
Hari sudah gelap saat Ananta kembali ke sekolah. Hari minggunya terasa cepat karena perjalanan yang harus dia tempuh untuk pergi ke rumah sakit.
Dia lebih dulu pergi ke asrama wanita sebelum kembali ke kamarnya sendiri. Hatinya merasa harus memastikan keadaan Alana dulu. Ananta mendongak melihat jendela kamar Alana yang sudah menyala tanda perempuan itu sedang melakukan sesuatu di sana dan belum tertidur.
Ananta berencana untuk menelfon Alana sebelum melihat 100 panggilan tak terjawab yang ada di layar ponselnya. Handphonenya memang dalam mode senyap sejak pagi, tapi dia tidak menyangka Alana sudah mencarinya sejak siang. Dia pasti mencarinya tepat setelah kegiatan club selesai.
Ratusan pesan dia Terima dari satu kontak yang sama membuatnya panik.
Ananta segera mencari nomor Alana dan menelponnya. Suara berdering berbunyi cukup lama sebelum Alana menjawab panggilannya dengan marah.
"Kamu ke mana?" Serbu Alana setelah panggilan tersambung, dia berucap dengan nada tinggi tentu saja. Alana sudah menahan kekesalannya sejak siang.
"Ada urusan sebentar" Jawabnya takut-takut.
"Dari siang di telfon ga bisa. Kamu enggak apa apa kan." Panik Alana. Sebenarnya Alana sudah menelfon ayahnya di rumah sakit, ayahnya bilang Ananta tidak di sana. Tapi tetap saja rasa khawatir di dadanya belum juga surut.
"Enggak apa-apa. Coba deh liat ke luar jendela" Ucap Ananta. Tanpa menunggu lama, wajah Alana muncul di sana, menyibak tirai putih hingga menampakkan wajahnya di tepi jendela. Raut khawatir itu berangsur-angsur berubah menjadi senyuman saat dia melihat langsung laki-laki di seberang telefon sedang berdiri di depan asramanya.
"Tunggu di situ. Jangan kemana-mana." Ucap Alana singkat meninggalkan keheningan beberapa lama. Samar-samar Ananta mendengar langkah kaki Alana yang menuruni tangga dengan terburu-buru. Alan bahkan tidak mau mematikan telfonnya karena takut Ananta pergi lagi.
"Hati-hati. Jangan lari-lari" Ucap Ananta tidak didengar oleh Alana yang masih berlari. Senyumnya melebar saat sudah sampai di pintu lobi.
Alana langsung menghambur ke pelukan Ananta dan memeluknya tanpa kata cukup lama. Baru beberapa jam tapi rasanya dia sudah sangat rindu laki-laki di depannya ini. Dia selalu membuatnya panik saat tidak bisa dihubungi sama sekali. Alana diam di posisinya beberapa lama sebelum membisikkan sesuatu.
__ADS_1
"Aku keluar dari club drama ya..." Bisik Alana di telinga Ananta membuat senyumnya pudar seketika.
"Jangan" Ucap Ananta panik mendorong Alana sedikit menjauh agar bisa melihat wajah Alana langsung.
"Habisnya kamu langsung hilang seharian. Aku mau nungguin kamu aja tiap minggu biar enggak hilang lagi" Marah Alana yang sudah berencana mengikuti kegiatan Ananta hari minggu sejak pagi, jadi dia bisa tahu keadaan Ananta setiap hari.
"Maaf, handphone ku mode senyap dari pagi. Lain kali enggak akan hilang lagi kok. Jangan keluar dari club drama ya,." Bujuk Ananta. Dia tidak mau menghancurkan apa yang sudah dia rencanakan sebelumnya. Apalagi menurutnya Alana sudah nyaman berada di lingkungannya sekarang. Dia tidak mau membuat Alana merasa tidak punya teman lagi.
"Janji dulu" Alana mengeluarkan jari kelingkingnya tanpa takut terlihat kekanakan. Dia tidak peduli, dia cuma peduli pada keadaan Ananta, itu saja.
"Iya janji." Jawab Ananta mengaitkan jari kelingkingnya meski terasa aneh. Melihat Alana yang kini tersenyum membuat Ananta sedikit lega, itu artinya dia benar-benar sudah dimaafkan.
Alana mengeratkan pelukannya lagi sebelum teringat dia belum bertanya tentang kemana Ananta menghilang hari ini.
"hmm?" Ananta melonggarkan pelukannya setelah ditatap serius begitu.
"kamu nggak selingkuh kan." tanya Alana, yah meski sebenarnya Alana tidak yakin apa mereka termasuk kategori resmi berpacaran.
"enggak" jawab Ananta tegas, kepalanya menggeleng panik saat ditatap serius begini. Dia mana ada waktu memikirkan perempuan lain, Alana saja sudah lebih dari cukup untuknya.
"terus. barusan ke mana aja?" tanya Alana. Pertanyaan ini seringnya tidak di jawab oleh Ananta, tapi dia masih mau mendengar jawabannya. Siapa tahu kali ini Ananta mau menjawab kan.
"hmm. bertemu penasehat" jawab Ananta. Tidak berbohong sih, hanya menyebutnya dengan sebutan lain.
__ADS_1
"memang kamu Raja pake penasehat segala. Siapa penasehatnya." tanya Alana tidak Terima dengan jawaban ambigu itu. Yah, harusnya Ananta sudah menebak kalau jawaban itu tidak akan bisa memuaskan pertanyaan Alana.
"Kapan-kapan aku ajak kamu ketemu dia. tunggu aja." ucapnya final. Lagipula, dia juga sudah berjanji pada Kak Fio untuk membawa Alana lain kali.
"hummm. oke. Awas aja kalo kamu bohong." ancam Alana serius.
"enggak... percaya deh." Ananta mengajak Alana duduk karena sepertinya obrolan mereka akan cukup lama. Mereka duduk di lobi, batas akses anak laki-laki di asrama perempuan. Dia sebenarnya lelah, tapi melihat Alana yang tersenyum dengan ceria membuatnya ingin tinggal beberapa saat lagi.
"jadi... gimana club nya? udah dapat temen?" tanya Ananta sudah seperti pertanyaan seorang ayah pada anaknya.
"humm. lumayan seru juga. Walaupun awalnya agak aneh tapi ternyata mereka baik." ucap Alana menceritakan orang-orang yang dia temui hari ini. Ananta hanya mendengarkan dengan senyum tipis.
"Syukurlah" jawab Ananta, senyumnya mengembang. Dia sudah tahu itu karena sudah melihat foto yang dikirimkan Arkan pagi ini. Tapi mendengarnya langsung dari Alana membuatnya lebih senang lagi.
Alana melanjutkan ceritanya panjang lebar, menceritakan tentang kesan pertamanya bertemu teman-teman barunya pagi ini. Alana sesekali tersenyum, sedangkan Ananta masih mendengarkan dengan sabar. Dia terpesona, rasanya selama ini dia jarang memperhatikan betapa Alana sangat cantik saat bersemangat tentang sesuatu. Dia seperti, bersinar dengan cahaya tak kasat mata. Ah, harusnya dia memperhatikan Alana lebih sering.
Cerita Alana baru berhenti saat Ananta menginterupsi. Langit sudah semakin gelap sekarang sudah hampir melewati jam tidur Alana biasanya. Ananta memaksa Alana untuk masuk lagi ke kamar asrama meski dihadiahi wajah cemberutnya karena belum puas bertemu Ananta.
"kita ketemu lagi besok, ya." bujuk Ananta hingga akhirnya Alana menurut. Ananta menghela nafas lega saat melihat Alana yang melambaikan tangannya di jendela kaca yang di lihatnya dari depan gedung asrama, mengantarnya pergi ke asramanya sendiri.
Hari ini, menyenangkan. Perasaannya juga... sedikit lebih baik dari sebelumnya. Dia tidak pernah tahu sebelumnya kalau hanya beberapa kata bisa meringankan beban berat di hatinya. Dia bersyukur karena bisa bertemu kak Fio hari ini. Dan sebagai tanda terimakasih dia akan berdo'a untuk Kak Fio nanti.
Orang baik ini, biarkan dia hidup lebih lama Tuhan. Dia sangat berharga untukku. Bisik Ananta menatap langit gelap yang menampakkan cahaya bulan berpendar bulat sempurna.
__ADS_1