
Butuh waktu cukup lama bagi Alana untuk kembali ke asrama sekolah karena kendaraan umum yang di tumpanginya untuk pulang ke rumah belum pergi ke arah sebaliknya. Tidak sabar menunggu lebih lama, akhirnya Alana memilih menaiki kendaraan lain meski harganya berkali-kali lipat.
Sepanjang perjalanan Alana menelpon nomor Ananta dan arkan namun tak satupun menjawab panggilannya. Lagi-lagi Alana mengirim banyak pesan pada kedua nomor meski tetap tidak di baca. Kepalanya sudah dipenuhi skenario buruk yang mungkin terjadi selama dia emosi sebelumnya. Sekarang dia merindukan Ananta lebih dari biasanya.
Setelah hampir menyerah Alana mencari-cari kontak lain yang bisa dihubungi. Lalu ia menatap penuh harap pada nomor gea yang sempat dia simpan (atau lebih tepatnya gea yang menyimpan paksa nomornya di handphone Alana). Dan sekarang dia harus berterima kasih pada Gea atas hal ini nanti.
"Gea..." Tulisnya ragu. Namun beberapa detik kemudian gea membalasnya. Sangat cepat sampai-sampai Alana kaget melihat notifikasi yang muncul beberapa detik setelah pesannya terkirim.
"Alana... Kok nggak ikut kegiatan minggu ini... Kan kangen." Serbu gea. Membaca pesan dari gea membuat Alana seolah mendengar langsung suaranya yang nyaring dan ceria. Dia bisa membayangkan bagaimana Gea kecewa karena ketidakhadirannya pagi ini.
"Arkan ada di sana?" Tanya Alana langsung. Maaf Gea, Aku akan menyapa dengan benar lain kali, pikir Alana.
"Hmm.. Enggak. Tadi kesini sebentar kasih arahan, terus udah. Dia izin pulang duluan. Kayanya sih ketemuan sama pacarnya. Soalnya buru-buru." Balas gea secepat kilat padahal pesannya cukup panjang. Meski Gea berasumsi seperti itu, dia tahu Arkan pasti sedang bersama Ananta sekarang.
"Oh... terimakasih informasinya" Jawab Alana singkat pikirannya kembali berpusat pada Ananta.
"Hei belum di jawab. Kenapa enggak muncul kamu?" Tanya gea lagi dengan gemas. Menurutnya Alana baru saja mengalihkan pembicaraan. Yah, dia tidak tahu bagaimana wajah cemas Alana sekarang.
__ADS_1
"Ada emergency soal Ananta. Sekali lagi terimakasih informasinya. aku mau cari Ananta dulu. Nanti aku hubungi lagi" Balas Alana cepat lalu keluar dari obrolannya dengan gea, dia kembali menelpon arkan entah ke- berapa kali. kendaraannya bahkan terasa berjalan lambat sekarang membuat rasa cemasnya semakin menjadi-jadi.
Dia sudah sampai di sekolah tapi teleponnya masih tidak tersambung juga. Akhirnya, meski sempat ragu beberapa saat dia memutuskan untuk segera berlari ke halaman gedung asrama laki-laki. Di depan gedung tinggi itu Alana menatap ke atas di kamar Ananta. Sedikit putus ada saat tidak melihat tanda-tanda bahwa Ananta ada di sana.
Akhirnya Alana menelfon Arkan lagi kesekian kali. Setelah bunyi dering cukup lama akhirnya kali ini panggilannya tersambung. Dari seberang sana terdengar Arkan menghela nafas berat sebelum bicara. Dia terdengar ragu namun tidak ada jalan lain yang bisa dipikirkannya sekarang. Ananta butuh Alana.
"Alana. Kamu harus kesini deh" Ucap arkan sebelum dia sempat berbicara.
"Aku di pintu asrama. Tapi enggak bisa masuk." Jawab Alana, kini dia sedang berhadapan dengan penjaga asrama. Sebelumnya dia hanya berniat bertanya kalau-kalau Ananta ada di asrama atau tidak. Tapi sekarang, sepertinya dia memang harus masuk ke dalam. Ditatapnya penjaga asrama yang terlihat garang. Tentu saja dia tidak akan mengizinkan siswi perempuan untuk masuk ke dalamnya.
"Buk. Maaf saya enggak berniat melanggar aturan, tapi saya bener-bener harus masuk." Jawab Alana sedikit putus asa setelah beberapa kali di tolak oleh wanita di depannya yang menatapnya dengan tatapan yang tidak ramah sama sekali.
"Oke, saya paham. Tapi kamu tidak boleh masuk sendirian." Ucap sang penjaga asrama menyerah setelah mendengar Alana dan Arkan menjelaskan banyak hal dengan raut yang panik.
"Saya temani Alana ke atas buk... Boleh ya.." Bujuk Arkan masih berusaha meyakinkan penjaga asrama. Dia ikut membujuk dengan wajah yang sama memelas dengan Alana.
"Enggak. Enggak cukup kamu sendiri. Saya ikut ke atas." Jawab si ibu final. Lebih baik begini, dari pada siswi di depannya ini masuk ke asrama laki-laki bersama siswa laki-laki lainnya.
__ADS_1
Mereka bertiga akhirnya naik bersama-sama, lalu memasuki kamar Ananta yang kini penuh dengan suasana suram karena Ananta yang masih meringkuk di atas tempat tidur.
"Ta..." Panggil Alana. Ananta masih memunggunginya tanpa bergerak sedikitpun.
"Ananta." Alana mengusap punggung Ananta yang terbalut selimut sampai kepala. Alana menyibak selimut itu hingga menampakkan wajah Ananta yang masih membekas air mata. Perlahan Alana mendudukkan tubuhnya lalu menarik tangan Ananta hingga menghadapnya. Kepalanya masih menunduk. Alana melingkarkan tangannya ke leher Ananta, membawa mata yang menatap hampa itu untuk bersandar di bahunya.
Perlahan, Ananta menangis terisak di pundak Alana dengan Alana yang masih mengusap punggungnya sampai Ananta kembali tenang.
Alana tidak menyangka bahwa Ananta terpuruk sedalam ini karena kepergian kak Fio. Arkan bilang dia selalu terlihat baik-baik saja. Sejak pulang hari itu, dia tidak menangis sama sekali dan hanya menatap dengan hampa seolah di depan matanya hanya ada ruang kosong. Pertanda bahwa sebenarnya dia sangat tidak baik-baik saja.
Dia tetap bersekolah meski beberapa kali dia akan meminta izin untuk pergi ke suatu tempat lalu pulang saat malam. Setahu arkan Ananta bahkan tidak makan selain roti yang sesekali dia berikan.
Hari minggu ini keadaannya semakin parah, karena dia tidak keluar dari kamar sama sekali. Arkan masih sempat pergi ke kegiatan club, namun segera kembali ke kamar asrama karena khawatir.
Ananta tidak bicara satu katapun padanya. Juga tidak mau melihatnya. Karena itu akhirnya dia mengangkat telepon dari Alana meski Ananta sudah melarangnya.
Ia bahkan sudah melakukan usaha terakhirnya dengan mengikuti semua permintaan Ananta sebelumnya, tapi itu tidak membuat keadaan membaik. Ananta lebih butuh Alana daripada apapun sekarang.
__ADS_1
Ibu penjaga yang ikut mengantar Alana ke kamar Ananta hanya diam dan memperhatikan, menatap maklum atas keras kepala Alana yang memaksa masuk sebelumnya. Sedangkan Arkan sudah melempar raut leganya sedari tadi, seolah temannya ini sudah menemukan obat dari keterpurukan nya hingga beberapa saat lalu.