Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
tujuh puluh. bersatunya pasangan aneh (2)


__ADS_3

Gea tidak pernah se niat mengikuti orang sebelumnya. Bersikap wajar saat sedang mengawasi orang lain itu sangat sulit.


"Sudah. mereka masuk ke sana." ucap Dewa meminggirkan mobilnya di tempat parkir.


"tunggu. Kamu yakin ini tidak apa-apa?" tanya Gea yang justru ragu.


"Sekalipun ketahuan, kamu bisa pura-pura sedang coba cafe baru." ucap Dewa. Dia sangat tenang.


"oke. Demi Rara." balas Gea. Segarang-garangnya Gea, dia tetap takut dibenci teman baiknya itu. Jadi dia tidak bisa bersikap berlebihan.


Gea dan Dewa hanya berjalan bersebelahan, tapi Gea tidak akan pernah tahu bagaimana Dewa sangat senang akan hal itu. Berada dalam jarak sedekat ini dan masih bisa berlagak santai itu sudah termasuk keajaiban.


"Aku pesankan kopi. Kamu cari tempat duduk. Mau minum apa?" tanya Dewa.


'latte.'


"latte. terimakasih." balas Gea tersenyum. Dia segera berbalik untuk memindai ruangan, mencari keberadaan Rara yang duduk dekat jendela. Dia pun memilih kursi yang menghadap ke sana tapi agak tersembunyi. Gea segera duduk dan mengamati.


Rara hanya berbincang ringan di sana. Membicarakan hobi, dan hal-hal ringan. Seperti ucapannya, sepertinya mereka memang masih sebatas teman.


Laki-laki yang baik. Memang standarnya apa? berkata-kata baik saja tidak menjamin, tampilan yang lembut tidak menjamin, lalu apa?.


"memangnya laki-laki yang baik itu seperti apa?" tanya Gea bermonolog.


"menurutku, itu dilihat dari sikapnya, cara dia menatap, cara dia memperlakukan, gestur, semuanya bisa di amati meskipun hasilnya tidak selalu valid." balas Dewa. Gea menoleh kepadanya.


"caranya menatap?" Gea merasa mengucapkan sesuatu yang salah, karena saat dia bilang begitu Dewa balik menatap matanya dengan tatapan lembut.


'apa yang seperti ini?' pikirnya. Dia menggeleng duluan sebelum memikirkan jawabannya.


'kita tidak sedang menilai dia. fokus Gea.' pikirnya lagi. Tapi... cara tatapan Dewa dan laki-laki itu... hampir sama.


'itu mungkin, kami kan teman. tapi bedanya... untuk laki-laki yang di sana, berpotensi buat jadi pacar Rara'


"caranya dia menatap menurutku tidak ada yang salah." ucap Dewa. Gea yang sedari tadi mengamati justru diam membuatnya perlu mengatakan pendapatnya.

__ADS_1


"eh, iya. mungkin dia orang yang baik." ucap Gea.


"tidak cukup dengan itu." ucap Dewa membisikkan sesuatu pada pelayan yang lewat, orang itu mengangguk.


"kamu amati saja." Dewa melihat Gea menatap dengan tatapan bertanya.


"lihat saja sendiri. mulai sekarang, akan agak sulit menyembunyikan karakternya yang sesungguhnya." ucap Dewa mengarahkan Gea untuk kembali mengamati Gea dan Rara.


Pelayan itu menumpahkan segelas minuman pada baju Teman Rara. Itu adalah hal nekad yang tidak pernah terpikir oleh Gea.


Di luar dugaan, laki-laki itu merespon dengan tenang. Dia tidak langsung marah.


"tidak apa-apa. Saya ada baju ganti di mobil. Aku ganti dulu ya." ucap laki-laki itu dengan sopan.


"sudah kubilang kan dia laki-laki yang baik." ucap dewa. Laki-laki itu pamit ke kamar mandi. Rara hanya merespon biasa saja.


"Oh, huft sayang sekali." ucap Gea bermonolog. Dia punya perasaan yang serba salah sekarang. Sekalipun orang itu jahat, dia tidak yakin bisa membuat Rara menjauh. Kalau orang itu baik, dia rasa Rara tidak akan memberikan kesempatan secepat itu juga.


"kenapa?"


"kalau itu benar-benar cinta. Dia akan menunggu sekalipun perlu waktu yang lama." balas Dewa, dia sedikit tahu cerita tentang Rara yang patah hati. Saat itupun dia juga sedang mengamati.


Entah, segala hal terasa agak related dengan dirinya yang diam-diam menjadi penggemar rahasia juga. Yah, dulunya dia merasa cukup memandangnya dari jauh. Hanya menunggu tanpa bertindak. Tapi tiba-tiba sedekat ini agak membuatnya merasa ingin menjadi serakah. Apa waktunya sudah tiba.


"hmmm. Sepertinya aku tidak perlu terlalu khawatir. Nanti, andai mereka pacaran. Baru aku awasi mereka lebih dekat lagi." ucap Gea. Dewa tersenyum ke arahnya.


"Btw, ternyata kamu orang yang cukup peka ya." ucap Gea balik mengajak bicara Dewa.


'iya, kamunya yang tidak' pikir dewa. Yah, dia sendiri juga tidak pernah menunjukkan apa-apa. Bagaimana bisa peka.


"biasa saja."


"Gea!!" Suara panggilan itu seperti kilat yang menyambar. Apa Gea ketahuan sekarang?


"aku tahu itu pasti kamu. Tapi... hmmm pemandangan yang sangat langka." ucap Rara saat sudah berdiri di dekat meja Gea dan Dewa. Dia menatap curiga ke arah Dewa. Ya... pemandangan langka yang dia maksud.

__ADS_1


"Ah... Dia." Gea yang panik langsung menunjuk ke arah Dewa yang juga kebingungan.


"dia minta dibelikan kopi, tidak. Dia ajak beli kopi." ucap Gea. Tidak mungkin kan dia bilang dia yang mengajak Dewa menguntitnya.


"hummmm beli kopiii." ucap Rara masih dengan tatapan curiga.


"Nanti harus cerita sedetail-detailnya." balas Rara. Gea mengangguk patuh. Ya, kalau nanti dia agak bisa berpikir jernih dan merangkai cerita yang agak meyakinkan. Sekarang ini dia sedang terlalu panik untuk bicara apapun.


"oh iya. Yang itu, namanya Faris. Mau kenalan?” tawar Rara saat yang dibicarakan baru kembali dari toilet.


"aah... tidak perlu. Kenalannya kapan-kapan saja. Soalnya Dewa udah buru-buru pulang" ucap Gea lagi-lagi menjadikan dewa alasan. Dewa yang kaget menunjuk dirinya sendiri.


"sudah. Aku duluan ya." ucap Gea menatap Rara dan dewa bergantian. Dia menarik dewa berdiri dan segera mendorongnya ke arah pintu. Padahal, Lattenya baru saja datang.


"bye bye. aku duluan." ucap Gea agak keras.


"Latte nya aku minum ya." ucap Rara sambil tertawa. Dia menatap pesanan yang baru datang itu.


"hmmm... coklat?" iya. Dewa memesan es coklat di kafe. Rara saling tatap dengan pelayan yang bingung, pelanggannya pergi duluan sebelum dia sempat menaruh pesanan.


"taruh di meja saya aja kak. Itu tadi temen saya buru-buru." ucapnya. Lumayan juga, dapat tambahan minuman gratis.


"loh, kamu pesen lagi?" tanya Faris melihat Rara datang bersama pelayan yang membawa dua minuman lagi.


"enggak.Tadi di beliin sama temen" ucapnya berbohong. Lebih tepatnya, pemiliknya meninggalkan pesanannya, jadi daripada terbuang sia-sia lebih baik dia ambil saja kan.


"Hummm. Teman kamu baik ya." ucap Faris.


"hmm. iya, baik banget." Rara tersenyum.


"mau coklat?" tanya Rara. Faris mengangguk.


...****************...


Hai... terimakasih sudah baca ceritaku, beri hadiah dengan nonton iklan gratis atau kirim poin ke penulis yuk biar makin semangat buat nulis chapter selanjutnya...

__ADS_1


see you kalo udah semangat nulis lagi, hehe


__ADS_2