
Selama SMP, Alana tidak pernah ikut club di sekolah kecuali untuk lomba lari. Namun kali ini di SMA, Ananta memaksanya untuk memilih salah satu. Alana tidak suka melakukannya, karena itu hanya akan menyita waktunya bersama Ananta.
Alana masih dan selalu tidak peduli hal apapun selain anak laki-laki yang dia suka itu.
Sudah bisa di tebak, Ananta akan mengikuti club anak-anak pintar untuk mempersiapkan diri mengikuti olimpiade. Sedangkan Alana, meski masuk dengan nilai tertinggi tidak akan mau ikut dalam club yang sama karena Alana hanya mau belajar untuk Ananta.
Setelah berdiam lama di depan mading sekolah, akhirnya Alana menautkan pandangannya pada salah satu pilihan yang menurutnya cukup menarik. Poster dengan beberapa gambar sorot lampu dan topeng aneh, itu adalah poster club drama.
Sudah lama Alana penasaran dengan kegiatan mereka meski rasa penasaran nya tidak sebanyak tekadnya untuk selalu mengekori ananta ke manapun. Alasannya memilih club drama juga karena Alana kira club itu tidak akan menghabiskan banyak waktu dan tenaganya jadi dia bisa tetap fokus pada ananta.
"Jadi ikut club yang mana?" Tanya Ananta yang sedari tadi menunggu di samping Alana.
"Hmmm" Alana memainkan ujung jarinya di antara poster-poster yang terpasang meski pandangannya sudah berpaku pada satu arah.
"Drama." Tangannya berhenti di depan poster bergambar topeng dan cuplikan sebuah drama yang dibuat sendiri itu.
"Ah..." Ananta sedikit kaget, karena dia tidak mengira Alana akan tertarik pada hal seperti itu. Yah, tapi Alana memang tidak pernah bisa di tebak jalan pikirannya.
"Oke. Aku antar buat daftar ke sana." Ucap Ananta yang sudah menggandeng Alana untuk pergi dari sana.
"Enggak aku pergi sendiri." Protes Alana terdengar di sepanjang koridor. Dia memukul-mukul ringan tangan Ananta yang menyeretnya paksa. Tapi Ananta masih menariknya ke ruangan bertuliskan club drama yang berisi kostum-kostum aneh.
Alana mendengus kesal saat dihadapkan pada formulir yang sudah dimintakan Ananta pada anak laki-laki lain di ruangan.
Walau sudah memilih, sebenarnya Alana tidak terlalu suka dengan club drama. Alana hanya berpikir mungkin club drama akan sedikit lebih baik daripada memilih club lain.
Alana bahkan sempat berfikir untuk pura-pura mendaftar, tapi semua itu gagal sama sekali karena Ananta menyeretnya lebih dulu.
"Yakin mau ikut club drama" Tanya Arkan, teman Ananta yang juga menjadi pengurus club drama. Alana masih sibuk mengisi pertanyaan pertanyaan dan identitasnya sendiri.
Alana tidak terlihat tertarik juga tidak menjawab pertanyaan arkan, hanya melirik dari sudut matanya dengan sorot tajam.
"Serem banget sih" Arkan akhirnya bermonolog karena Alana tidak menjawabnya.
"Jangan sampe lepas dari pawang nih kalo anaknya kaya gini" Ucap Arkan lagi menaikkan alisnya pada Ananta.
"Enggak seserem itu kok. Kalo tahu aslinya" Ucap Ananta sambil menampakkan senyum.
Ananta pikir Alana akan aman jika Alana dia titipkan di club drama selama dia kembali belajar untuk club olimpiade. Selain itu, dia juga berencana mencarikan teman untuk Alana.
Karena dia tahu, saat ini Alana kembali pada titik awal ketika dia tidak memiliki orang lain selain Ananta seperti sebelumnya. Keadaan Ananta sekarang sedikit lebih baik, karena dia punya Arkan. Teman sekamar sekaligus sahabatnya.
"Nih. Udah" Ucap Alana menyodorkan formulir yang kini dipenuhi identitas dirinya.
__ADS_1
"Hmm, selamat datang di club drama. Kegiatan kita tiap minggu pagi jangan lupa. Ada absen tiap kegiatan juga jadi jangan bolos" Ucap arkan panjang lebar, tapi rasanya tidak satupun kalimatnya terdengar oleh Alana. Dia nampak tidak peduli sama sekali.
"Arkan" Ucap arkan menyodorkan tangannya setelah Alana tidak menanggapi satupun perkataannya.
"Kan ada di formulir" Jawab Alana kesal.
"Kan mau kenalan langsung." Lanjut arkan. Sepertinya sangat tidak mudah berteman dengan perempuan di depannya ini.
"Nggak mau Aku sudah punya pacar" Ucap Alana tegas. Itu memang kenyataan dan cara terampuh untuk mengusir cowok seperti Arkan. Ya, Alana belum tahu kalau Arkan itu sahabat Ananta.
"Beneran? Ananta nggak pernah bilang, dia punya pacar tuh" Ucap Arkan mulai memprovokasi Alana.
Memang benar sih, Ananta tidak pernah bilang secara langsung. Tapi dengan kalimat lain yang bermakna sama.
"Kenalan aja kenapa sih. Susah banget" Ucap Ananta yang sedari tadi hanya memperhatikan.
Akhirnya Alana mengalah dan mengambil tangan arkan untuk berkenalan.
"Alana." Jawabnya singkat lalu dengan segera melepas tangannya yang malah di tarik kuat oleh arkan.
"Salam kenal ya cantik" Ucap arkan kemudian disambut senyum kecil Ananta. Temannya ini memang sangat usil.
Alana panik karena tangannya di genggam kuat.
Melihat reaksi yang tidak dia inginkan, Alana tidak jadi menggigit tangan laki-laki menyebalkan dihadapannya.
Dia hanya pasrah, membiarkan Arkan melakukan apa yang dia mau.
"Hahaha... Lucu juga" Ucap Arkan melonggarkan genggamannya di tangan Alana.
Dia menoleh ke arah Ananta.
"Nih" Ucapnya menyodorkan tangan Alana yang masih digenggamnya ke tangan Ananta. Alana mengambil tangan Ananta dengan semangat.
"Hmph," Lalu membuang muka dari Arkan.
"Jangan galak gitu" Ucap Ananta mengelus rambut Alana. Dia harus menjelaskan siapa Arkan supaya Alana tidak memusuhinya.
"Dia sahabatku tau." Ucap Ananta dibalas anggukan oleh Alana.
"Ta... " Panggil Alana dengan suara yang lembut.
"Hmm?"
__ADS_1
"Lain kali kalo cari temen yang manis kelakuannya ya... Jangan kayak Arkan... Nyebelin banget." Ucap Alana tanpa berusaha mengecilkan suaranya yang cukup keras.
"Aku denger tau." Marah Arkan, mereka masih dalam satu ruangan yang sama, tapi Alana sudah membicarakan yang tidak-tidak tentangnya.
"Biarin" Jawab Alana dingin.
***
"Arkan..." Panggil Ananta saat mereka sudah berada di kamar.
"Titip Alana ya..." Lanjutnya dengan penuh arti. Ananta tau, dia bisa percaya sepenuhnya kalau itu arkan.
"Nggak janji, soalnya kita ga boleh pilih kasih ke sesama anggota." Jawabnya menggoda Ananta. Dia tau maksud Ananta sebenarnya.
"Nggak diberi perlakuan khusus juga kan... Jagain aja pokoknya." Ucap Ananta lagi.
"Iya... Sebisaku aja tapi." Jawab Arkan yang kini sedikit lebih serius.
"Nantinya aku bakal jarang bisa nemenin Alana... Atau bahkan butuh ke rumah sakit diam-diam tanpa Alana tau. Karena itu, aku butuh bantuan buat rahasiain hal-hal yang Alana enggak boleh tahu juga." Ucap Ananta
"Temenin Alana, kalau-kalau aku nggak bisa ada disampingnya. Itu aja" Lanjut Ananta.
"Walaupun bukan waktu kegiatan club?" Tanya Arkan memastikan.
"Kapanpun Alana butuh temen." Jawab Ananta lagi.
"Tolong ada di sampingnya, menggantikan tempatku." Ananta menatap dengan tatapan penuh arti.
"Iya iya. Males banget serius gini" Ucap Arkan membuat suasana kembali santai.
"Sorry deh. Jadi ngerepotin" Ananta mulai merasa bersalah karena harus melibatkan temannya dalam urusan pribadi. Padahal mereka baru berteman beberapa bulan saja.
"Asal mau direpotin juga enggak papa sih" Lanjut Arkan.
"Pasti" Jawab Ananta mantap.
"Bantu rahasiain dari pacarku kalo aku lagi deket sama perempuan lain maksudnya." Ucap Arkan dengan jenaka.
"Kecuali yang satu itu baru aku mau bantu" Jawab Ananta kesal.
Jangan membahas tentang perempuan lain dengan Ananta yang sudah sangat dipusingkan dengan satu perempuan.
Bagaimana bisa Arkan berencana berhubungan dengan lebih dari satu perempuan. Ananta tidak habis pikir.
__ADS_1