Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
tujuh. keraguan


__ADS_3

"Psst, bu Nita" Ucap Lia memperingati teman-temannya akan kedatangan guru dari pelajaran berikutnya. Kegiatan di kelas memang sedikit longgar karena ulangan tengah semester baru saja selesai. Kelas yang semula ramai itu berubah hening. Mereka duduk dengan rapi menunggu guru cantik itu masuk ke dalam kelas.


"Selamat siang, hari ini kita akan mereview rencana masa depan yang pernah kalian tuliskan di buku pribadi siswa." Ucap Bu Nita sambil meletakkan setumpuk buku bersampul hijau muda ke atas meja.


Dia memanggil muridnya satu persatu untuk mengambil buku ke depan. Sampai saatnya Alana mengambil bukunya, bu Nita menahan buku itu sebentar dan menatap Alana cukup lama. Guru itu sudah membaca apa yang dituliskan Alana di sana. Dari tatapannya terlihat jelas bahwa Bu Nita tidak mendukung apa yang di tuliskan oleh Alana.


"Saya melihat ada beberapa anak yang tidak serius menuliskan rencana masa depannya, jadi saya minta kalian membaca ulang dengan seksama dan pikirkan pilihan kalian dengan hati-hati, karena bagaimanapun apa yang kalian tulis menentukan hidup kalian ke depannya. Kalian harus benar-benar jujur dan tidak main-main menjawabnya, supaya ibu juga bisa membantu kalian semaksimal mungkin semampu ibu." Ucap guru itu panjang lebar setelah buku selesai dibagikan.


"Jika ada hal-hal yang ingin dibicaraka n secara pribadi kalian bisa menemui ibu di ruang BK, kalian paham?" Lanjutnya dijawab oleh anggukan dan ucapan setuju.


Diam-diam Ananta juga memperhatikan Alana, dari cara bu Nita menatap Alana, sepertinya dia benar-benar perlu khawatir terhadap pilihan Alana.


***


Ananta dan Alana berjalan di lorong kelas, mereka akan pergi ke kantin saat tiba-tiba berpapasan dengan Bu Icha. Keduanya menyapa wali kelas itu dengan sopan.


"Ananta," Panggil Bu Icha, menahan Ananta sebelum sempat lanjut berjalan lagi. Alana ikut menoleh saat guru itu mendekati Ananta.


"Kamu kan daftar di SMAN 1 Nusantara kan" Ucapnya terlihat sedang mengingat sesuatu.


"Oh, iya bu" Jawab Ananta dengan ragu. Dia menatap Alana dengan sedikit khawatir, lalu kembali menghadap bu Icha.


"Berkas-berkas lampirannya pasti akan sangat banyak, jadi harus dipersiapkan jauh-jauh hari, dan jangan lupa hubungi ibu untuk perkembangan prosesnya ya." Lanjut bu Icha.


"Baik bu, terimakasih,saya. Pamit dulu" Jawab Ananta sedikit kikuk. Rahasianya ketahuan, oleh Alana tanpa sengaja.


Ananta mengutuk dalam hati saat kembali menghampiri Alana yang hanya dua langkah di depannya. Alana pasti mendengar semuanya.


Sesuai dugaannya, Alana menatap Ananta dengan tatapan protes. Alana pasti sudah mengutuknya dalam hati.


SMA yang baru saja disebut itu, SMA favorit. SMA yang di lengkapi asrama, dengan banyak aturan yang cukup ketat dan terlebih lokasinya juga cukup jauh yang artinya Alana akan sangat jarang bertemu Ananta selama tiga tahun sekolah andai Ananta benar-benar masuk ke sana.


Dan lagi, dengan syarat dan minimum nilai masuk yang tinggi, sepertinya tidak mungkin bagi Alana untuk ikut bersekolah di sekolah yang sama.


Walaupun sejak awal tidak berencana untuk sekolah SMA, Alana masih tidak rela jika harus berpisah jauh dari Ananta. Alana bahkan sudah membayangkan betapa itu sangat menyebalkan.


Alana melengos meninggalkan Ananta yang jadi merasa bersalah, karena ketahuan sebelum waktunya.

__ADS_1


"Alana, dengerin penjelasanku dulu." Ucap Ananta mengejar Alana yang sudah berjalan jauh meninggalkannya.


Selain kesal karena tidak bisa sering bertemu, sebenarnya Alana juga khawatir. Karena jika hal itu benar-benar terjadi, Alana tidak akan bisa lagi menjaga Ananta. Alana akan terus-terusan khawatir tanpa tahu keadaan Ananta yang tinggal di asrama. Memikirkan hal itu membuat Alana semakin kesal.


***


Tepat keesokan harinya, mereka tidak lagi berangkat bersama-sama.


Alana baru muncul di kelas sesaat sebelum jam pelajaran dimulai. Padahal saat Ananta datang ke rumahnya tadi pagi, orang tuanya bilang Alana sudah berangkat duluan.


Alana seperti menghindari Ananta dengan caranya sendiri. Wajahnya juga terlihat lelah, lengkap dengan mata panda yang entah karena apa. padahal setaunya kemarin Alana masih baik-baik saja.


Hari-hari setelahnya, Alana semakin sering menghindari ajakan Ananta untuk main, atau keluar jalan-jalan.


Ananta mengira, semua itu karena Alana masih kesal padanya. Sikap Alana itu membuatnya semakin bingung sendiri. Meski sibuk dengan hal lain, rasanya tetap aneh kalau tidak bertemu Alana dulu seperti biasanya.


"Nih." Ucap Ananta menyodorkan benda kesukaan Alana itu.


"Hmm? Es krim?" Ucap Alana menanyakan maksud tersembunyi hadiah dari Ananta itu.


"Nggak mau? Ya udah aku makan sendiri" Ananta menarik kembali benda dingin itu, tapi dengan gesit Alana merebutnya.


"Kalo kamu makan es krimnya, berarti kamu udah nggak marah lagi ya." Alana tidak mendengarnya, malah dengan terburu-buru membuka bungkus es di tangannya.


"Emang siapa yang marah?" Tanya Alana tanpa menoleh ke arah Ananta, seperti biasa dia akan sangat fokus saat berhadapan dengan benda kesukaannya itu.


"Kamu."


"Ngapain aku marah?" Tanya Alana.


"Soal aku yang daftar ke SMAN 1 nusantara." Ucap Ananta dengan sedikit ngotot. Tidak mungkinkan, dia salah paham.


"Oh, aku nggak marah tuh. Malahan bagus. Kan sekolahnya favorit. Sangat Ananta sekali" Ucap Alana, menekankan 3 kata terakhir.


"Itu masih ada sebelnya."


"Kalau bukan karena itu, terus kenapa akhir-akhir ini menghindar terus. Diajakin keluar jalan-jalan juga nggak pernah mau." Jelas Ananta.

__ADS_1


"Kalau yang itu... Ra-ha-si-a." Ucap Alana penuh teka-teki. Mengikuti gaya bicara Ananta sebelumnya.


Ananta sedikit kesal karena Alana membalasnya dengan strategi yang dilakukannya dulu. Padahal dia ingin lebih sering bersama Alana sebelum nantinya berpisah saat SMA.


"Nanti pulang bareng ya.." Ucap Ananta saat melihat suasana hati Alana sudah membaik.


"Enggak mau" Ucap Alana singkat.


"Kenapa lagi, katanya enggak marah" Protes Ananta mengungkit kalimat Alana lagi. Padahal dari nada bicara Alana dia tahu kalau emosi Alana sudah mereda.


"Kali ini beneran bukan karena aku marah." Ucap Alana. Kali ini dia bicara sambil menatap Ananta karena es krim nya sudah habis.


"Terus kenapa lagi?" Tanya Ananta. Dia benar-benar penasaran dengan suasana hati Alana yang sering berubah-ubah.


"Ada yang mau aku lakukan dulu sebelum pulang." Jawab Alana dengan pengertian untuk membuktikan bahwa dirinya tidak marah.


"Aku bisa ikut" Ananta berusaha membujuk Alana yang terlihat mulai keras kepala.


"Enggak. Kamu harus belajar buat Olimpiade" Jawab Alana, mencari-cari alasan.


"Olimpiadenya udah selesai Alana. Udah juara" Ucap Ananta tanpa sengaja terdengar menyombong.


"Iya iya, si paling juara satu" Jawab Alana kesal.


"Maaf, enggak bermaksud gituuu"


"Tetep enggak. Kali ini aku mau sendiri dulu." Ucap Alana memilih jujur. Alasan akan tetap terdengar seperti alasan, jadi jujur adalah hal yang lebih baik kali ini.


"Ya udah. Tapi enggak marah kan..." Tanya Ananta sekali lagi. Dia mau benar-benar yakin.


"Sekali lagi kamu tanya begitu, aku bakal marah sih." Jawab Alana mulai kesal beneran.


"Oke oke. Maaf. Tapi nanti kalau aku chat di balas ya." Ucap Ananta lagi, beberapa hari ini pesan yang dia kirim kepada Alana selalu centang biru, tapi tidak pernah ada balasan.


"Hmmm... Maaf kalau itu gara-gara aku balasnya di dalam hati, jadi enggak terkirim." Ucap Alana sambil nyengir kuda.


"Habis ini beneran harus di balas" Ucap Ananta tegas.

__ADS_1


"Siap bos." Jawab Alana mengambil posisi hormat sambil bercanda, lalu? mereka berpisah lagi melakukan kegiatan masing-masing.


***


__ADS_2