
Sekarang ini Alana berada di ruangan khusus. Ananta belum dibolehkan kembali ke ruangan biasa, karena perlu pengamatan lebih lanjut untuk tindakan pasca operasi.
Ananta masih tidur karena efek obat bius selama operasi. Masih tertidur dengan tenang yang membuat Alana merasa cemas. Di ruangan hanya ada dirinya yang hanya bisa menunggu dengan sabar. Ayah dan ibu Ananta masih bertemu dokter untuk mendapat penjelasan tentang kondisi Ananta pasca operasi.
Alana mengamati detak jantung Ananta, juga setiap tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Siap sedia kalau-kalau mereka bergerak menandakan Ananta sudah siuman.
Setelah beberapa jam menunggu dengan posisi yang sama akhirnya dahi itu berkerut, lalu matanya sedikit bergerak sebelum perlahan membuka dengan sempurna.
Gerakan itu membuat Alana mengikis jarak untuk lebih dekat lagi dengan Ananta. Setelah merasa yakin kalau Ananta benar-benar bangun, Alana segera beranjak untuk memberitahu ayahnya sebelum tangan Ananta menahannya dengan lemah.
"tunggu sebentar" ucapnya dengan suara serak. Alana menoleh ke arah Ananta lagi. Dia ini baru bangun setelah operasi, harusnya jangan banyak bergerak. Lihat saja sekarang, Ananta sudah mengernyit merasakan perasaan aneh di seluruh tubuhnya. Nafasnya pun sedikit tidak teratur.
"aku selamat?" tanya Ananta seolah tak percaya. Rasanya dia barusan hanya tidur, tapi tidurnya itu terasa sangat mencekam. Alana hanya bisa mengangguk menanggapinya. Tubuh dan perasaannya lelah menghadapi semua ini, tapi dia bahagia karena dengan semua yang dia lewati itu bisa membuat Ananta ada disisinya lebih lama.
Ananta mencoba menyentuh dadanya yang terasa aneh membuat Alana buru-buru menepisnya.
"lukanya belum sembuh" ucap Alana menghela nafas berat mengamati tingkah Ananta itu. Ananta pasti tidak merasakan bagaimana kulitnya itu dipenuhi bekas jahitan yang kini di tertutup baju rumah sakit yang tipis. Efek biusnya pasti masih ada.
Takut Ananta melakukan hal-hal yang bisa membuka lukanya lagi, Alana akhirnya menekan bel untuk memanggil suster. Dia tidak bisa meninggalkan Ananta sendirian. Dia akan menunggu suster datang, menatap Ananta yang sekarang menatap kosong ke langit-langit ruangan.
__ADS_1
"Na..." panggil Ananta. Alana mendekat untuk mendengar apa yang mau dibicarakan Ananta, supaya Ananta tidak bicara terlalu keras.
"kenapa"
"Aku hidup.." ucapnya dengan nada yang mengambang antara sebuah pernyataan dan pertanyaan.
"iya, kamu hidup." balas Alana dengan sabar. Andai sudah pulih dan dia masih bertanya begitu, Alana akan dengan senang hati mencubit pipinya sampai sadar. Ananta terlihat tenang sekarang, tapi tiba-tiba air mata yang tipis mengalir dari matanya. Dia bersyukur, masih diberi kesempatan hidup sekali lagi. Karena jauh di dalam hati, dia pikir dirinya tidak akan selamat.
Ananta menoleh pada Alana yang dengan setia duduk disampingnya. Menatapnya dengan begitu dalam seolah mereka sudah lama tidak saling memandang untuk waktu yang sangat lama.
Setelah sadar ananta menangis dia mengusap air mata ananta dengan perlahan. Namun ananta menahan tangannya membuat Alana menyentuh pipi ananta lama.
"ah, suster!" panggil Alana segera membenarkan ekspresinya yang terlihat gugup.
"Ananta baru bangun pasca operasi" lanjutnya menjelaskan situasi sebelum berdiri menjauh dari ranjang ananta. Malu sekali rasanya saat orang lain melihatnya. Apalagi posisi tadi membuat seolah Alana yang melakukannya padahal ananta yang menahan tanganya.
"ah, iya baik. saya mengerti" ucap perawat itu mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan pekerjaannya mengecek kondisi pasien yang barusan beradegan manis itu. Andai dirinya punya pacar dia juga mah di tatap dan disentuh seperti itu, pikirnya salah fokus.
"Menurut pemeriksaan saya kondisinya sudah agak stabil, tapi nanti saat efek obat biusnya habis mungkin akan terasa sakit, jadi tolong dijaga terus ya. Setelah ini saya panggilkan dokter yang bertugas" ucapnya dengan sabar. Alana mengangguk mengerti, tapi dia masih sedikit kesal saat si perawat melempar senyum kecil padanya sebelum benar-benar pamit untuk kembali ke posnya.
__ADS_1
Dia memandangi ananta lagi, mau marah juga tidak bisa kalau sekarang. Jadi dia menahannya untuk nanti saat ananta sudah sembuh.
"Ta, kerasa sakit nggak?" Pertanyaan ini Alana tanyakan berkali-kali untuk memastikan obat biusnya masih terasa. Alana tidak tahu rasa sakitnya akan seperti apa saat efek obatnya habis, tapi membayangkan luka lebar pasca operasi membuatnya sedikit meringis dan tidak berani membayangkan rasanya. Setiap kali ananta akan menjawab dengan gelengan pelan, saat itu dia baru bisa lega.
Beberapa saat kemudian ayah dan ibu ananta baru kembali, hanya sebentar mereka tapi rasanya sangat lama sekali bagi Alana.
"tante, ananta udah bangun" ucapnya membuat wanita itu buru-buru mendekat ke arah ranjang.
"kamu nggak apa-apa nak? ada yang sakit?" tanyanya, seperti Alana, dia mengamati ananta dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ananta menjawab dengan celengan lagi. Entah sudah berapa kali dia menggeleng sejak dia terbangun hari ini. Ananta tahu, mereka pasti sangat khawatir, bahkan ayahnya untuk sedikit mengerutkan kening saat melihatnya meski tetap saja hanya diam memperhatikan dari jauh.
...****************...
Ayah Alana datang menghampiri ruangan transisi ananta. Menyampaikan hal-hal yang harus dihindari pasca operasi. Tidak banyak hal berubah, hal-hal yang dulu tidak boleh dilakukannya sekarang juga masih tidak boleh dilakukan. Hanya saja ada satu tambahan yaitu dia masih belum boleh makan sebelum semua organnya dipastikan sudah bekerja dengan baik. Padahal sekarang ini rasanya sangat lapar, karena sejak pagi belum makan. Hanya susu yang boleh dia masukkan ke mulut dan itu sangat tidak membuatnya berselera.
"Alana, mau makan." rengeknya, kini ganti Alana yang banyak menggeleng. Menjaga ananta rasanya seperti mengasuh bayi sekarang.
Namun saat tiba-tiba ananta mengernyitkan dahi Alana tahu efek biusnya sudah habis. Buru-buru Alana menggenggam tangan ananta, barangkali bisa dia pakai untuk melampiaskan rasa sakitnya. Ananta sudah minum obatnya secara berkala, tapi rasa sakit itu tetap muncul kadang-kadang membuat semua orang di dekatnya merasa khawatir.
"sakit ya?" tanya alana merasa kasihan, ananta masih menahannya. Genggaman ditangannya mengerat tapi tidak sampai membuatnya merasa kesakitan. Setelah sakitnya mereda ananta baru menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"enggak sakit" jawabnya singkat. Seolah dia bukan orang yang barusan menggenggam tangan Alana dengan erat, tangannya saja masih belum dilepaskan tapi sudah bilang begitu. Selama menjaga ananta ini, Alana menahan banyak hal. Dia mau mencubit dan menendang ananta saat dia pura-pura baik-baik saja. Tapi yah, dia harus menahannya terus sekarang. Dia selalu mengingatkan berkali-kali, kalau pasien itu harus jujur dengan kondisinya sendiri biar cepat sembuh!