
Sudah satu minggu sejak Ananta kembali ke sekolah. Sesuai dengan perkataan alana, tugas-tugas menumpuk karena dia sudah alpa lama sekali. Tapi dia tetap begitu rajin mengerjakannya satu per satu. Bagi Ananta, pendidikan selalu yang utama. Dia selalu bekerja keras kalau tentang belajar dan tugas sekolah. Justru Alana yang kesal karena tugas yang banyak itu dia jadi jarang bertemu Ananta tanpa membawa tugas akhir semester.
Di sisi Alana juga sama, tugasnya sama banyak sampai dia bingung mau mengerjakan apa dulu. Matematika, fisika, semua mata pelajaran itu membuatnya menyesali pilihannya masuk IPA berkali-kali. Meski sudah mengorbankan diri seperti itu saja dia masih tidak bisa satu kelas dengan Ananta, hanya menambah bebannya untuk belajar hal-hal yang bukan minatnya itu.
Padahal setelah lama di rumah sakit, yang paling dia inginkan adalah bersantai, berjalan-jalan, atau berlibur bersama Ananta. Pokoknya melakukan apapun yang menyenangkan untuk balas dendam pada semua kecemasan dan hari-harinya yang membosankan. Tapi apa, yang dia dapat justru hal-hal yang semakin membuatnya bosan.
"kapan habisnya sih." ucap Alana menatap hampa tumpukan buku di depannya. Dia sudah lebih dulu kembali ke sekolah, tapi dia mengeluh lebih banyak daripada Ananta yang baru satu minggu sekolah lagi dan sedang mengejar ketertinggalan berbulan-bulan.
"Aku tuh pengen jalan-jalan, main, refreshing, apapun" lanjutnya mulai meletakkan kepalanya di atas buku tulisnya. Yang ada di depannya kali ini tugas matematika yang dia kerjakan bersama Ananta di perpustakaan sekolah. Dia mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi. Matanya terasa agak panas karena baru saja menatap tulisan kecil itu sangat lama. Huruf-huruf terlihat seperti semut berbaris di matanya, tidak terbaca sama sekali. Ananta di sampingnya hanya tersenyum mendengarnya mengeluh berkali-kali.
"kalau gitu cepat dikerjakan, nanti pulang dari sini kita jalan-jalan." ucap Ananta mencoba menyemangati. Dia berkata hanya setengah hati. Tapi melihat respon alana yang menatapnya dengan mata yang berbinar, sepertinya dia agak menyesal sekarang. Alana sudah bangun mengangkat kepalanya lagi dan menatap bukunya dengan fokus, seolah Alana yang barusan mengeluh itu tidak pernah ada.
Alana itu aneh. Dia bisa banyak mengeluh, bosan, lelah, atau apalah. Tapi kalau sudah dijanjikan reward yang menarik dia seperti berubah menjadi orang yang berbeda.
Lihat saja sekarang dia tersenyum senang sambil mengerjakan soal-soal itu dengan mudah. Alana tidak bodoh, dia hanya tidak mau belajar saja. Tapi kalau untuk Ananta apapun akan dia lakukan. Ingat kan... kalau Alana bahkan mendapat nilai tertinggi saat ujian masuk, padahal nilainya sehari-hari sangat berantakan.
__ADS_1
Kadang Ananta berpikir kalau Alana bisa saja menjadi pesaingnya di Olimpiade kalau Alana mau belajar. Lihat saja setelah beberapa menit tugas mereka selesai hampir bersamaan. Ingatkan Ananta untuk memberi iming-iming sesuatu kalau Alana malas belajar lagi lain kali, pasti sangat ampuh.
"tahu tidak. Kalau kamu belajar sedikit lebih rajin aja, kamu bisa ikut lomba juga" ucap Ananta saat mereka sedang menikmati es krim di cafe langganan mereka di dekat sekolah sebagai bagian dari janji ananta saat mengerjakan tugas tadi.
"buat apa. Aku nggak butuh" balas Alana cuek. Alana bukan orang yang mengejar nilai seperti Ananta, dia lebih suka bersantai dan menikmati hidup daripada terlalu tertekan untuk menjadi sempurna. Apalagi belajar bukan favoritnya.
Baginya pintar itu agak merepotkan karena harus menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak menarik dan membosankan. Dia saja heran kenapa Ananta mau menghabiskan waktu berharganya untuk belajar terus selama ini. Padahal bermain game, menonton film, berjalan-jalan, semuanya jauh lebih menyenangkan dari pada hanya berkutat dengan buku. Kehidupan seperti itu sangat tidak asyik.
"Walau bukan untuk menang Olimpiade juga, kamu tetap butuh belajar. Siapa tahu mimpi kamu butuh nilai untuk mendapatkannya." ucap Ananta mulai serius. Sekarang ini mendaftar kemanapun butuh nilai dan ijazah yang baik, jadi dia tidak setuju kalau Alana bilang dia tidak belajar karena dia tidak butuh.
"mimpi aku sederhana, hidup bahagia sama kamu. Udah gitu aja" jawab Alana enteng membuat Ananta terdiam agak lama.
Tanpa sadar dia menatap Alana dengan tatapan penuh arti, itu membuat Alana sedikit risih dengan suasana yang serius itu.
"kenapa... terharu ya?" ucap Alana berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
"enggak. biasa saja." balas Ananta dengan ekspresi yang masih belum termasuk biasa saja.
"ingat, kita masih punya janji menikah. awas saja kalau lupa lagi. Aku bakal tagih sering-sering." Iya, Ananta tahu itu. Tidak perlu di ingatkan juga dia selalu memikirkannya. Hal yang mereka ucapkan saat masih kecil itu agaknya bisa terwujud dalam beberapa tahun dari sekarang. Ananta hanya harus bertahan sampai itu terjadi.
"iya. aku nggak akan lupa sama hal sepenting itu" jawab Ananta. Alana juga termasuk hal paling penting dalam hidupnya kan.
"tapi sebelum itu kita tetap harus belajar dan menyelesaikan tugas dengan baik." ucap Ananta kembali membahas tentang sekolah membuat senyum Alana luntur berubah menjadi cengiran.
"pesan apapun yang kamu mau sekarang. Ini hadiah karena sudah belajar dengan baik" lanjut Ananta yang segera membuat Alana kembali tersenyum. Di depannya sudah ada 4 kue dan dua es krim, tapi menurutnya itu belum cukup mengingat selera makan alana itu sangat tinggi. Dia pasti belum puas hanya makan ini saja, lagipula Ananta tidak keberatan menghabiskan banyak uang sakunya untuk Alana.
"siap." ucap Alana semangat sambil membuka buku menu lagi. Benar saja, dia menambah 4 kue lagi untuk di makan di tempat.
Jauhkan Alana dari timbangan berat badan, dia mungkin akan membenci benda itu setelah ini.
Ananta hanya tersenyum kecil melihat Alana makan kuenya dengan lucu. Mulutnya yang menggembung itu bergerak naik turun dengan beberapa krim yang mengotori pipinya. Alana kembali makan dengan berantakan, itu menunjukkan kalau dia sedang senang.
__ADS_1
Melihat pemandangan itu rasanya membuat Ananta kenyang duluan. Dia hanya memesan satu kue coklat sedangkan mejanya penuh dengan kue dalam banyak warna lain dan semua itu pesanan Alana. Lebih takjubnya Alana berhasil menghabiskan semuanya.
Sesekali Ananta akan memotret Alana yang sedang asyik makan sampai tidak sadar Ananta berhasil mengambil banyak ekspresinya yang lucu. Foto yang berakhir tidak di unggah sama sekali kalau berada di galeri Alana. Tapi kalau di galeri Ananta mungkin akan berakhir menjadi salah satu hadiah ulang tahun atau pajangan di kamarnya.