Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
sepuluh. cemburu


__ADS_3

Ananta pikir, dia benar-benar tidak akan bertemu Alana lagi setelah hari kelulusan. Dia tidak menyangka bahwa dia justru akan lebih sering bertemu Alana setelah masuk SMA.


Kali ini, Ananta dan Alana berada di kelas yang berbeda. Ananta justru satu kelas dengan Arkan, teman baru Ananta sekaligus teman sekamarnya. Sedangkan Alana ada di kelas yang sama sekali baru untuknya. Dia tidak mengenal siapapun. Tapi itu sama sekali tidak mengganggunya. Satu-satunya yang dia pedulikan hanya Ananta. Itu saja.


Alana tidak pernah jauh dari Ananta. Setiap ada kesempatan, dia akan menghampiri Ananta entah itu pada saat jam istirahat, sepulang sekolah, bahkan dia juga menemani Ananta sampai ke depan pintu asrama laki-laki sampai-sampai di tatap aneh oleh penghuni yang lain.


"Na, kalo kaya gini jadinya berlebihan deh." Ucap Ananta saat Alana menunggunya masuk ke asrama.


"Biarin, habisnya aku mau deket kamu terus" Ucap Alana tanpa rasa malu sedikitpun.


Sejak hari dia bertekad untuk merubah rencana, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk terus menempeli Ananta sampai Ananta bosan melihatnya. Itu adalah hukumannya karena sudah berani mencoba menyingkirkan Alana dari kehidupan Ananta. Karena Ananta mengusirnya diam-diam, Alana akan mendekatinya terus berkali-kali lipat dari yang dia lakukan dulu.


"Bukan gitu," Ucap Ananta menata kalimatnya supaya tidak menyinggung Alana. Diapun berkata dengan suara lirih agar tidak di dengar anak-anak lain di sekitar mereka.


"Aku cuma tidak mau anak-anak asrama yang lain ngelihatin kamu disini." Ucap Ananta jujur. Alana terdiam sesaat lalu mengamati jendela-jendela asrama yang kini semua tirainya terbuka.


Terlihat beberapa anak laki-laki mengintip mereka di sana. Alana sebenarnya tidak peduli dengan itu. Toh dirinya tidak melakukan hal yang dilarang. Dia juga tetap menjaga batas dan tidak sampai masuk ke asrama Ananta. Lagipula, belum tentu mereka yang terlihat di dekat jendela sedang mengamati dirinya dan Ananta. Ananta hanya terlalu paranoid, atau... Posesif?


"Jawab aku dulu." Ucap Alana. Ananta memperhatikan apa yang akan di ucapkan Alana. Diam-diam Alana menyembunyikan senyumnya.


"Itu karena kamu cemburu atau kamu malas melihatku" Ucap Alana tanpa basa basi. Sedikit bercanda sebenarnya, tapi dari yang dilihatnya Ananta sedang menanggapi dengan serius. Awalnya Ananta kaget mendengar pertanyaannya. Sebenarnya selain khawatir dengan pikiran orang lain terhadap Alana, dia juga sedikit cemburu karena takut ada orang lain yang akan menyukai Alana karena sering melihatnya disini. Tapi, dia tidak bisa mengatakannya di depan Alana kan.


"Ehm.. Tidak dua duanya" Jawab Ananta hati-hati. Dia ingin lebih dulu jujur bahwa dia khawatir dengan Alana. Sebelum membeberkan jika hatinya juga merasa sedikit cemburu.


"Kalau gitu aku enggak mau ikut kata kamu." Jawab Alana. Ananta baru saja lupa bahwa Alana sangat keras kepala untuk hal-hal yang dia anggap benar. Alana juga kadang tidak mau mengakui hal-hal yang terlihat dalam tindakan, dia lebih suka mengucapkan semuanya dengan gamblang. Ananta merasa harus mengatakan apa yang ingin Alana dengar saat ini.


"Sebenarnya..." Ucap Ananta mencoba membujuk Alana.


"Karena aku cemburu dan khawatir orang lain berpikiran buruk tentang kamu." Jawab Ananta jujur. Sepertinya memang tidak baik membohongi Alana. Itu justru akan membuat Alana salah paham dengan maksudnya.


"Hmmm" Senyum Alana mengembang mendengarnya.


"Okey, tapi... Temani aku makan siang dulu sebagai gantinya." Jawab Alana menawarkan hal lain.

__ADS_1


Sebenarnya yang Alana inginkan adalah menghabiskan sebanyak-banyaknya waktu untuk bersama Ananta. Sesederhana itu. Dia tidak peduli dengan cara apa, yang penting dia harus berlama-lama bersama Ananta. Lagipula dia sudah bekerja keras sebelumnya demi dapat melakukan hal-hal yang dia lakukan saat ini.


"Oke." Ucap Ananta bersiap untuk masuk ke gedung asramanya sebelum Alana menarik lengannya untuk pergi ke Arah sebaliknya. Ananta tidak mampu menolak karena Alana yang terlihat begitu bersemangat. Alana juga sangat kuat...


"Makan dulu" Ucap Alana dengan senyum lebar.


Dia menarik Ananta ke restoran kecil di depan sekolah. Dia memesan kue sedangkan Ananta membeli paket makan siang berisi ayam, sayur dan nasi.


"Katanya makan." Ucap Ananta dengan ketus dia melotot melihat Alana memakan kuenya dengan riang. Menurutnya makan terlalu banyak kue tidak baik untuk kesehatan, tapi Alana selalu membelinya setiap ada kesempatan.


"Makan kue kan juga makan." Ucap Alana.


"Enggak baik kalau terlalu sering" Ucap Ananta, dia mulai terdengar seperti ibu Alana.


"Kali ini demi ketenangan hati, dan kenyamanan kamu biar aku enggak marah-marah dulu ke kamu tau." Ucap Alana membujuk Ananta. Ananta hanya mengangguk setuju. Dalam ingatannya, Alana yang marah selalu menyeramkan.


Raka kembali ke asrama setelah menghabiskan satu porsi makanan. Namun Alana masih mengikuti di belakangnya.


"Iyaaa ini terakhir kali." Jawab Alana sambil tersenyum.


"Udah naik sana." Usir Alana, padahal seharusnya dirinya yang pergi dulu dari sana.


"Oke, enggak usah meniru bunda begitu." Ucap Ananta sembari mengusap puncak kepala Alana dengan gemas.


Ara mengedipkan matanya karena merasa nyaman. Ananta menarik tangannya dari kepala Alana kemudian masuk ke gedung asramanya tanpa menoleh lagi. Alana masih menatap bangunan itu selama beberapa lama sebelum ikut pergi kembali ke asramanya sendiri.


...


"Romantis banget kayaknya" Serbu arkan begitu Ananta masuk ke dalam kamar. Dirinya mengamati mereka melalui jendela sejak awal.


Arkan sudah sering melihat mereka berdua namun baru kali ini angkat bicara.


"Padahal mau kukejar, ternyata udah punya kamu" Ucapnya dengan santai, mengabaikan raut Ananta yang kaget mendengarnya.

__ADS_1


"Kamu suka Alana?" Tanya Ananta serius.


"Biasa aja, cuma suka liatnya. Soalnya cantik" Arkan menanggapi raut serius Ananta dengan ringan.


"Nggak akan ku rebut kok kalo punya teman sendiri" Ucapnya sebal melihat wajah serius Ananta yang kini menatapnya seperti sedang menatap lawan.


"Jadi kalo bukan punya temen mu bakal kamu rebut? " Ucap Ananta dengan nada lebih santai.


"Ya kalo orangnya mau kan kita tinggal Terima ya." Jawab arkan sekenanya. Ananta geleng-geleng saat tahu pola pikir temannya yang terdengar seperti playboy itu.


"Aku enggak percaya sih kalo seorang arkan bener-bener playboy." Ananta mengeluarkan apa yang ada di pikirannya tentang arkan. Menurutnya, hati arkan jauh berbeda dari perkataannya.


"Kok bisa tau sih. Cenayang ya. Padahal enggak pernah denger ceritaku perasaan" Ucap arkan keheranan.


"Tebakanku aja sih. Karena wajah sepertimu biasanya setia." Ananta memuji arkan diam-diam.


"Jujur. Aku memang sudah punya pacar yang serius. Tapi kalo cewek lain ada yang mau berteman rasa pacar, aku mau-mau aja asal tidak sampai tahap selingkuh." Ucapnya, ini kali pertama arkan bercerita tentang pacarnya.


"Dasar"


"Dia cantik tahu" Arkan menyombong tanpa malu-malu.


"Ini, pacarku." Arkan menunjukkan foto di dompetnya, seolah sedang menyombong pada sahabat dekat padahal mereka baru berteman beberapa hari.


Raka melihatnya sekilas.


"Hmm Alana lebih cantik" Jawab Ananta ganti menyombong dengan kalimat yang tegas


"Yah, orang yang kita cintai pasti selalu terlihat lebih cantik dari siapapun" Arkan mengatakan kalimat yang tidak cocok dengan si anak playboy yang dia bicarakan sebelumnya.


"Hehe.. Bener sih" Ucap Ananta setuju.


***

__ADS_1


__ADS_2