
Hari-hari berlalu dengan cepat. Hari ini hari sabtu, sekolah berjalan seperti biasa. Alana belajar di kelasnya, meski sedikit tidak fokus. Sesekali dia akan melirik ke arah jendela. Menunggu dengan cemas Ananta yang berangkat Olimpiade tadi pagi.
Biasanya dia tidak seperti ini. Dulu bahkan ketika Ananta pulang membawa piala pun Alana nampak tidak terlalu senang karena itu sudah sangat sering terjadi sampai Alana berhenti menghitungnya lagi.
Tapi kini, dia jauh lebih khawatir. Meski seminggu sudah berlalu, ingatan tentang Ananta yang mengurung diri masih teringat jelas di kepala Alana. Membuatnya sangat protektif pada Ananta. Alana takut andai Ananta tidak menang akan membuat Ananta terpuruk lagi.
Hingga saat mobil yang berisi Ananta muncul di gerbang sekolah, Alana mengamati Ananta dari kejauhan. Ananta tidak terlihat senang, wajahnya yang datar membuat rasa khawatirnya semakin menjadi-jadi. Dia ingin menemui Ananta sekarang juga.
"Permisi. Boleh saya minta izin ke kamar mandi?" Ucap Alana yang sebenarnya sedari tadi tidak fokus pada pelajaran, kini menatap guru yang sedang menjelaskan sesuatu.
Setelah diberi anggukan Alana segera berlari ke arah lorong menuju halaman depan. Mencari Ananta.
"Ananta" Panggilnya, membuat Ananta yang sedang berjalan ke arah kantor berbalik menoleh ke arah Alana.
Setelah berhenti di depan Ananta, Alana mengamati raut Ananta yang masih sama. Tidak tersenyum, hanya sedikit terkejut karena kedatangannya.
"Ananta... " Panggil Alana lagi dipenuhi kekhawatiran.
"Kamu kalah enggak apa-apa kok. Kamu selalu menang di hati Alana." Alana memeluk Ananta, berusaha menghibur laki-laki di hadapannya, berharap perasaannya akan membaik.
"Eh? Hmm" Balas Ananta diam-diam tersenyum lalu mengusap rambut Alana yang diikat ke belakang.
Guru yang tadinya berjalan di depan Ananta kini ikut berbalik mendengar pernyataan Alana tadi, berjalan mendekat menuju dua muridnya yang berpelukan tidak tau tempat.
"Hei Alana." Ucap bu Rika melepas tangan Alana yang masih memeluk Ananta hingga terlepas.
"Ananta menang loh. Siapa bilang kalah." Lanjutnya sembari menarik Alana hingga mundur beberapa langkah. Alana menatap bu Rika dengan tatapan bertanya. Dibalas dengan anggukan dan senyum dari guru sains nya itu.
"Dan. Enggak usah modus begitu. Masih siswa enggak boleh peluk-peluk sembarangan." Ucap bu Rika lagi mengacungkan telunjuknya di depan mata Alana. Alana yang mendengarnya menunduk malu.
"Maaf bu." dia tidak menyangka akan di tegur begini. Dia kira gurunya itu sudah pergi.
__ADS_1
Setelah memastikan keduanya tidak akan berpelukan lagi bu Rika berjalan menjauh kembali menuju ke kantor guru.
"Kalo menang kenapa mukanya begitu" Tanya Alana melihat Ananta yang kini menertawakan dirinya. Ananta hanya mengangkat bahu.
"Biasanya juga kamu enggak senang-senang amat kalau aku menang," Jawab Ananta jujur. Di dalam hatinya yang paling dalam dia ingin melihat wajah Alana yang tersenyum bangga setiap kali dia menang dalam perlombaan apapun. Karena hanya respon Alana yang dia pedulikan. Sayangnya Alana jarang mengekspresikan hal itu.
"Yah itu kan karena kamu keseringan menangnya. Jadi enggak seru lagi. Kalau ini kan beda. Ini kemenangan pertama di SMA. Harusnya kamu senyum lebar sambil pamer piala." Protes Alana panjang lebar untuk menutupi rasa malunya karena sudah memandang rendah Ananta.
"Oh gitu. Enggak seru lagi ya." Ananta menampakkan raut kecewa untuk menggoda Alana yang semakin salah tingkah.
"Harusnya begini?" Ananta meletakkan tangannya di kedua bahu Alana.
"Alana. Aku mau laporan. Aku menang hari ini. Kamu harus bangga jadi pacarku. Ya. Gitu?" Ucap Ananta dengan senyum lebar sambil menatap mata Alana lekat-lekat.
Alana merasakan pipinya menghangat, mungkin semu merah sudah muncul di sana tanpa Alana ketahui. Ah, Ananta berhasil menjungkirbalikkan perasaannya hari ini hanya dengan tersenyum.
"L-laporan diterima. Aku ke kelas dulu. Tadi aku izinnya ke kamar mandi. Ga boleh lama-lama." Ucap Alana menirukan gestur tentara dengan gugup, tangannya melepas pegangan Ananta di bahunya lalu berlari ke arah sebaliknya menuju kelas. Meninggalkan Ananta yang masih tersenyum menatap gemas melihat tingkah Alana yang lucu.
"Terimakasih lagi, Alana." Bisik Ananta terdiam sebentar sebelum kembali berjalan menuju kantor guru.
***
Tatapan Ananta yang membuatnya malu masih terlintas di kepalanya membuatnya refleks menyentuh pipinya yang hangat dengan punggung tangan.
"Hai Alana. Tumben kita bisa ketemu jam istirahat." Panggil gea yang ikut duduk disamping Alana. Disampingnya ada rara yang ikut tersenyum curiga.
"Ge. Alana senyum-senyum begini pasti ada yang manis-manis nih." Bisik Rara dengan suara keras, seperti biasanya.
Gea yang menyadari itu kini ikut tersenyum penuh curiga pada Alana yang reflek menggelengkan tangan dan kepalanya berlainan arah.
"Kayaknya sih bukan manis lagi, tapi pedas... Makanya enggak bisa diceritain" Ucap Gea menanggapi dengan senyum usil di wajahnya. Dia juga memakai gestur berbisik yang sama sekali tidak berguna karena Alana bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
__ADS_1
"Ih, bukan begitu" Ucap Alana sedikit kesal. Dua teman barunya ini memang sangat pintar menggoda orang lain, apalagi dalam hal gosip.
"Kalo bukan begitu cerita dong." Ucap Gea lagi menyudutkan Alana. Senyumnya masih sama. Alana yang panik terlihat lucu di matanya.
"Ananta... Menang Olimpiade." Jawab Alana ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Udah. Itu aja?" Tanya Gea lagi membuat Alana di posisi yang tidak nyaman.
"Manis-manisnya mana dong." Ucap Rara masih tidak puas dengan jawaban itu.
"Terus dia nyebut aku pacarnya." Ucap Alana lagi dengan suara kecilnya hingga hampir tidak terdengar sampai-sampai Gea harus memfokuskan telinganya pada Alana seorang.
"Oooh... Officially disebut pacar. Ada kemajuan dong." Ucap Gea dengan suara yang cukup keras membuat Alana menutup wajahnya karena malu. Dia tidak menyangka berteman di SMA akan membuatnya serepot ini. Menyenangkan. Tapi memalukan juga. Apalagi dua temannya termasuk spesies langka yang berwajah manis tapi bar-bar.
"Selamat ya Alana..." Ucap Gea dan Rara menyalami Alana secara bergantian seolah Alana baru saja mendapatkan penghargaan, padahal Ananta yang menang hari ini bukan Alana.
"Hei apa nih. Udah dapat teman gosip aja nih temenkuh" Ucap arkan yang tiba-tiba datang dan langsung duduk di samping Alana.
"Heh jangan" Ucap Gea panik. Membuat arkan tidak jadi duduk.
"Jangan duduk di samping pacarnya Ananta dong. Minggir-minggir" Ucap Gea sambil tertawa. Arkan yang paham dengan maksud Gea pun menuruti dan bersiap pindah sebelum Alana menarik arkan supaya tidak benar-benar beranjak dari duduknya.
"Enggak. Udah duduk aja." Ucap Alana menolak diperlakukan berbeda gara-gara pernyataannya barusan.
"Heh. Pacarnya Ananta." Panggil arkan ikut menggoda Alana.
"Jangan tarik-tarik gitu dong. Aku juga udah punya pacar." Arkan menggeser duduknya hingga menyisakan jarak beberapa senti di antara dia dan Alana.
Menggoda Alana sepertinya akan menjadi hobi mereka. Respon Alana yang memerah karena malu sangat lucu. Andai sekarang Ananta datang dan melihatnya. Mungkin dia akan semakin jatuh cinta.
***
__ADS_1
Ga sesuai plan tapi ya udahlah ya..
Terimakasih buat yang udah baca (っ'-')╮\=͟͟͞͞💌