
Sudah satu minggu, hari-hari Alana masih sama. Bolak-balik dari kamar asrama, sekolah dan rumah sakit. Walau rumah sakit menjadi tempat yang paling lama dia kunjungi.
Alana sudah sangat sering izin kepada guru, sampai akhirnya dia jujur kalau dia memang harus ke rumah sakit karena keadaan Ananta semakin parah. Dengan terpaksa dia harus menjelaskan panjang lebar tentang riwayat penyakit Ananta dan betapa setiap detik waktu sangat berharga saat ini.
Dia sangat sadar, dia bisa kehilangan Ananta kapan saja. Ditambah lagi, Arkan yang juga masih dalam keadaan koma. Alana hanya bisa mengharapkan keajaiban terjadi bagi kedua anak laki-laki itu.
Hari minggu tiba, kali ini Alana sudah datang ke rumah sakit pagi-pagi, kali ini langsung ke kamar Ananta yang terlihat lemas. Intensitas sakit di dadanya sudah menurun, meski ayahnya bilang keadaannya belum benar-benar membaik.
Alana mengamati anak laki-laki itu dengan seksama. Ananta sedang makan sekarang, sedikit tidak berselera karena menu yang hampir sama setiap hari. Terlebih rasanya hambar membuatnya ingin meminta Alana menyelundupkan makanan dari luar untuknya andai Ayah Alana tidak melarangnya.
"Hummm, makananmu terlihat sangat enak." Ananta mengintip bungkusan nasi yang di bawa Alana ke kamar, Alana belum sempat makan pagi ini. Akhirnya dia sarapan bersama Ananta di ruang rawat inap yang sedikit berbau obat-obatan sampai menurunkan selera makan.
"Apa. Makan makananmu sendiri" Ucap Alana menjauhkan bungkusan nasinya saat melihat Ananta seperti akan merebutnya dengan paksa.
"Aku makan buah saja kalau begitu" Balas Ananta. Yah, rasa buah jauh lebih enak dilidahnya daripada hidangan hambar itu. Olahan ayam pun rasanya tidak enak.
"Makan nasi juga." Alana berubah menjadi ibu-ibu galak sekarang. Ibu Ananta yang duduk disampingnya hanya tersenyum melihat tingkahnya.
Ah, andai takdir mereka lebih baik dari ini pikir perempuan paruh baya itu menatap sendu.
Tak lama setelahnya ayah Alana datang untuk mengecek keadaan Ananta. Ini adalah hal rutin yang selalu dia lakukan setiap hari selama Ananta dirawat.
Kali ini dia melirik ke arah anaknya yang sedang menatap cemas pasiennya. Pagi ini ada keajaiban kecil terjadi, namun dirinya tidak yakin apa hal ini termasuk hal baik atau buruk untuk Ananta.
Setelah selesai memeriksa keadaan Ananta, ayah Alana itu memberi isyarat agar Alana mengikutinya ke ruangannya. Hal ini harus di dengar Alana lebih dulu sebelum dia memberitahu Ananta.
__ADS_1
Alana menatap lekat ayahnya yang menghela nafas kasar. Dia ragu, sangat ragu. Apa dia boleh mematahkan harapan orang lain seperti ini?
"Teman kamu... Sudah sadar." Ucapnya dibalas oleh tatapan Alana yang sulit dimengerti, bahkan Alana sendiri tidak yakin apakah dirinya sedang bahagia atau kecewa.
"Keadaannya sudah mulai stabil sejak tadi malam. Dan menurut prosedur rumah sakit pun, kita tidak bisa memintanya untuk menjadi pendonor." Lanjut ayah Alana menjelaskan situasi.
"Keadaan berubah Alana. Ayah tidak tahu mau mencari harapan di mana lagi." Ucapnya dengan putus asa. Pengobatan yang sekarang dijalani Ananta pun tidak sepenuhnya mengobati, hanya bisa membantu fungsi jantungnya meski tetap saja penyakit Ananta menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
"Aku harus bahagia kan," Ucap Alana menatap kosong, membuat ayahnya menghentikan kalimatnya.
"Temanku selamat." Air mata Alana menetes lagi. Entah, dia tidak yakin apa penyebabnya. Alana menangis cukup lama di depan ayahnya. Dia baru berhenti saat dering handphone nya berbunyi, Itu Bella yang mau memberikan kabar bahagia, kabar yang barusan juga di dengarnya sendiri.
Alana mengusap air matanya kasar sebelum beranjak dari tempatnya duduk. Dia berpindah ke teras rumah sakit yang cukup sepi sebelum mengangkat panggilan itu.
"Alana..." Panggil bella yang juga terdengar menangis... Bahagia.
"Arkan...." Bella memberi jeda lama sebelum melanjutkan perkataannya.
"Arkan bangun. Harapan itu tidak sia-sia Alana. Arkan bangun" Ucap Bella di sela isakan yang masih terdengar samar-samar.
"Syukurlah..." Hanya kalimat itu yang bisa Alana katakan. Dia juga sama... Menangis. Meski karena hal yang jauh berbeda dengan penyebab tangisan Bella.
Alana meminta ayahnya untuk memberitahu Ananta tentang hal ini. Lebih baik jujur saja tentang semuanya. Lagipula, donor jantung itu sudah pasti tidak bisa di lakukan lagi.
Setelah memastikan dirinya tidak terlihat berantakan, Alana kembali ke ruangan Ananta. Dia melihat Ananta yang memakan kue manis yang dibelinya pagi ini. Dia hanya membelikannya untuk ibu Ananta, karena dia belum yakin apa Ananta sudah boleh memakan nya.
__ADS_1
"Hei... Itu buat tante bukan buat kamu." Ucap Alana tersenyum melihat Ananta buru-buru menjejalkan kue itu ke mulutnya.
"Huh. Jangan banyak-banyak" Lanjut Alana. Semakin dilarang pasti semakin menjadi-jadi. Lebih baik dibiarkan tapi dibatasi.
Alana tersenyum tipis saat Ananta membisikkan terimakasih dengan suara yang lirih karena mulutnya masih belum berhenti mengunyah.
Alana tahu, Ananta pasti sudah bosan dengan segala hal tentang rumah sakit. Anggap saja kue ini menjadi sedikit penghibur buatnya.
Namun suasana kembali hening saat Ayah Alana masuk ke dalam ruangan untuk memberitahukan berita buruk. Sekali lagi pria paruh baya itu menghela nafas panjang sebelum bicara.
"Pendonor yang kita harapkan, sudah pulih dari koma. Dan kita tidak bisa lagi meminta donornya."
"Maaf, saya tidak menyangka hal ini akan terjadi. Maafkan saya karena sudah memberikan harapan kosong ini kepada nak Ananta." Ucapnya. Alana hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia tidak berani menatap ekspresi Ananta sekarang.
"Syukurlah. Itu artinya orang itu selamat kan." Ucap Ananta di tengah keheningan.
"Awalnya aku khawatir, karena harus merenggut kehidupan orang lain untuk kesembuhanku. Tapi dengan begini, aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal itu lagi kan." Ucap Ananta yang tersenyum. Alana melirik sedikit saat Ananta menyelesaikan kalimatnya.
Tapi itu artinya hilang harapan lain untuk kesembuhanmu Ananta...
Alana ingin mengucapkannya dengan lantang tapi sebisanya dia tahan. Dia tidak ingin menjadi jahat disini.
"Dan identitas pasien itu satu sekolah dengan kalian." Lanjut ayah Alana, Ananta melirik sekilas ke arah Alana yang terlihat salah tingkah. Alana tidak terlihat terkejut sama sekali yang artinya Alana sudah tahu siapa orangnya.
"Namanya Arkan." Lanjutnya diiringi dengan senyum pahit. Ananta mengalihkan pandangan sepenuhnya pada Alana. Kini dia paham dengan alasan Alana menangis beberapa hari lalu. Gadis itu pasti sudah memikirkan banyak hal di kepalanya, Lagi-lagi gara-gara Ananta. Ananta justru merasa bersalah karena sudah membuat Alana terlibat dalam skenario yang memusingkan itu.
__ADS_1
"Hmmm. Syukurlah." Ucapnya sekali lagi. Jujur, dia mengatakannya dengan tulus. Ananta tidak bodoh, dia tahu dia sudah melepaskan harapan hidupnya lagi. Tapi saat dia tahu bahwa itu artinya temannya selamat dari kematian membuatnya semakin mudah menerima takdir sekali lagi.