Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
enam puluh tiga. menyembuhkan diri


__ADS_3

Snack saja nyatanya benar-benar tidak bisa memuaskan Gea. Dia sibuk mencari hal lain yang bisa di makan dari tas Alana meski itu berakhir menemukan benda-benda yang sama. Makanan ringan. Kalau makan makanan seperti ini mana bisa kenyang.


"kita mau makan apa dulu?" tanya Ananta. Makanan yang dia maksud bukan snack lagi. Dia sudah membawa bahan mentah yang bisa di masak karena sejak awal dia tahu Alana akan membawa banyak snack saja. Gea segera menengok makanan yang dimaksud Ananta. Yah, kita harus berterimakasih pada ananta untuk semua yang sudah dia siapkan ini. Karena sebanyak apapun perempuan di sana yang terfikirkan tentang makanan berat yang cocok untuk camping hanya Ananta.


Mata Gea sudah berbinar melihat salah satu makanan kesukaannya.


"sosis bakar kedengarannya menarik" balas Gea. Yah, dia tidak akan suka makan snack setelah kelelahan. Tapi dia juga tidak mau terlalu kenyang. Makan nasi akan terlalu berat, jadi sosis saja harusnya cukup.


"hummm. nyalakan kompornya, biar aku yang buat" balas Rara. Entah energi dari mana yang merasukinya. Tiba-tiba dia punya semangat lagi setelah seharian lemah lunglai. Lonjakan energi Rara memang tidak bisa di tebak, mungkin saat duduk sambil mengeluh tadi dia sudah mengisi energi yang cukup untuk melakukan sesuatu lagi.


Gea menatapnya dengan raut bahagia, dengan begini dia akan benar-benar beristirahat kali ini. Tanpa berlama-lama Ananta sudah memasang kompor portable nya sampai siap digunakan. Bagian yang satu ini memang selalu tugas laki-laki, Ananta juga lebih tenang menyalakannya sendiri daripada benda itu berakhir rusak kalau di serahkan pada orang lain. Setelah benda itu siap, biar Rara tinggal memasak saja.


"kalau rasanya tidak enak tidak boleh ada yang komentar" ucapnya memperingatkan lebih dulu. Meski terlihat anggun tapi Rara ini juga menyeramkan kalau marah. Jadi yang lain tidak akan berani berkomentar. Mereka hanya mengangguk dengan semangat. Yah, sosis bakar bisa tidak enak seperti apa juga, pasti tetap bisa di makan. Lagipula Gea tau Rara bisa memasak. Gerakannya cukup meyakinkan juga. Jadi dia benar-benar bisa menyerahkan tugas satu itu pada Rara.


Sekarang giliran Rara yang sibuk, Alana membantu sesekali sedangkan Gea dan Ananta mengawasi saja sambil memakan buah potong yang sempat di beli saat berangkat tadi. Mereka terselamatkan karena buah segar itu membuat mereka bisa sabar menunggu menu utamanya selesai di masak.


"huh... menjadi tuan putri menyenangkan juga" ucap Gea merebahkan tubuhnya. Ada Ananta sudah cukup untuk mengawasi Rara dan Alana, jadi dia akan tidur saja. Sedangkan ananta yang sesekali menengok mereka.


"bangunkan aku kalau makanannya matang" ucapnya sebelum memejamkan mata.


"iya. istirahatlah" balas Ananta. Ananta tidak keberatan. Lagipula melihat Alana kerepotan itu sangat menyenangkan. Kalau bisa mengambil video diam-diam, dia mungkin akan merekam semua gerak-gerik perempuan itu. Tapi sekarang dia hanya bisa mengambil beberapa foto saja karena Alana sesekali juga menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Ra, kamu... sudah merasa lebih baik?" tanya Alana agak ragu-ragu. Bagaimanapun Alana tidak mau membuat Rara tidak nyaman meski masih sedikit khawatir.


"Bisa nggak kalian berhenti khawatir tentang itu. Aku beneran udah baik-baik aja kok. Lagipula dia tidak sepenting itu di hidupku." jawab Rara dengan enteng. Dari ekspresi nya Alana tahu dia benar-benar tidak perlu khawatir lagi. Mungkin tidur dan menghirup udara banyak-banyak sudah sedikit menghiburnya tadi.


"Padahal menurutku, kamu yang jauh lebih perlu di khawatirkan." ucap Rara, melirik ke arah Alana sebentar.


"kamu udah ngelewatin banyak hal satu semester ini." lanjutnya. Entah kenapa Rara tiba-tiba terlihat keibuan dengan sorot matanya yang lembut.


"Enggak. Ananta yang udah ngelewatin banyak hal berat. bukan aku." balas Alana merendah. Yah, yang melewati sesuatu antara hidup dan mati kan Ananta. Dia hanya mendampingi sambil beberapa kali menangis saja.


"ya udah... kita. Kita udah kerja keras semuanya." balas Rara. Matanya memiliki sorot yang teduh, disertai senyumnya yang manis.


"humm... Sama-sama" balas Alana.


"Tapi Ra..." Alana menatap Rara dengan agak panik saat hidungnya menciun sesuatu.


"itu kayaknya gosong deh" ucap Alana, takut Rara akan memarahinya karena sudah mengganggunya saat memasak. Mendengar itu Rara ikut panik juga mengangkat sosis yang sudah di olesi banyak bumbu dengan beberapa sisinya sudah kehitaman.


"masih bisa di makan kok. tenang. A-aku mau makan" balas Alana. Ananta yang sedari tadi memperhatikan ikut tertawa melihat Alana memisahkan sosis yang gosong ke piring lain. Gea benar. Mereka memang harus di awasi sekalipun hanya memanggang sosis dengan bumbu jadi.


"kenapa. kalo ada yang lucu bagi-bagi dong" ucap Gea, yang pada akhirnya tidak bisa langsung tertidur, dia hanya duduk bersandar pada tas besar Ananta. Jangan tanya apa isinya, yang pasti semua kebutuhan yang tidak di ingat oleh yang lainnya.

__ADS_1


"nggak ada. nih, makan aja buahnya masih ada" balas Ananta. Tidak mungkin kan, dia bilang dia tertawa karena gemas melihat apapun yang dilakukan Alana. Gea pasti akan mengatainya lebay kalau dia bilang begitu.


"kalau mereka membicarakan hal buruk tentang aku, langsung bilang. Biar aku pukul kepala mereka satu-satu." ucap Gea sedikit galak. Yah, dia masih dalam mode lelah dan ingin marah-marah.


"enggak boleh. nanti aku yang balas buat Alana" balas ananta kelepasan. Pada akhirnya Gea pasti akan tetap mengatainya juga.


"iya deh, pacar idaman. Jangan dibuat nangis lagi itu kesayanganku. atau nanti kita musuhan" balas Gea. yah, mereka masih tidak bosan bersaing menjadi yang paling sayang dan yang paling menjaga Alana.


"iya... nggak akan" balas ananta, kali ini menatap lurus ke arah Alana tanpa menoleh lagi. Ekor matanya mengikuti Alana sampai Alana menaruh sosis yang matang ke tengah matras tempat mereka duduk.


"ini. bisa dimakan." ucap Alana langsung. Di piringnya ada sosis gosong yang mereka masak pertama kali, sisanya terlihat lebih baik di piring lainnya yang berukuran lebih besar.


"iyaa... aku makan kok" balas Ananta. Rara tersenyum melihat wajah kikuk Alana. yah, Alana memang lucu saat gugup dan panik, semua tahu itu.


"enak kok" balas Gea. makanan apapun akan terasa enak kalau makannya saat lapar. Kalau tidak percaya coba saja. Meski ada sedikit bumbu pahit, masih bisa lah tertutup dengan rasa bumbu yang banyak. Cukup layak untuk mengisi perut sambil memandangi perbukitan di depan mata. Ananta akan memasak air untuk coklat hangat nanti. Momen hari ini, harus dinikmati sepuasnya, karena membangun tenda dan perjalanannya sudah sangat lama.


...****************...


Maaf ya.. Alana and the genk jadi nggak pulang-pulang dari piknik. janji bakal nulis lebih sering lagi setelah ini... peace


(っ'-')╮\=͟͟͞͞💌

__ADS_1


__ADS_2