
Ananta bangun dari tidurnya dengan mata sembab. Setelah beberapa minggu menghilang, mimpi mengerikan yang sama kembali menghampiri tidurnya.
Kali ini mimpi itu berhasil mengganggunya, sampai-sampai dia tidak berani memejamkan matanya lagi.
Mimpi tentang hari terakhirnya bersama Alana yang dipenuhi tangisan. Dalam bayangannya dia melihat Alana yang menangis keras di samping tubuhnya sendiri. Dia hanya bisa menggapai Alana yang tak bisa lagi dia sentuh.
Tubuhnya, suaranya, semua tidak berfungsi sama sekali. Matanya baru kembali terbuka saat Alana menghadap ke arahnya dengan air mata yang terus mengalir. Raut sedih itu membuatnya tak tahan hingga akhirnya berhasil membangunkannya dengan air mata yang sudah menggenang.
Kenapa dirinya kembali mengalami mimpi buruk seperti ini lagi setelah dia bersama Alana? padahal harusnya dia mendapatkan kembali semangat hidupnya.
Jawaban pertanyaan itu sangat ia tahu, tapi ia benci mengakuinya. Kegelisahannya sejak dulu bukan karena Alana. Tapi karena dirinya sendiri. Dirinya yang takut tidak bisa memenuhi janjinya untuk bisa bersama Alana sampai waktu yang mereka setujui. Dia yang selalu hidup seperti menunggu kematian, bagaimana bisa dia membiarkan orang lain terlibat dalam hidupnya yang menyedihkan.
Kini dia menjadi lebih takut pada kenyataan bahwa dia bisa tiba-tiba pergi meninggalkan rasa sakit untuk Alana. Alana yang dicintainya.
Sebenarnya dia sudah berusaha melepas Alana pelan-pelan dengan pergi ke SMA tempatnya bersekolah sekarang. Hal itu dilakukannya untuk mencegah rasa sakit hati Alana yang lebih besar lagi dari yang pernah ia lihat dulu. Namun ide itu gagal oleh Alana sendiri yang justru ikut bersekolah di tempat yang sama dengannya.
Memikirkannya, Ananta sadar. Alana sudah bukan Alana kecil yang akan menangis putus asa saat dirinya menjauh. Bukan Alana yang akan diam saja bila dia tinggal pergi. Alana yang sekarang, adalah Alana yang tidak terkalahkan. Alana yang mampu melakukan apa saja untuk tetap bersama dengannya. Orang yang cukup kuat untuk berada disisinya. Walau, dia masih belum benar-benar yakin akan hal itu.
"Ta... Kenapa masih bangun jam segini" Panggil arkan yang masih setengah bangun. Dia melirik jam kecil di meja. Baru jam 3 pagi, kenapa teman sekamarnya itu terjaga jam segini.
"Ah, gak papa. Barusan kebangun" Ucapnya, padahal nyatanya sejak jam 1 pagi matanya tidak bisa diajak tidur lagi. Setiap kali memejamkan mata dia melihat gambaran yang sama, jadi dia memilih untuk tidak tidur sama sekali. Ananta memilih meringkuk di kasurnya hingga pagi. Pikirannya melayang, tentang hal-hal yang sudah lama mengganggu kepalanya itu.
.........
"Ananta." Panggil Alana. Alana memang sudah tidak mengikutinya sampai ke asrama seperti kemarin-kemarin, tapi Alana masih menempel padanya setiap ada kesempatan. Seperti saat jam istirahat sekarang ini, keduanya sudah duduk berhadapan di meja kantin.
Alana lebih suka duduk di depan Ananta, supaya dia bisa melihat wajah Ananta sepuasnya. Ananta hanya membiarkannya, meski kadang tidak nyaman juga saat Alana melihatnya makan.
"Minggu besok kemana?" Tanya Alana. Minggu adalah hari bebas bagi mereka yang tinggal di asrama. Hanya Satu hari itu mereka bisa bebas pergi keluar dari Asrama dan sekolah. Walaupun mereka tetap harus kembali sebelum jam 8 malam.
"Sedikit check up bulanan." Jawab Ananta cuek. Ayah Alana memang selalu menyempatkan waktu di hari minggu untuk Ananta, pasien jangka panjangnya. Walau tidak setiap minggu, Ananta masih harus pergi ke rumah sakit 2-3 kali dalam satu bulan dengan jadwal yang tidak menentu.
"Ketemuan sama ayah lagi?" Tanya Alana yang kini cemberut. Ia tahu pasti kalau dirinya akan diabaikan lagi selama hari minggu ini.
__ADS_1
"ikut?" Tanya Ananta. Biasanya dia lebih sering sendirian. Tapi setelah melihat Alana kecewa dia pikir mungkin tidak apa-apa mengajak Alana kali ini.
"boleh?" Alana sudah tersenyum lebar mendengar satu kata dari Ananta. Semudah itu membuatnya tersenyum untuk segala sesuatu tentang Ananta. Senyumnya lebih lebar lagi saat Ananta mengangguk pelan.
"Setelah itu mau jalan-jalan?" Ucap Ananta lagi, yang menyadari senyum Alana terlalu lebar sekarang. Sebahagia itu kah bangun pagi-pagi di hari minggu hanya untuk ke rumah sakit.
Alana tidak bisa pura-pura tidak antusias dengan jawaban itu. Karena jalan-jalan bersama Ananta menjadi momen langka bagi mereka akhir-akhir ini. Kini senyumnya mengembang tanpa bisa ditutupi.
"Setuju" Jawab Alana singkat. Dia sudah merebut jari kelingking Ananta untuk membuat janji meski hal itu tidak cocok dengan ekspresi Ananta yang terlihat sedikit malu.
.........
"Kondisi kamu cukup baik Ananta. Tapi tetap ingat, larangannya tetap harus dipatuhi." Ucap sang dokter dengan ekspresi serius. Dia tidak main-main memang, hal sederhana seperti berlari dan aktivitas yang berlebihan sangat berbahaya untuk jantung Ananta.
Sebenarnya ayah Alana itupun tahu Ananta sudah hafal dengan apa yang diperingatkannya. Tapi dia masih saja mengulanginya setiap kali bertemu. Tanda bahwa dia sangat serius untuk itu. Apa lagi, kesehatan Ananta sangat berpengaruh pada emosi Alana. Kini yang terjadi adalah jika Ananta baik-baik saja, artinya anaknya juga akan baik-baik saja. jadi dia harus memastikan keduanya tetap baik-baik saja.
"Terimakasih om. Kalau sudah selesai semuanya. Saya pamit ya." Ucap Ananta sopan.
"Tunggu."
"Kalian pasti akan jalan-jalan setelah ini. Jadi bawa ini untuk di makan nanti." Ucapnya menunjukkan perhatian.
Ananta sudah seperti anak keduanya, karena masa pengobatan yang sangat lama, membuatnya memperlakukan Ananta tidak bedanya seperti anak sendiri. Lagipula di matanya Ananta lebih terlihat seperti menantu daripada seorang pasien.
"Baik om. Terimakasih." Ananta menerimanya dengan patuh.
"Jaga Alana baik-baik ya... Kadang Alana itu... Tidak bisa dikendalikan." Nada khawatir itu sangat kentara. Ananta paham akan hal itu karena dia sudah melihatnya berkali-kali.
Alana memang sering membuatnya khawatir. Alana bersama Ananta, hal itu justru membuatnya lebih khawatir. Tapi Ayah Alana yakin bahwa Alana adalah orang yang kuat dan lebih dari mampu untuk mencapai kebahagiaannya sendiri. Dia hanya perlu menjaga dari jauh dan mengamati segalanya.
"Pasti om. Saya pamit dulu" Ucap Ananta untuk terakhir kali sebelum menghilang di balik pintu ruangan sang dokter.
"Apa kata ayah?" Sergap Alana di balik pintu rumah sakit. Setengah hari ia menunggu Ananta check Up, setengah hari pula dia merasa khawatir dengan keadaan Ananta. Walau sempat bosan juga karena dia harus menunggu sendirian di luar ruangan. Ananta tersenyum melirik tisu yang disediakan di rumah sakit berubah menjadi bentuk-bentuk ajaib dan lucu gara-gara menjadi korban kebosanan Alana.
__ADS_1
"Ini... Kata om Buat kita jalan-jalan nanti" Gurau Ananta. Dia tahu betul apa yang di pertanyakan Alana sekarang.
"Ananta.. " Panggil Alana lagi dengan nada sedikit lebih keras dari sebelumnya.
"Bagus.. Asal enggak lakuin pantangan yang biasanya aja. udah dapat obat juga" Jawab Ananta, tidak ingin melihat raut khawatir itu lama-lama. Alana pun kembali tenang mendengarnya.
"Jadi... Sekarang kita kemana?" Tanya Ananta, mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku mau... danau" Ucap Alana spontan.
"Aku enggak bisa kasih kamu danau," Ucap Ananta sedikit bercanda. Alana nampak cemberut mendengarnya
"Ah.. Jalan-jalan ke danau maksudnya. Ayo" Ucap Ananta buru-buru sebelum Alana menjadi kesal. Ananta berjalan duluan sebelum Alana benar-benar marah.
"Kemana aja aku mau sih, asal sama kamu." Ucap Alana mengedipkan matanya dengan nakal sebelum berlari kecil mengejar laki-laki di depannya itu.
Tapi jujur, Ananta beruntung Alana bisa mengungkapkan apa yang dia mau dengan mudah. Tidak seperti perempuan di luar sana yang suka membingungkan laki-laki dengan kata 'terserah'. Kemauan Alana selalu jelas tanpa sedikitpun ragu-ragu tentang apapun, apalagi jika menyangkut Ananta.
...***...
Mereka memang selalu simpel dan sederhana. Apa yang diinginkan harus dikatakan agar orang lain paham. Meski tetap saja, ada hal-hal yang tidak bisa diungkapkan dengan cara seperti itu.
Mereka tidak pergi jauh sebenarnya, karena danau yang di maksud berada di dekat rumah sakit. Ruang terbuka yang cukup sepi pengunjung itu sering dijadikan tempat singgah pasien rumah sakit untuk menenangkan diri.
Di sana, dulu Alana dan Ananta sering mampir untuk bermain. Alana akan berlarian kesana kemari sedangkan Ananta hanya menunggu dan mengamati.
Namun hari ini keduanya berdiam diri karena mereka datang untuk bersantai dan menikmati rerimbunan yang terlihat segar.
Banyak hal terasa berlalu, namun mereka masih di sana dengan orang yang sama, di tempat yang juga terlihat sama dengan ketika mereka kecil. Nostalgia menyerbu ingatan mereka.
"Dulu kamu terlihat lucu saat main-main disini" Ucap Ananta tiba-tiba, menggali masa lalu.
"Selain lucu aku juga cantik tau" Ucap Alana tidak Terima karena dia lebih senang di sebut cantik daripada di sebut lucu. Dia menghela nafas kasar, sebelum membuat suasana hening itu terasa sangat serius, lagi.
__ADS_1
"Makasih ya... Masih disini bareng aku" Lanjut Alana... Ananta tersenyum mendengarnya.
"Makasih, masih disini juga bareng aku" Jawab Ananta dengan kalimat yang sama.