Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
empat belas. teman baru alana


__ADS_3

Keesokan harinya mood Alana benar-benar buruk sejak pagi. Alana menyesali keputusannya gara-gara mengisi formulir pendaftaran hari sabtu kemarin. Jadilah hari minggu pagi dia terpaksa masuk ke ruangan teater yang penuh dengan orang aneh dan absurd menurutnya.


Alana akan tersenyum kikuk dan terus menerus merasa canggung dengan orang-orang asing yang tidak dia kenal sama sekali.


Dia memandangi orang-orang yang hadir satu persatu, memperhatikan penampilan mereka dari ujung kepala sampai kaki.


Mulai dari perempuan yang terlihat sangat cantik dengan resting ***** face nya berdiri dengan percaya diri dengan ponytail tinggi dan crop top lengkap dengan jaket kulit.


Alana hampir geleng-geleng kepala melihat penampilannya yang sangat garang tapi keren menurutnya jika tidak ingat kalau dia tidak dalam posisi bisa berkomentar, karena nyatanya Alana bahkan belum berkenalan dengan mereka semua.


Orang kedua yang menarik perhatiannya adalah seseorang yang mengenakan sweater pink nude dan Jean abu-abu yang anehnya terlihat sangat cantik ketika dipadukan dengan wajah manis yang banyak tersenyum.


Alana berencana berbicara dengan perempuan manis itu sebelum dia melihatnya sibuk mengurusi urusan hampir semua orang di dalam ruangan. Dia mengajak berbicara dan menolong semua yang terlihat butuh bantuan. Mondar-mandir dengan senyum ramahnya yang sangat manis.


Hal itu membuat Alana mengurungkan niatnya, sepertinya berteman dengannya akan sedikit merepotkan, dia terlalu baik.


Dari semua yang di sana sebenarnya yang terlihat menonjol lagi adalah seorang anak laki-laki yang memakai kacamata bundar yang membuatnya terlihat seperti kutu buku.


Tapi berbanding terbalik dengan kacamata itu, rambut panjangnya yang atasnya di kuncir sedikit ke belakang membuat kesan yang jauh berbeda. Sampai rasanya, Alana tidak akan berani untuk sekedar berkenalan karena style nya yang terlalu tampan.


Setelah mengedarkan pandangannya ke arah mereka lagi, Alana memilih berdiri di sudut dan berdiam diri. Karena rasanya dia seperti anak kecil yang tersesat di tempat yang tidak seharusnya.


Dia merasa tidak cocok dengan lingkungan yang sangat absurd ini.


Sampai akhirnya dia melihat Arkan memasuki ruangan. Refleks Alana tersenyum sebentar, sebelum merasa aneh lagi. Kenapa sekarang dia jadi senang melihat Arkan datang. Dia sedikit menyesali pikirannya barusan.


Yah, walau bagaimanapun Arkan adalah satu-satunya orang yang dikenalnya di dalam ruangan ini. Karena itu dia merasa seperti di selamatkan dengan kedatangannya.


"Hai... Patuh juga mau kesini" Ucapnya setelah menghampiri Alana.


Sebelumnya dia sudah melihat Alana yang terlihat canggung dari kejauhan. Arkan langsung paham apa yang Ananta maksud dengan 'menjaga Alana'. Anak itu tidak bisa dilepas sendirian di tempat asing.


"Hmph. Itu juga gara-gara Ananta yang maksa." Jawab Alana sedikit merengut.

__ADS_1


Ananta sudah menelponnya pagi-pagi untuk mengingatkan tentang kegiatan ini. Mau tidak mau Alana yang sudah terlanjur bangun pagi akhirnya muncul di tempat ini meski sangat terpaksa.


"Yah, kan memang harus belajar sendirian. Biar bisa mandiri, nggak nempelin Ananta mulu." Ucap arkan lagi-lagi memancing emosi Alana. Tapi belum sempat Alana menjawab dia sudah memfokuskan diri pada hal lain.


"Oke guys, minta perhatiannya sebentar." Ucap arkan dengan lantang membuat Alana kaget. Kesannya yang tegas jauh berbeda dari arkan usil yang berbicara dengannya beberapa saat lalu.


"Ini member baru kita, baru daftar kemarin. Jadi kita kenalan sebentar ya sebelum mulai kegiatan." Ucapnya membawa Alana ke sampingnya.


Alana sedikit gelagapan karena tiba-tiba di tatap oleh begitu banyak mata. Dia masih tidak terbiasa dengan perhatian sebanyak itu dengan orang-orang yang akan dia kenali.


"Itu yang buat ulah di hari pertama kan" ucap perempuan ber ponytail dengan mata yang berubah menjadi eye smile karena tersenyum.


"Pengen kujadiin temen deh" Ucapnya lagi.


Alana hampir mengucek matanya untuk memastikan yang sedang bicara adalah orang yang sama dengan yang barusan terlihat garang, bukannya perempuan berbaju pink.


"Gea... Tahan... Kita masih mau kenalan ini" Ucap arkan menenangkan Gea yang sudah bersiap untuk menghampiri Alana di tempatnya berdiri. Dia sangat antusias, sudah seperti ingin menerkam buruan.


Akhirnya arkan membawa mereka duduk melingkar untuk berkenalan menyambut Alana.


Alana menatap kagum kelompok yang awalnya terlihat absurd itu. Mereka sangat ramah, tidak sesuai dengan kesan pertama yang membuat Alana merasa terintimidasi.


Sekarang Alana bahkan bisa ngobrol santai dengan Gea yang berceloteh tentang keberaniannya di hari sambutan siswa baru.


"Gimana sama si Ananta." Gea bahkan tahu nama Ananta padahal mereka sama sekali tidak pernah berkenalan sebelumnya.


"hummm lumayan baik. Udah bisa dijinakkan sih. Sekarang enggak berani macam-macan." Jawab Alana dengan sedikit bercanda. Cara Gea bereaksi dengan setiap perkataan Alana sangat ekspresif. Pasti akan sangat menyenangkan jika mereka bisa benar-benar berteman.


"De... Liat, Alana sama Gea ternyata satu spesies. Serem ih" Ucap Rara tanpa menurunkan suaranya padahal tangannya di angkat menutupi mulut dengan pose berbisik.


"Berisik" Ucap dewa kembali fokus dengan tugas menulis skrip hari ini. Kelihatannya hanya dewa yang serius mengerjakan, sedangkan yang lainnya asyik mengobrol.


Alana mungkin sedikit tidak beruntung, karena kelompoknya justru sibuk mengobrol saat kelompok lainnya sedang serius memikirkan alur cerita untuk ditulis.

__ADS_1


Namun dia juga beruntung, karena kelompok yang dia punya sekarang berhasil membuatnya nyaman dan tidak tertekan, padahal dia menjadi anggota baru di club mereka.


"Coba liat" Ucap Gea merebut tulisan dewa dan membacanya sekilas.


"Hmph, jelek. Enggak masuk akal" Ucapnya. Alana langsung kagum melihat Gea yang berani berkomentar langsung di depan dewa yang kini terlihat dingin dan pendendam. Padahal dirinya saja hanya berani melirik sedikit, tanpa berani mengajak bicara sedikitpun. Dewa itu ganteng, tapi auranya terlihat, garang.


"Bikin sendiri kalo gitu." Ucap dewa membuang penanya ke lantai.


Gea mengambilnya dengan cuek lalu menulis ide cerita yang langsung di jawab dengan anggukan oleh anggota kelompok yang lain.


Lagi-lagi Alana menatap dengan tatapan penuh arti. Gea bahkan bisa menulis cerita yang menarik padahal baru berpikir beberapa detik.


"Kamu jenius ya?" Ucap Alana bertepuk tangan sambil terus menatap Gea kagum.


"Ini baru ide cerita nya aja.. Dialog nya harus di kembangin lagi." Lanjut Gea tidak mau membanggakan diri.


Gea kembali menatap dewa yang masih terlihat kesal dan membuang muka. Dia ganti melihat ke arah Alana.


"Nih lanjutin" Ucapnya menyodorkan kertasnya pada Alana. Alana mengambilnya dengan antusias. Tanpa dia sadar, dia berhasil lupa dengan kemarahannya ke Ananta karena teman-teman barunya itu.


***


setitik senyum mengembang di bibir Arkan. Diam-diam arkan mengambil foto Alana dan langsung mengirimnya ke nomor Ananta.


"Dia udah dapet temen tuh" Tulisnya.


"Mission success??" Tulisnya lagi.


"Enggak dikenalin sama cowok ganteng juga sih kan..." Balas Ananta dengan sedikit kesal karena dalam foto terlihat wajah dewa yang diam-diam melihat ke arah Gea dan Alana.


"Oh, yang itu. Dia aman kok. Percaya deh" Lanjut arkan.


Dia sangat mengenal anggota club nya dengan baik. Makanya dia tahu kalau dewa tidak akan mengganggu Alana. Lagipula menurutnya dewa sudah punya crush juga.

__ADS_1


"Oke. Asal Alana enggak kenapa-napa aja. Btw, makasih ya." Balas Ananta.


"Santai" Arkan menutup ponselnya dan kembali mengawasi anggotanya lagi. Sambil sesekali memperhatikan Alana. Yah, pekerjaan sampingannya sekarang adalah menjadi mata-mata buat sahabatnya yang sedang sibuk melakukan hal lain. Dia dengan senang hati melakukannya, toh itu juga tidak terlalu merepotkan.


__ADS_2