantungnya benar-benar berfungsi dengan benar.


Setelah kabar Ananta yang sudah boleh pulang, ayah Ananta segera mengurus administrasi dan ibunya segera menata baju dan semua perlengkapan Ananta untuk di bawa pulang dibantu oleh Alana yang juga sibuk.


"nggak boleh" balas Alana dengan nada yang dingin. Kalau maksud Ananta kangen rumah sakit adalah kembali di rawat disini, dia tidak akan setuju. Dia tidak mau merasakan khawatir seperti dulu lagi. Hal seperti itu sudah bukan lagi sebuah hal yang lucu untuknya.


"iya iya... cuma bercanda" balas Ananta merasa bersalah saat diberi tatapan tajam oleh Alana yang menghentikan kegiatannya menata makanan.


"bercanda juga nggak boleh" balas Alana lagi. Sekarang ini segala hal tentang rumah sakit sangat dia benci. Lebih banyak kenangan sedih yang dia rasakan sampai dia tidak mau mengulanginya lagi.


"hmmm, maaf" Ananta menarik tangan Alana, segera meminta maaf sebelum dimusuhi sepanjang hari.

__ADS_1


"Ananta, sambil latihan digerakin badannya, biar nggak kaku. Selama di rumah sakit kan kamu nggak banyak gerak" tegur ibu ananta, mencoba memperbaiki suasana tegang di antara mereka. Ditegur begitu akhirnya Ananta bangkit dari tempat tidur, benar saja tubuhnya terasa kaku. kakinya dia gerakkan secara memutar, diregangkan sambil mencari posisi yang nyaman. Siapa tahu nanti dia harus berjalan sendiri. Mengingat mood Alana sedang buruk gara-gara dia.


"Alana... arkan udah pulang?" tanya Ananta tiba-tiba. Beberapa hari ini dia jarang mendengar cerita Arkan lagi dari Alana makanya dia bertanya lebih dulu.


"Udah, duluan. dua atau tiga hari yang lalu kalo nggak salah." jawab Alana, dia selalu sibuk mengurus Ananta, makanya dia lupa dengan hal-hal lain. Dipikirannya selalu ada Ananta saja setiap hari.


"oooh. syukurlah." Ananta bisa tenang setelah mendengar jawaban itu, meski dia tau mungkin Arkan belum pulih benar sekarang. Luka kecelakaan biasanya juga butuh waktu lama untuk sembuh apalagi kalau lukanya berat sampai sempat koma.


"iya sih temen. Tapi sekarang fokus ke diri sendiri dulu kenapa. Kondisi kamu nggak lebih baik dari arkan." ucap Alana terdengar sedikit mengundang emosi. Nadanya sedikit lebih tinggi, hampir marah, atau malah sudah.


"iya iya... ini juga kan udah mau pulang." balas Ananta meregangkan tubuhnya lagi. Sedikit menyesal karena bertanya saat Alana sedang dalam mood yang kurang baik.


"jangan kebanyakan gerak, nanti capek" ucap Alana saat Ananta baru akan berdiri dari posisi duduknya.


"tadi kata ibuk suruh di pakai gerak Na" jawab Ananta, berusaha sabar. Dia tidak mau Alana lebih marah lagi.


"sudah-sudah kalian ini ribut apa sih. ayo siap-siap. Ayah udah selesai urus administrasi, kita tinggal pulang" ucao ibu Alana setelah seorang perawat datang untuk melepas infus di tangan Ananta.


Kali ini mereka benar-benar pulang. Alana menghela nafas panjang di lorong rumah sakit. Baru sekarang ini terasa nyata. Urusannya di rumah sakit benar-benar selesai. Ananta, pulang.


"seseneng itu aku pulang?" tanya Ananta melihat senyum cerah Alana. Perasaannya pasti sudah lebih baik.

__ADS_1


"iya lah." balas Alana singkat. Dia membawa satu tas berisi baju, sedangkan Ananta duduk di kursi roda yang didorong ayahnya.


"aku seneng kamu bisa pulang." lanjut Alana. menatap Ananta dengan tatapan dalam.


__ADS_2