
Benar kata orang-orang. Saat kita takut atau merasa cemas akan sesuatu yang sudah dipastikan kapan, waktu akan terasa sangat cepat seolah buru-buru membuatmu mengalaminya. Hari yang dijadwalkan sebelumnya terasa masih berjarak lama hingga beberapa hari, tapi sekarang tiba-tiba hari itu datang. Hari operasi Ananta yang tidak bisa disambut dengan sepenuhnya bahagia.
Alana duduk di samping ananta dengan cemas. Ananta belum menjalani prosedur, tapi rasa khawatir nya sudah membuncah sejak pagi. Alana mulai menggigiti kukunya sendiri, meski sesekali Ananta akan memaksanya berhenti. Sudahlah, dilarang sebanyak apapun Alana akan tetap kembali melakukannya. Jadi melarangnya akan percuma saja.
"tenanglah" ucap Ananta lirih. Dia akan ikut cemas juga kalau melihat orang-orang di sekitarnya berbuat begitu.
Ibu Ananta sudah mengusap punggung tangan anaknya sangat lama, sampai Ananta merasa tangannya sudah sangat berkeringat sekarang. Tapi kali ini bukan karena jantungnya yang kenapa-kenapa tapi karena kekhawatiran ibunya.
Melihat mereka cemas seperti itu Ananta terpaksa harus menyembunyikan ketakutannya sendiri. Memaksa tersenyum agar tiga orang di sekitarnya ini bisa sedikit lebih tenang. Dia menatap mereka satu persatu, bahkan ayahnya yang jarang bicara itupun dia tatap lama sekali sampai membuat pria itu sedikit salah tingkah.
Tapi semua buyar ketika ayah Alana masuk ke dalam ruangan. Ketakutan itu memuncak dengan cepat. Operasi ini tetap saja memiliki kemungkinan berhasil 50% meski dilakukan oleh dokter bedah terbaik. Ananta bisa segera sembuh atau segera pergi meninggalkan semuanya, itu semua bergantung pada hasil operasi hari ini.
"Ayah, ayah yakin kan" ucap Alana menatap lekat ayahnya sekali lagi.
"iya... kamu harus tenang supaya tante orang tua Ananta tidak terlalu khawatir" ucap ayah Alana sambil mengusap punggung Alana. Operasi semacam ini memang sangat jarang terjadi, tapi dokter yang dia pilih sudah punya pengalaman dengan tingkat keberhasilan yang tinggi jadi dia bisa mempercayakan padanya secara penuh. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin, sisanya terserah Tuhan.
Ayah Alana mengarahkan orang tua Ananta untuk mengantar Ananta menuju ruang operasi. Jantung Alana terasa berdetak jauh lebih kencang lagi saat mereka sampai di depan ruang operasi. Tangannya menggenggam telapak Ananta dengan erat. Dia bahkan tidak menyadari keluarga pendonor yang kemarin di temuinya juga ada di sana.
ini bukan pertemuan terakhirnya kan? Alana bisa melihat Ananta lagi kan setelah ini? Ananta bisa bertahan kan? pikirnya sedikit frustasi.
"Alana... Ananta harus segera masuk" ayahnya memperingatkan sekali lagi, sehingga Alana hanya bisa patuh melepas tangan Ananta yang sedari tadi di genggamannya.
__ADS_1
"Setelah ini kita ketemu lagi, janji." ucap alana mengeluarkan jari kelingkingnya.
"Janji," balas Ananta, namun tubuh Ananta terasa lemah meski hanya sekedar mengangkat tangannya untuk mengambil jari kelingking alana. Alana bergerak sendiri, mengambil kelingking Ananta sambil tersenyum. Orang tua Ananta menatapnya dengan senyum tipis. Mereka sedang membawa Ananta untuk segera sembuh, mereka yakin itu.
Senyum itu memudar bersama pintu ruang operasi yang menutup. Semua tidak bisa menyembunyikan perasaannya sekarang. Mereka semua khawatir. Ananta sangat berharga bagi hidup mereka. Merasakan tubuhnya tiba-tiba kehabisan tenaga, alana memilih duduk di ruang tunggu. Dia harus menunggu lama sekarang. Menunggu Ananta sembuh meski selalu ada kemungkinan untuk hal-hal lainnya.
Saat mengedarkan pandangan ke sekitar, barulah dia sadar ada kak Rosi yang juga hadir di sana. Alana menghampiri perempuan itu dan langsung memeluknya.
"terimakasih untuk harapannya" ucap Alana dengan suara yang lirih. Suaranya tenggelam di bahu perempuan itu.
"iya, operasinya harus berhasil dulu supaya Andini bisa tenang" ucapnya. Orang ini sangat tegar, tentu saja. Adiknya itu sepanjang hidup selalu keras kepala, jadi ingin menuruti semuanya sampai di wasiat terakhirnya itu.
"boleh aku mengangkat mu menjadi adik?" ucapnya lirih, lirih sekali.
"kenapa kak?" tanya Alana yang tidak bisa mendengar kalimatnya dengan jelas.
"nggak apa-apa" jangan sekarang, pikir Rosi. Sekarang ini dia harus mengurus adiknya, semoga saja setelah semuanya dia bisa menjalin hubungan baik dengan Alana, supaya dirinya tidak kesepian setelah Andini pergi. Alana mengenalkan Rosi dengan orang tua Ananta, mereka memberikan respon yang sama dengan Alana. Orang ini jelas orang baik. Sangat jarang ada orang yang rela memberikan jantung adiknya demi keselamatan orang lain. Meski katanya adiknya yang lebih keras kepala tentang itu, tapi tetap saja hal ini terjadi karena persetujuannya.
Setelah mengobrol beberapa lama, mereka kembali pada titik awal, suasana yang dingin dan mencekam. Lebih seperti karena terlalu cemas sebenarnya.
Operasi itu berjalan sangat lama. Setiap detiknya terasa menyiksa. Alana meremat tangannya sendiri dengan gemas. Dia melirik ke arah ibu Ananta yang sama khawatir dengannya. Alana memperhatikannya sejak tadi. Tetap saja, seorang ibu sudah pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Alana menghampiri wanita itu untuk menggenggam tangannya. Mereka harus saling menguatkan sekarang.
__ADS_1
Setiap detik waktu terasa berjalan sangat lambat. Alana melihat jam di tangannya sesekali. Mengamati jarumnya yang bergerak dan pintu kamar operasi secara bergantian.
Setelah beberapa jam, jantungnya terasa berhenti berdetak saat pintu dibuka, memunculkan wajah ayahnya yang keluar dari ruangan dingin itu. Ibu Ananta yang pertama berdiri, menghampiri pria itu dengan tergopoh-gopoh sedangkan Alana seperti tidak bertenaga sama sekali.
"bagaimana dokter?" tanya wanita itu.
"Operasinya berjalan lancar, kita harus menunggu Ananta sadar untuk evaluasi pasca operasi" ucap ayah Alana itu sembari tersenyum tipis. Udara terasa kembali memenuhi dada Alana. Seperti dia hidup kembali setelah mati rasa beberapa saat.
Tak terasa air mata menetes di pipinya sekarang, dia menoleh ke arah Rosi sekarang. Sedikit merasa bersalah andai dirinya menunjukkan perasaan bahagia. Namun perempuan itu menatapnya kembali, menaikkan dagu untuk menunjukkan kalau dia baik-baik saja.
Matanya menghangat bersama air yang mengalir di pipinya. Alana menangis sedikit keras sampai ibu Alana ingin ikut menangis bersamanya, tapi wanita itu menahannya untuk nanti. Sekarang dia harus menguatkan Alana. Dia mengusap punggung Alana sambil membawanya duduk kembali.
"Kita masih harus menunggu Ananta bangun, yang sabar ya" ucap wanita itu dengan lembut.
"iya tante..." balas Alana. Biar saja kalau dikatakan lebay, dia ingin menangis sekeras-kerasnya sekarang meski hatinya belum sepenuhnya lega. Dia sudah bahagia karena setidaknya Tuhan memberi jalan untuk Ananta bisa bertahan hidup. Kini rasanya dia akan mulai lebih bersyukur untuk setiap detak jantung yang diberikan Tuhan. Karena sekali kehilangannya, kita juga akan pergi selama-lamanya dan tak bisa kembali lagi.
...****************...
Hai... terimakasih sudah baca ceritaku, beri hadiah dengan nonton iklan gratis atau kirim poin ke penulis yuk biar makin semangat buat nulis chapter selanjutnya...
see you kalo udah semangat nulis lagi, hehe
__ADS_1