Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
lima puluh sembilan. Janji


__ADS_3

Hari-hari ujian itu akan terasa cepat, kalau mengerjakannya tanpa beban seperti alana. Yang dia tahu hanya selesai cepat, lalu memesan makanan kesukaan untuk melupakan apapun jawabannya hari ini. Tidak juga mengkhawatirkan tentang hasil nya akan seperti apa. Alana tidak peduli.


Hari-hari monoton itu akhirnya berakhir juga. Ditandai dengan Alana yang berkacak pinggang menagih janji untuk jalan-jalan setelah ujian.


"Geaaa... jalan-jalan." ucapnya begitu gea, rara dan Ananta sampai di kantin. Perkataannya membuat Gea memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing.


Permintaan ini agaknya terlalu tiba-tiba kalau diminta sekarang. Karena yang selesai hanya ujian, belum pementasan dan class meeting juga pengumuman nilai. Baru setelah banyak proses itu mereka akan punya libur panjang.


"Bentar sayangku. Aku pusing." ucapnya mengeluh.


"kan udah janji" ucap Alana seperti sedang menagih sesuatu ke ibunya. Ya, biarkan Alana menjadi bayi besar Gea sekarang. Toh, biasanya justru Gea yang senang memperlakukannya begitu.


"iyaaa aku bilang habis ujian. Tapi nanti setelah class meeting, ya" ucapnya dengan kesabaran yang agak menipis, sudah setipis tisu di bagi lima.


"kalau gitu aku mau camping. Kan libur panjang" ucapnya lagi. Dia ingin membuat banyak kenangan indah lain bersama orang-orang ini. Jadi, camping rasanya akan menjadi kenangan yang cukup spesial.


"iya. terserah, asal jangan sekarang. Kita masih harus latihan dan mengatur panggung untuk acara penutupan nanti." balas Gea. Alana sendiri juga tau itu, tapi bersikap kekanakan menyenangkan juga. Buktinya permintaannya langsung dikabulkan begitu saja.


"janji!" seru Alana mengaitkan jari kelingkingnya dengan Gea.


"hei, udah kamu jangan ganggu Gea terus. nih makan." ucap Ananta menyuapkan nasi goreng, meski niat lainnya juga untuk membuat Alana diam sebentar.

__ADS_1


...****************...


kegiatan di hari selanjutnya memang sibuk. Apalagi Arkan, si koordinator utama malah hanya bisa mengontrol dari ruma semua kegiatan yang dilakukan. Gea menelponnya berkali-kali, seolah kalau mereka pusing arkan juga harus ikut pusing. Lagipula ide panggung masih harus diperiksa arkan juga.


Penataan panggung adalah hal yang paling membuat sibuk, meski latihan para aktor juga sama menguras tenaga. Tapi untuk kali ini semua akan di tugaskan untuk mengatur panggung karena pembagian tugasnya masih serabutan. Salahkan ketidakhadiran arkan untuk ini. Semua orang jadi tidak bisa di atur kalau bukan olehnya.


Alana lebih suka menggambar background panggung, sedangkan rara menata bunga dan rumput artifisial. Mereka melakukannya tiap sore setelah kegiatan class meeting berakhir. Toh mereka tidak banyak berpartisipasi, kecuali Alana yang dikirim untuk lomba lari antar kelas. Dan tentu saja, dia menang. Sungguh, sibuk sekali.


Melihat teman-temannya sibuk, Ananta juga ikut membantu seadanya, hanya menemani Alana yang pulang lebih akhir darinya. Sesekali memperhatikan lengan dan pipi Alana yang terkena cat abu-abu yang mereka gunakan. Sangat tidak rapi sekali.


"Na... bentar" ucap Ananta menghampiri perempuan yang terlihat sangat fokus pada pekerjaannya itu.


Ananta dengan telaten menghilangkan noda cat di wajah Alana sebelum membasuhnya lagi dengan air supaya baunya tidak terlalu menyengat.


Setelah hilang sepenuhnya baru dia mengeringkan pipi Alana dengan tisu, menutupnya dengan masker lucu bergambar binatang.


"sudah" ucap Ananta tersenyum puas. kalau begini kan Alana jadi tidak belepotan cat lagi, pikirnya tanpa menyadari Alana yang sedari tadi hanya diam. Dan itu tidak seperti biasanya.


"udah lanjut kerja lagi. nanti tidak dapat gaji" ucap Ananta bercanda. Tentu saja mereka tidak di upah untuk hal ini. Hanya perasaan senang karena bisa mengerjakannya bersama-sama.


"huft iri sekaliiii mau punya pacar juga" kesal Gea melihat dua orang ini bersikap manis. Dia baru saja menggantikan tugas arkan untuk memberi arahan untuk tata letak panggung sebelum bisa menghampiri teman-temannya yang terlihat bersantai itu. Dia tidak sadar bahwa dewa menatapnya penuh arti saat dia bicara agak keras tadi. Yah, orang itu selalu berada disekitarnya dan tidak pernah ketahuan sekalipun.

__ADS_1


Huft, Alana dan Ananta di sisi kanan. Gea dan dewa di sisi kiri. Gerak-gerik menggemaskan itu tertangkap di mata Rara semua membuatnya menghela nafas kasar. Dari sudut pandangnya semua terlihat dan itu lucu sekaligus menyebalkan.


Perhatian Ananta yang peka pada hal-hal kecil membuatnya iri, karena orang yang dia sebut pacar agaknya tidak akan mungkin bersikap seperti itu. Sedangkan Dewa, tatapan seperti itu tidak pernah ia dapat dari orang yang katanya mencintainya. Iri sekali.


"Hei bunganya patah!!!" seru Gea yang tiba-tiba menghampiri Rara membuatnya kaget. Dia memeriksa benda yang Gea maksud, dan benda itu baik-baik saja.


"apaan sih. Nggak lucu" kesal Rara, tidak lagi bersikap anggun.


"habisnya, ngelamun. Itu tatanannya jadi agak berantakan" Gea menunjuk bunga palsu di depan Rara, yah, itu agak berantakan meski tidak sampai rusak juga.


"salah kalian sih, bikin pemandangan yang ganggu konsentrasi" balas Rara bernada agak tinggi. Sepertinya dia benar-benar marah, tapi rasanya agak tidak beralasan. Rara terbiasa melihat hal seperti ini tapi dia marahnya melebihi biasanya. Lagipula, Rara tidak pernah berkata sekeras ini sebelumnya. Karena itu Alana tahu ada yang salah dengan sahabatnya itu.


"Ah, aku tidak bisa mengendalikan diriku sekarang, sial!" ucapnya lagi membuat Alana dan gea menyadari ada yang salah dengan Rara. Temannya yang seringnya terlihat anggun itu tidak biasanya mengekspresikan perasaannya dengan kalimat kasar.


"Ra, nanti kita makan bareng ya. Bertiga aja." ucap Alana menengahi. Dia menekankan kata bertiga, karena dia tidak mau melibatkan ananta dalam hal seperti ini. hal-hal tentang perasaan perempuan memang harusnya mereka bahas bertiga saja.


Yah, tentu. hal-hal yang membuat suasana tidak nyaman tidak boleh di bahas sekarang. Semua tatanan ini sudah cukup membuat pusing jadi tidak perlu menambah keruh suasana.


Mereka akan membahasnya nanti, saat keadaan lebih tenang. Untuk sekarang Gea hanya bisa mengusap punggung Rara pelan untuk sedikit menenangkannya, sedangkan Alana memintanya tersenyum dengan isyarat jarinya yang melengkung ke atas. Meski Rara tidak membalasnya.


Kadang, perasaan yang dipendam lama itu lebih menyakiti dari pada hal-hal yang bisa kita utarakan. Kalau kita keluarkan, sakitnya hanya terasa sebentar lalu setelahnya sembuh pelan-pelan. Tapi kalau di pendam, sakitnya akan terus ada sampai orang yang membuatnya luka menghilang dari hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2