
Danau memang tempat terbuka yang paling terjangkau dari posisi mereka saat ini. Hanya perlu sedikit berjalan kaki untuk tiba di tempat yang didominasi oleh air itu.
Danau tidak terlalu ramai hari ini. Orang-orang lebih suka pergi ke pantai, mall dan tempat-tempat umum lainnya di hari libur. Sekarang, hanya ada beberapa orang yang mengambil hampir semua tempat duduk yang ada (dan memang sangat sedikit).
"Kursinya penuh." Ucap Alana kecewa. Spot favoritnya sudah dicuri dan kini ia bingung mau kemana.
"Tepi danau sana seperti nya cukup bagus" Ajak Ananta menunjuk sisi danau yang kosong dekat air.
Alana mengangguk patuh lalu berjalan mendahului Ananta.
"Hati-hati, tanahnya licin" Seru Ananta yang hanya terdengar samar-samar dari jarak mereka sekarang.
"Hai... Ananta." Panggil seseorang. Ananta menoleh kaget, lalu menatap orang yang memanggilnya. Orang yang dulu sekali pernah sering di temuinya.
Alana mengabaikan Ananta yang tidak mengikuti dibelakangnya. Setelah sampai di tempat yang ditunjuk Ananta, barulah ia berbalik dan mendapati Ananta terhenti di belakang bicara dengan orang lain yang cukup familiar baginya.
Setelah melihat jelas dengan siapa Ananta berbicara, Alana mengamati Ananta di kejauhan dengan tangan dilipat di depan dada. Raut wajahnya jelas terlihat kesal karena merasa diabaikan. Apalagi orang yang mengganggu perhatian ananta adalah orang yang pernah dekat dengan mereka dulu.
Sedangkan Ananta sedang berbincang asyik dengan orang yang pernah ia kenal itu tanpa menoleh Alana sama sekali. Perempuan di hadapannya ini adalah perempuan yang sama dengan yang Ananta temui saat mereka kecil, teman dekatnya di rumah sakit.
"Aku senang bisa bertemu denganmu lagi" Ucap perempuan itu tersenyum memandang Ananta.
"Aku lebih senang lagi, bisa bertemu denganmu." Ucap Ananta kemudian. Sapaan seperti ini sebenarnya punya kesan yang dalam bagi mereka. Banyak kata-kata alin yang tersirat darinya.
Orang yang sama-sama sakit, orang yang sama-sama dekat dengan kematian.
Kata-kata yang menyamarkan makna 'aku senang melihatmu mampu bertahan hidup...'. Mereka Saling menguatkan meski tanpa perlu menunjukkannya dengan jelas.
Hanya dengan kenyataan bahwa orang lain yang sama-sama sakit masih hidup sudah memberikan sebuah harapan besar bahwa dirinya juga akan terus bertahan.
"Kamu masih bersama Alana ya..." Ucap perempuan itu kemudian memulai pembicaraan. Dia menunjuk ke tempat Alana berdiri melotot ke arahnya dengan dagu. Alana yang sedang dibicarakan kini berkacak pinggang melihat Ananta menoleh padanya. Gadis kecil yang terlihat sedikit marah itu terlihat lucu dari sudut pandangnya sekarang.
"Iya... Masih dengan Alana yang sama." Ucap Ananta menatap Alana dengan senyum yang bisa saja di salah artikan oleh Alana. Raut kesal Alana semakin jelas sekarang, bahkan sepertinya memang tidak berusaha ia sembunyikan.
__ADS_1
"Dulu kalian adalah pasangan favorit di rumah sakit kita..." Ucap Fiola mulai bernostalgia pada masa saat mereka berada di rumah sakit yang sama. Fiola dan Ananta, pasien yang lebih sering berada di rumah sakit dibandingkan dengan rumahnya sendiri, dan satu orang lagi, Alana si pengunjung yang kelewat setia.
"Kalian itu pasangan miniatur yang saling menyayangi seperti orang dewasa." Ucapnya lagi membuat Ananta tersenyum.
"Iya... Dulu.. Hari demi hari aku bertahan demi bisa melihat Alana. Semua tentangnya adalah kekuatanku untuk terus hidup." Ananta tersenyum getir.
"Dia orang yang pantas." Ucap Fio mengangguk penuh arti. Ananta kembali menatapnya.
"Sangat pantas untuk membuatmu ingin hidup lebih lama." Fio tersenyum.
"Kamu beruntung memiliki Alana." Tatapan Fio semakin dalam, Ananta membalas tatapannya dengan sendu.
"Kamu juga punya aku yang mengharapkanmu untuk terus hidup." Ucapan Ananta terlontar begitu saja saat melihat sorot mata Fio yang terlihat sendu. Fio menampakkan senyum tanpa menoleh pada Ananta yang sedang mengamatinya.
"Yah, orang seperti kita pasti butuh seseorang seperti itu untuk terus bertahan." Jawab Fio, dengan kalimat yang terdengar bijak.
"Tapi terimakasih, kamu buat Alana saja. Aku tidak mau dicemburui adik lucu yang menggemaskan seperti Alana." Ucapnya membuat Ananta kembali menatap ke tempat Alana berdiri.
...
Ananta bahkan tidak mau memanggilnya kakak, katanya karena mereka sudah menjadi sahabat. Tapi Alana justru sering memandang Fio sebagai orang ketiga di antara mereka.
Alana bosan hanya menonton pemandangan itu lebih lama. Ia bergerak dari posisinya semula, bersiap untuk mendatangi Ananta.
Tapi sebelum ia sempat melangkah, Ananta terlebih dulu menghampirinya. Fio sudah melangkah pergi menjauhi mereka sekarang.
Alana membalikkan badan lalu mendudukkan diri di atas rumput.
"Hai, kenapa sebal begitu??" Tanya Ananta setelah menghampiri Alana dan duduk disampingnya.
"Kenapa kesini... Masih peduli sama aku? Masih ingat aku?? Bukannya lebih asyik ngobrol sama kak Fio" Ucap Alana dengan kesal.
Ananta menatapnya dengan geli. Sikap cemburu Alana selalu terlihat lucu dimatanya.
__ADS_1
"Jangan marah begitu" Bujuk Ananta.
"Hmph" Alana memalingkan muka.
"Kak Fio cuma menyapa sebentar setelah lama tidak bertemu. Dia tadi malah nanyain kamu tuh" Bela Ananta.
"Sudah-sudah jangan marah-marah. Lebih baik kita makan sandwich..." Ucap Ananta membuka bekalnya tadi. Alana menatapnya sebentar lalu memalingkan mukanya lagi.
Hanya sebentar, karena setelahnya Ananta menyuapkan paksa sepotong sandwich berukuran besar ke mulutnya. Meski masih mengomel, Alana tidak tampak semarah sebelumnya sekarang. Mereka akhirnya makan dengan tenang.
"Ananta... Aku penasaran." Ucap Alana tiba-tiba di sela kunyahannya. Pipinya mulai menggembung setelah melahap satu buah sandwich berisi strawberry dan krim itu.
"Hmm??"
"Kenapa kamu pilih SMA itu untuk melarikan diri?. Kamu benar-benar berpikir aku cukup bodoh jadi tidak akan bisa masuk ke SMA itu ya?" Sepertinya seorang Alana mulai memupuk dendam. Yah, pemikiran itu sudah lama ada di kepalanya. Tapi Alana enggan menanyakannya. Karena menurutnya jawaban Ananta hanya akan membuatnya semakin marah.
"Enggak." Jawab Ananta dengan tegas.
"Aku pikir, saat aku masuk ke sekolah favorit. kamu akan tetap memilih tidak mau sekolah lagi." Jawab Ananta sedikit menggantung kalimatnya.
"Eh, ternyata aku malah berhasil membuat kamu lanjut sekolah di SMA" Lanjut Ananta lagi menyelesaikan kalimatnya. Kalimatnya terdengar sedikit bangga. Yah bagaimanapun melihat Alana kembali ke sekolah adalah hal yang baik.
"Aku tau, kamu bukan orang yang akan berhenti sekolah dengan mudah. Kamu itu tidak pandai menyerah." Ucapnya. Entah kalimat terakhir itu muncul begitu saja dibenaknya.
"Aku sendiri juga belajar dengan keras tahu untuk bisa lolos. Walau saat itu kamu malah ngira aku jauhin kamu" Ucap Alana lirih, sangat lirih.
"Kenapa kamu peduli aku lanjut sekolah atau enggak?" Ucap Alana yang tidak memperkirakan jawaban Ananta itu.
"Karena aku suka Alana." Jawab Ananta lagi. Kali ini dengan menatap lurus ke arah Alana.
"Hmph, aku tau." Jawab Alana memalingkan wajahnya lagi dari Ananta. Kembali fokus pada pemandangan di hadapannya yang sebenarnya kini tidak terlihat lebih menarik dari manusia di sampingnya.
"Makasih ya... Masih disini bareng aku" Lanjut Alana... Ananta tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Makasih, masih disini juga bareng aku" Jawab Ananta dengan kalimat yang sama.