
Keesokan harinya, Alana pergi ke sekolah sesuai janjinya. Tapi hanya bertahan sampai jam istirahat siang. Dia tidak betah berlama-lama ada di sekolah saat dia tahu Ananta ada di rumah sakit. Kali ini dia meminta izin untuk bolos dengan alasan urusan keluarga, untungnya guru yang dia mintakan izin menyetujui tanpa banyak bertanya.
Kali ini dia kembali ke asrama dan berganti baju supaya Ananta tidak khawatir. Alana memakai kaus Hijau tua dan celana jeans kesukaannya. Dia memilih apapun yang bisa membuatnya nyaman.
Sebelum pergi, Alana mengemas banyak barang. Dia membawakan makanan yang biasanya Ananta suka, buku yang Ananta belum pernah baca, atau apapun yang bisa menghibur Ananta selama dia berada di rumah sakit. Alana membawa semuanya dalam dua kantung kresek berukuran sedang.
Dia berjalan sambil menggumamkan melodi yang dia suka akhir-akhir ini. Suasana hatinya menjadi lebih baik, meski harus pergi ke rumah sakit lagi. Alasannya karena Ananta membiarkannya menemani di rumah sakit, tidak seperti sebelumnya saat Alana hanya menanti kabar sambil menangis sendirian. Sekarang, bertemu Ananta saja sudah membuatnya bahagia, seolah dia tidak perlu yang lain lagi.
...****************...
Sesampainya di lobi Alana mengerutkan keningnya saat melihat bella yang berjalan dengan panik di lorong rumah sakit. Dia berjalan setengah berlari sampai tidak menyadari keberadaan Alana di lobi rumah sakit.
Sebenarnya Alana juga ingin menyapa, tapi dia tidak sempat menahan Bella. Setelah mengamati lebih banyak, suasana rumah sakit memang sedikit lebih ramai hari ini. Mungkin baru saja ada insiden yang membuat petugas panik dan melakukan pekerjaannya dengan tergesa-gesa.
Akhirnya dia hanya mengikuti langkah bella sampai memasuki sebuah ruangan. Dia berhenti di depan pintu UGD rumah sakit sambil menatap ruangan itu penuh tanda tanya. Untuk apa Bella pergi ke sana, siapa yang sakit?
Alana menahan nafasnya saat melihat siapa yang terbaring di ranjang yang dihampiri Bella. Arkan terbaring di sana dengan luka yang terlihat parah. Alana mendekat, memanggil bella yang sudah menangis keras sambil menutupi mulutnya seperti meredam suaranya sendiri.
__ADS_1
Bella langsung memeluk Alana setelah melihatnya mendekat. Orang tua arkan hanya bisa memandangi dua anak SMA yang menangis sambil berusaha keras menyembunyikan perasaannya yang sama-sama berduka. Mereka berusaha tegar, meski dari raut mukanya terlihat duka yang lebih dalam.
Dari penjelasan Bella yang sedikit terbata-nata, Alana tahu Arkan baru saja kecelakaan dan kondisinya semakin parah dengan cepat. Pihak rumah sakit bahkan sudah menyebutkan tentang arkan yang terdaftar dalam program pendonor jantung karena cedera otak yang parah. Alana masih mengelus punggung Bella yang terus memeluknya. Pundaknya sudah basah karena Bella belum berhenti menangis.
Tentu, andai Alana berada dalam posisi yang sama Alana juga akan menangis seperti itu. Alana menunggu sampai Bella tenang sebelum mengajaknya keluar ruangan dan bicara berdua. Dia tidak boleh berduka terlalu banyak di depan pasien.
"Minum dulu" Ucapnya menyodorkan air putih yang segera diterima Bella, tenggorokannya terasa kering karena banyak menangis. Dia menerima botol itu dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Aku tidak percaya. Ini benar-benar terjadi" Ucapnya lirih. Matanya masih berkaca-kaca hampir menangis lagi.
"Aku baru saja bicara dengannya pagi ini, dan sekarang dia sudah dalam kondisi seperti ini. Bagaimana aku bisa tenang" Ucap Bella frustasi. Bisa dibilang arkan sedang koma sekarang. Kecelakaan yang dia alami terjadi pagi ini, mungkin tepat setelah dia menelfon Bella. Arkan di bawa ke rumah sakit dengan keadaan yang cukup parah dan ada pendarahan hebat di kepala. Selain itu, ada banyak luka juga di tubuhnya.
"Aku tahu, tapi kamu harus tetap tenang, harus yakin kalau arkan bisa bertahan." Ucap Alana yang merasa aneh karena harus mengucapkan hal-hal yang biasanya dia dengar.
"Aku takut kak" Ucap Bella akhirnya mengutarakan perasaannya.
"Sabar ya, aku tau kamu kuat, kamu harus bertahan buat Arkan." Alana bicara lagi. Dia terasa seolah bicara dengan dirinya sendiri, karena dia benar-benar pernah ada di posisi yang sama dengan Bella. Dihibur oleh orang lain tidak membuat keadaan menjadi lebih baik, tapi setidaknya perasaannya dulu berubah menjadi lebih tenang. Dia harap Bella juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Alana memeluk bella lagi, dia sedang butuh sandaran saat ini. Alana hanya bisa berusaha menenangkan Bella meski tidak tahu harus bagaimana.
Bella mengangguk perlahan, dia bersyukur dia mengenal Alana, orang yang sedikit melegakan hatinya karena sama-sama mengalami takdir yang menyakitkan di mana orang yang mereka sayang berada dalam kondisi bertahan di ambang kematian.
Baru setelah Bella benar-benar tenang Alana kembali ke kamar Ananta. Dia mengelus bahu Bella sebelum melangkah pergi, sesekali masih menoleh sedikit untuk memastikan dia tega meninggalkan Bella yang terlihat mengusap air matanya.
...****************...
Alana berhenti lama di depan pintu kamar Ananta. Rasanya sedikit berat untuk masuk ke dalam, dia tidak mau menangis saat melihat Ananta, apalagi saat dia tahu kondisi sahabat Ananta juga dalam keadaan yang mengkhawatirkan.
Alana membuka pintu perlahan, dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Orang tua Ananta sedang tidak ada di ruangan. Biasanya Ananta sedang tidur jika itu terjadi. Benar saja, Ananta sedang terlelap dalam balutan selimut. Terlihat sangat tenang. Alana mengamati dada Ananta yang naik turun, menandakan kalau dia masih bernafas. Alana mengibaskan tangan di depan wajahnya saat wajahnya terasa memanas ingin menangis.
Dia mengambil posisi untuk duduk di kursi sebelah kanan tempat tidur setelah meletakkan bawaannya di atas meja. Dia mengambil tangan Ananta mencari tempat denyut nadinya merasakan detakan kecil di sana. Alana menghembuskan nafas kasar, dia denyut lirih itu masih bertahan dan terus berdetak hingga detik ini. Namun setelah melakukannya, dia merasa menyedihkan.
Orang lain bahkan tidak pernah menyadari jantungnya yang berdetak kencang sepanjang waktu. Sedangkan dirinya bahagia dengan denyut jantung Ananta. Tapi dalam kondisi seperti itu pun dia masih harus bersyukur karena keadaannya lebih baik dari pada keadaan Arkan sekarang. Entahlah rasanya dia tidak bisa bersedih dengan benar... rasanya bercampur aduk sekarang antara bersyukur dan ingin mengeluh.
Jauh dalam hati dia mengakui, meski belum lama berteman... Arkan adalah teman yang baik. Dia selalu menjaganya saat mereka bersama. Meski sebagiannya adalah jasa Ananta yang mengenalkan mereka tapi tetap saja, Arkan berharga dalam hidupnya. Begitu juga dengan Ananta, orang yang menjadi alasan senyumnya sejak bertahun-tahun lalu. Orang yang sangat dia suka sampai-sampai dia rela mengikutinya kemana saja. Asalkan dia perginya bukan ke akhirat.
__ADS_1
Dan kedua orang berharganya itu, sekarang dalam kondisi yang menyedihkan. Kenapa, kenapa orang-orang di sekitarnya harus mengalami takdir menyedihkan semacam ini. Tanpa sadar akhirnya air matanya menetes juga membuat rasa hangat di pipinya. Yah, biarkan dia menangis sekarang. Setidaknya meluapkan perasaan di dalam hatinya supaya tidak meledak di saat yang tidak tepat. Ananta tidak akan melihatnya sekarang.