
Panggung mereka selesai di setting, dan sekarang ketiganya duduk berhadapan di cafe dekat sekolah. Jangan tanyakan di mana Ananta, dia sudah di usir pergi oleh Alana begitu persiapan panggung selesai.
"Rara, makan dulu yuk" ucap Gea. Dilihat dari bagaimana perasaan Rara sampai terganggu begitu, Gea tahu hal buruk terjadi antara Rara dan orang yang berstatus pacar itu. Orang yang sejak lama tidak dia restui.
Rara duduk dengan patuh. Memakan sedikit roti dengan toping Choco oreo itu. Kalau Alana, biasanya setelah makan makanan manis dia langsung tersenyum, tapi ini Rara. Dan Rara tidak semudah itu dihibur. Alana terus mencuri tatap dengan Gea, tidak tahu harus bicara apa lebih dulu. Dia tidak terbiasa melihat Rara marah, karena itu sangat jarang dan hampir tidak pernah terjadi.
"maaf, aku membuat suasananya berantakan." ucap Rara tiba-tiba. Kalau dia bilang begitu, Alana yang sudah menyusun kata-kata di kepala kembali bungkam lagi. Suasananya malah jauh lebih buruk karena Rara meminta maaf duluan.
"ehm... maafkan aku kalau aku dan Ananta membuat kamu terganggu. Lain kali dia tidak boleh bersikap manis di depanku kalau ada kamu supaya kamu tidak marah lagi, ya..." ucap Alana membuat Rara tersenyum kecil. Apalagi Alana mengatakannya dengan sangat serius. Dia tidak bermaksud begitu. Dia hanya meluapkan perasaan yang dia bendung lama di tempat yang salah saja. Dia tidak membenci perlakuan Ananta juga.
"Tidak. Bukan begitu. Maaf aku marah tidak jelas. Padahal kalian tidak berbuat salah. Hatiku hanya sedang berantakan" ucap Rara, kembali menjadi Rara yang manis dengan mempoutkan bibirnya. Gea mengikuti ekspresi Rara sebelum bicara.
"Kenapa. karena orang itu?" tanya Gea dengan berani. Dia pernah menceritakan ini pada Alana. Tapi Alana masih terhitung tidak tahu apa-apa, jadi hanya Gea yang berani mempertanyakan hal ini.
"Sepertinya aku memang harus menurut sama mamah" ucapnya menoleh ke arah gea... sosok mama yang dia maksud. Rara agak mengejek dirinya sendiri yang terus mengelak firasat Gea tentang orang yang dia sukai itu. Gea sering bilang untuk memutuskan dia, dan sepertinya memang seharusnya begitu.
"aku belum menikah. Tidak punya anak!" seru Gea memalingkan muka melihat Rara yang sudah membuka tangannya lebar meminta di peluk.
"kalau Gea tidak mau, aku saja" balas Alana segera berpindah ke kursi di samping Rara lalu memeluknya erat-erat. Tadinya mereka duduk dengan posisi Alana dan Gea menghadap Rara, sekarang berganti Alana dan Rara menghadap Gea.
"serius. Dia berbuat apa. Mau aku hajar saja?" ucap Gea. Kadang sisi bar-barnya itu berguna juga untuk menghadapi orang jahat.
__ADS_1
"hahaha. kita bukan anak kecil yang main labrak karena benci. terimakasih perhatiannya mamah" ucap Rara tertawa agak keras bersama Alana. Tawanya agak terlihat menyebalkan. Harusnya dia ini lebih banyak memaki dalam keadaan seperti ini. Bukannya tertawa karena hal kecil, pikir Gea kesal. Rara terlalu suka memendam sesuatu sampai Gea sangat ingin menemukan teknologi untuk membaca pikiran orang lain supaya dia tidak susah-susah menafsirkan senyum Rara yang kadang berarti sebaliknya.
"pertanyaannya belum di jawab, dia berbuat apa?" tanya Gea lagi dengan lebih tegas. Dia sangat penasaran. Baginya apapun yang di lakukan orang itu, itu sudah alasan yang cukup untuk memasukkannya dalam daftar balas dendam atau buku death note sekalian.
"bukan apa-apa... hanya semakin menjelaskan kalau dia tidak benar-benar menyukaiku saja." ucap gea lagi-lagi tersenyum dengan getir. Alana terasa ikut sakit melihatnya, dia mengeratkan pelukannya pada baju Rara. Anak manis ini, siapa yang berani menyakitinya coba.
"sudah putus?" lagi, hanya gea yang berani bicara begini.
"menurutku dia bahkan tidak menganggap hubungan kami sampai pada tahap pacaran. Tapi kami sudah putus beberapa hari yang lalu." jawab Rara. Dan dia selalu terlihat baik-baik saja selama hal-hal itu terjadi, hatinya terbuat dari apa sih.
"tidak apa-apa, kita punya banyak waktu untuk mengenal dan jatuh cinta sama orang yang lebih baik." ucap Alana mulai ikut bicara, di awali dengan kata-kata bijak.
"Kita nggak seberuntung Alana yang sudah punya satu sejak kecil." balas Gea yang terlihat agak iri akan hal itu. Meski dia paham, seberat apa hal yang dilalui Alana karena cinta sejak kecilnya itu. Untung saja Ananta memperlakukannya dengan baik. Kalau tidak, Gea yang akan maju paling depan untuk menghajarnya.
"Aku nggak seberuntung kamu ge, yang selalu di tatap dan dikagumi diam-diam." balas Rara kembali menyerang Gea. Dia sedang satu tim dengan Alana, jadi dia tidak rela Alana di pojokkan begitu.
"aduh apa sih. Enggak. Apapun itu kalian salah lihat." Gea kembali panik. Dia tidak bisa berekspresi dengan benar kalau sudah di serang tentang penggemar agak rahasianya itu.
"Yah, semoga tuan putri denial kita cepat sadar dan Pangeran segera berani mengungkapkan perasaan" balas Alana ikut bergabung. Mereka sangat kompak kalau sudah tentang menggoda Gea. Sekaligus melupakan masalah yang baru saja dia bahas. Suasana hati Rara membaik, itu saja yang penting. Lainnya tidak usah dipedulikan.
"semoga tuan putri cantik anggun, dan baik hati kita mendapat orang yang sangat sangat lebih baik, dan lolos filter mamah Gea" lanjut Alana. Gea memicing dengan kesal sedangkan Rara tersenyum senang.
__ADS_1
"lupakan orang yang tidak cukup berharga untuk di ingat" lanjut Gea.
"buang jauh-jauh. Dia nggak pantas. Kamu ditunggu sama orang yang lebih baik" balas Alana.
"ini bakal bikin geli sih. Tapi aku sayang kalian" ucap Rara. Dan balasannya sesuai dengan perkiraannya, Gea yang menggeleng frustasi dan Alana yang sudah memalingkan muka. Dia terus tertawa. Rara sangat menyayangi keduanya, sungguh.
...****************...
meanwhile.
"Kamu, pulang ke asrama." ucap Alana memerintah Ananta sebelum ikut bergabung dengan Gea dalam acara menyeret Rara ke cafe untuk di interogasi.
"tapi aku udah rela-relain nunggu kamu di sekolah na... kita nggak pulang bareng?" balas Ananta agak kesal. Dia ikut membantu mengangkat barang-barang dan sebagainya padahal dia bukan anggota club drama, itu semua supaya dia bisa melihat Alana. Tapi sekarang dia benar-benar akan ditinggalkan sendirian.
"udah enggak usah sok manis. Ada misi penting." balas Alana buru-buru mengemasi barang-barangnya.
Alana diam sebentar sebelum bicara lagi. Kalimat ini agak berat untuk di sampaikan. Tapi dia sangat ingin mengatakannya.
"huft. aku sayang kamu, besok kita ketemu lagi bye" ucap Alana sebelum berlari meninggalkan Ananta yang tersenyum sendiri. Dia senang, Alana kini punya hal lain yang dia pedulikan selain dirinya. meski itu artinya kadang dia akan berada dj urutan ketiga atau lima dalam prioritas Alana, dia rela-rela saja. Asalkan yang di cintai Alana sebagai pasangan tetap dia saja.
...****************...
__ADS_1
Hai... terimakasih sudah baca ceritaku, beri hadiah dengan nonton iklan gratis atau kirim poin ke penulis yuk biar makin semangat buat nulis chapter selanjutnya...
see you kalo udah semangat nulis lagi, hehe