Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
tiga puluh tujuh. keajaiban


__ADS_3

Alana menemani Ananta beberapa jam di taman rumah sakit, benar-benar hanya diam. setelah hal-hal menyedihkan yang dia katakan berlalu Ananta tidak banyak bicara lagi.


Alana sesekali menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Saat diminta untuk bicara, yang keluar dari mulut Ananta selalu tentang sekolah. Huft. Sekarang Ananta memang tidak bosan. Tapi Alana yang bosan.


Ananta baru mau kembali saat ibunya memanggil. Dia masih harus makan siang dan istirahat di kamarnya. Sekarang ini sudah hari ke sebelas Ananta di rawat. Selama itu juga Alana selalu menemani. Bergantian dengan ibu Ananta untuk membantu keperluan Ananta. Meski untuk urusan di kamar mandi selalu ibunya yang akan mengambil alih. Ananta tidak mau merepotkan Alana untuk yang satu itu.


"Alana, hari ini kamu pasti capek menemani Ananta seharian. Nanti kamu pulang lebih awal aja, mumpung Ibu hari ini juga lagi senggang." ucap wanita paruh baya itu. Alana mau menolak sebenarnya, dia ingin menunggu Ananta lebih lama. Seperti hari biasanya, dia pulang setelah malam hari. Tapi melihat senyumannya yang tulus membuat Alana merasa tidak enak untuk menolak.


"hmm... oke kalau begitu nanti Alana pulang lebih dulu ya." ucapnya tersenyum. Ibu Ananta ini selalu berusaha menebar aura positif di sekitar Ananta. Alana jarang sekali melihatnya menangis. Tidak pernah di depan Ananta bahkan. Dia lebih kuat lagi jika dibandingkan dengan Alana.


Sore hari Alana sudah bersiap untuk pulang, karena ibu Ananta itu mengingatkannya berkali-kali. Agaknya dia mau memastikan Alana benar-benar bisa beristirahat dengan nyaman.


Sampai di luar rumah sakit, Alana merasa hampa lagi. Jalanan masih ramai tidak seperti saat Alana pulang biasanya. Matahari sudah mulai menguning juga, cantik sekali.


Alana berjalan dengan sangat pelan, lagi. Beberapa angkutan umum menawarinya, tapi dia menolak semuanya. Dia masih ingin menikmati pemandangan di depannya lebih lama lagi. Suasana keramaian yang terasa tenang, belakangan jarang dia lihat. Karena kepalanya selalu fokus pada Ananta dan rumah sakit.


Baru kali ini dia mengamati mereka satu-satu. Lalu lalang kendaraan, dan orang-orang yang juga berjalan di jalur pejalan kaki semuanya terasa damai. Dia kemudian terhenti di sebuah persimpangan lampu merah. Dia teringat lagi dengan kecurigaan Bella tentang arkan. Tentang pesan yang Arkan tinggalkan.


Memangnya dia itu senekat apa sampai sengaja tertabrak hingga koma. Mata Alana menerawang di jalanan dengan lampu yang masih merah. Mereka semua menunggu dengan patuh hingga sinar merah itu berubah menjadi hijau. Semua kendaraan yang tadinya diam berebut menjadi yang paling cepat. Mereka melaju sangat kencang sampai membuat hembusan angin penuh debu yang cukup keras terasa sampai di tempat Alana berdiri. Alana terbatuk saat debu itu tak sengaja terhirup olehnya membuat tenggorokannya sakit.


Alana mendengus kesal sebelum beranjak dari sana.


...****************...

__ADS_1


Keesokan harinya rumah sakit kembali terlihat ramai, Alana berusaha keras mengabaikannya. Dia tidak boleh mengharapkan hal-hal buruk menimpa orang lain untuk kepentingannya sendiri. Dia berjalan cepat menuju ruangan Ananta. Kali ini ayahnya berdiri dengan ragu di dekat pintu masuk. Kemudian dengan tergesa menghampiri Alana yang baru datang.


"Alana. Ayah baru saja mendapat kabar, tapi ayah tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Ayah tidak mau memberitahu mereka sebelum ayah memastikan kemungkinannya dulu, tapi ayah mau tahu pendapat kamu" ucap pria itu dengan buru-buru. Alana sedikit kesal karena diberondong kalimat tidak jelas saat dia baru sampai.


"kenapaaa... apa ada masalah lagi?" tanya Alana dengan sedikit kesal.


"Kamu lihat rumah sakit sangat ramai pagi ini." ucapnya berusaha memulai ceritanya. Dia tidak pernah merasa sekonyol ini sebelumnya, meminta pendapat orang lain saat dirinya adalah dokter utama yang menangani Ananta.


"Alana tahu itu, tapi kenapa..." jawab Alana tidak sabar. Ayahnya ini sangat bertele-tele sejak tadi. Ini memang kali pertamanya melihat ayahnya terlihat panik begini. Kalau sudah begitu, dia tahu ini pasti hal yang sangat penting.


"Ada pasien potensial lagi. Ayah takut berharap karena biasanya tidak ada pendonor potensial yang di temukan dalam jarak secepat ini dari pendonor sebelumnya" ucapnya menunjukkan ekspresi takjub, sekaligus takut bahwa itu akan berarti kekecewaan untuk kedua kalinya.


"ada pendonor lagi? ayah yakin?" tanya Alana, memastikan. Benar kan, apa yang dia dengar. Alana masih berusaha keras untuk tidak berharap banyak mendengar berita itu, tapi mau bagaimana lagi. Jika itu tentang Ananta, Alana tidak bisa tidak berharap.


"iya, dan kali ini... pihak keluarga setuju, bahkan meminta prosedurnya dilakukan dengan cepat" ucapnya terdengar seolah tidak nyata.


"Alana... bagaimana?" tanya sang ayah saat melihat Alana justru terlihat tidak fokus, sama seperti respon pertamanya mendengar berita ini. Alana yakin ini bukan mimpi saat ayahnya menggoyang-goyangkan bahunya beberapa kali.


"Aku mau menemui keluarganya dulu." pikir Alana mencoba memakai logikanya. Sangat jarang ada keluarga yang merelakan hal semacam ini dengan cepat, dia harus memastikan semuanya dulu.


"Dia sakit apa?" tanya Alana saat ayahnya sudah mengantarnya menuju ruangan pasien yang di maksud.


"pendarahan otak karena percobaan bunuh diri, dan sudah koma selama beberapa hari keadaannya memburuk hari ini" ucap sang ayah membuat Alana terhenti beberapa saat. Dan keluarganya mengizinkan operasi secepat itu? Alana menatap ayahnya tak percaya, namun ayahnya hanya mengangguk dengan tegas. Alana sudah sampai di depan pintu saat tiba-tiba merasa ragu.

__ADS_1


Bagaimana kalau dia kecewa lagi? apa dia akan sanggup?


Bagaimana kalau orang itu orang yang dia kenal, apa dia akan tega?


Bagaimana kalau tiba-tiba dia sadar dari koma? lalu ananta mendapat harapan palsu sekali lagi?


Bagaimana kalau? ah. Pikiran-pikiran ini akan membuatnya gila. Tapi sekarang ini harapan ada di depan matanya, dan tentu dia tidak bisa menolaknya.


Dengan keyakinan itu akhirnya Alana membuka pintu dengan ayahnya menemani di sampingnya. Begitu masuk dia mengedarkan pandangan ke arah pasien yang terbaring dengan banyak peralatan menempel di tubuhnya. Ada seorang perawat yang sedang bekerja, memeriksa kondisi jantung pasien yang dimaksud. Di sampingnya ada seorang perempuan yang terlihat lebih tua darinya, dia sepertinya kakak dari pasien. Dia menyapa Alana dengan sangat ramah. Meski terlihat sedikit tomboy, dia tetap tersenyum ke arah Alana, senyum yang tulus sampai Alana tahu kalau dia orang yang sangat baik.


"perkenalkan, saya Alana" ucap Alana ragu.


"Saya Rosi... kakak Andini" ucapnya mengambil tangan Alana untuk bersalaman.


"maaf kalau aku menyinggung perasaan kakak, tapi... saya ingin tahu kenapa kakak memperbolehkan pasien mendonorkan jantungnya?" tanya Alana dengan hati-hati.


Orang itu mengalihkan perhatiannya pada ayah Alana sebentar, dia sudah mengatakan alasannya sebelumnya dan sepertinya dia harus mengatakannya sekali lagi.


"pertama, adik saya tidak bunuh diri... itu jelas terjadi karena insiden." Alana mengangguk mengerti. Ayahnya pasti menyimpulkan begitu karena rumor atau hasil pemeriksaan tapi dia memilih percaya pada kakak pasien.


"kedua... dia sudah lama ingin melakukannya. Dia bahkan mendaftar sebagai pendonor setelah meminta izin dari saya. Dia pasti akan marah pada saya dari surga kalau saya tidak melakukan wasiat konyolnya itu" ucapnya diselingi sedikit candaan. Meski Alana tahu, kebanyakan kalimatnya itu untuk menutupi rasa pedih seperti yang pernah Alana lakukan.


"dan alasan klasiknya, karena ibu kami meninggal karena penyakit jantung. Jadi dia berharap bisa membantu orang lain karena penyesalannya tidak bisa menyelamatkan ibunya sendiri." ucapnya lagi dengan tersenyum. meski Alana melihat pipinya memerah dan matanya yang sedikit berkaca-kaca. Alana kagum, orang ini bisa setegar itu saat bercerita. Alana ingin sekali memeluknya, meski dia ragu karena mereka baru saja saling kenal.

__ADS_1


"untungnya jantung adik saya sehat, jadi dia bisa punya kesempatan menolong orang lain seperti mimpinya."


Mendengar kalimat itu membuat sesak di dada Alana berkurang, sepertinya kali ini dia benar-benar mempunyai harapan.


__ADS_2