Setelah Dia Pergi

Setelah Dia Pergi
Enam puluh lima. Kue matcha


__ADS_3

Setelah liburan kecil itu, keadaan mereka menjadi sedikit lebih baik. Yah, secara fisik mereka tetap sama. Ananta yang agak ringkih tapi bisa melakukan banyak hal, Alana dan Gea yang punya terlalu banyak cadangan tenaga, juga Rara, si tuan putri yang hanya bergerak secukupnya, tapi kadang bicara lebih banyak dari semuanya.


Memang, yang berubah dari mereka hanya ketenangan hati, dan hati yang lebih terbuka satu sama lain. Mereka tau, siapa orang-orang yang akan benar-benar khawatir saat salah satu dari mereka tidak baik-baik saja. Mereka punya janji tidak terucap dan tidak tertulis tentang selalu ada untuk satu sama lain. Itu membuat senyum Alana menjadi lebih cerah lagi.


...****************...


Libur setelah ujian dan banyak kesibukan, nyatanya sangat menyenangkan. Alana pulang ke rumahnya, tidak lagi tidur di asrama. Dan kegiatan sehari-harinya selama libur adalah mengganggu hidup ananta. Kata mengganggu dalam artian sebenarnya.


Dia selalu datang ke rumah, hampir setiap hari meski jarak rumah mereka cukup jauh. Jangan lupa, Alana pasti yang paling gigih untuk hal-hal yang terkait dengan ananta. Ananta sendiri juga membiarkannya. Melihat Alana setiap hari kan juga membuatnya bahagia.


"hari ini aku bawa kue" ucap Alana meletakkan kotak besar yang susah payah dia bawa.


"memang ada apa hari ini?" tanya ananta, dia tidak ingat ada perayaan apapun hari ini.


"Hari Alana mau makan kue." balas Alana membuat ananta menarik bibir tersenyum maklum. Yah, yang dia hadapi ini alana, makhluk random yang menggemaskan. Ananta juga tau, setelah es krim, Alana paling suka kue. Walaupun berkali-kali ananta bilang makan kue terlalu banyak itu tidak baik.


"Ya sudah tapi tidak boleh banyak-banyak" balas ananta. Dia sudah terbiasa menjaga Alana seperti menjaga anak kecil di saat begini. Tapi biarlah, Alana tidak keberatan juga.


"Makanya aku bawa kesini, buat makan bareng." balasnya selesai menata kuenya di meja. Kue itu cukup besar diameternya, memang tidak di pesan untuk di makan sendiri.


"nih... kesukaan baruku. kue tart matcha" ucapnya sambil tersenyum senang.


"humm bukannya kamu memang selalu suka matcha."


"iya. Tapi ini tart ananta. lebih besar, lebih banyak krim, lebih cantik. lebiiih...." ucapnya lagi penuh semangat.


"lebih nggak sehat, jangan banyak-banyak." balas ananta agak judes. Dia tahu sebanyak apa Alana akan makan kalau sudah bilang SANGAT suka sesuatu.


"iya. makanya kamu harus ikut makan. Aku udah pesen yang less sugar." balas Alana lagi. Tahukah Alana bahwa makanan less sugar tidak langsung berarti makanan itu jadi lebih sehat untuk di makan.

__ADS_1


Ya sudahlah, kalau seorang Alana sudah bersabda, Ananta bisa apa selain menurutinya. Lagipula ananta sudah sangat senang betapa Alana selalu memikirkannya saat melakukan hal-hal yang di sukainya. Alana yang selalu ingin melibatkannya dalam berbagai hal dalam hidupnya.


"terimakasih banyak..." ucap ananta.


"buat kuenya?" tanya Alana heran, karena biasanya Ananta tidak akan sesenang itu saat dia memberinya kue.


"hmm iyaa, buat kue dan semuanya" jawabnya. Nada rendah nya membuat suasana agak terasa dingin.


"humm iya. udah sini buka mulut, Aaaa" suasananya tidak akan lama kalau sedang bersama Alana. Sekarang Alana sudah mengejar ananta untuk menyuapkan kue matchanya.


"kenapa suka matcha sih" ucap ananta saat sudah menyerah, sekarang mereka kembali duduk berdua di sofa, dengan beberapa krim masih menempel di sudut bibir ananta.


Alana sedang sibuk mencari tisu di tasnya, tapi tangan ananta lebih cepat mengambil tisu yang sedari tadi ada di atas meja. Lalu Alana merebutnya sebelum sempat menyentuh wajahnya.


"sini" Alana membersihkan krimnya dengan tangan mencengkram ringan wajah ananta. Dengan begini mereka bertatapan agak lama.


"udah, ganteng lagi" ucap Alana setelah wajah ananta bersih.


"ganteng, tapi sekarang sedikiit lebih ganteng." balas Alana. Ananta yang menatapnya dalam jarak dekat, memperhatikannya, itu berkali-kali lebih ganteng dari biasanya. Ingatkan Alana untuk mengatur detak jantungnya supaya tenang kembali. Berada dalam jarak dekat begitu ternyata masih membuatnya berdetak kencang.


"Kuenya masih banyak, gimana dong" ucap ananta, pandangannya beralih pada kue yang masih ada separuh lagi.


"aku akan makan semuanya. kemarin aku habis satu" balas Alana memotong satu potong kue lagi lalu memakannya dengan suapan besar.


"kan sudah di bilang jangan makan banyak-banyak." balas ananta meninggikan suaranya sedikit.


"ish, aku makan bareng bunda.. habis satu, aku sama bunda." balas Alana, bohong sih. Tapi ini demi ananta nggak marah-marah.


"hmm... iya" Hening, lama setelahnya. Lalu tiba-tiba alana teringat oleh sesuatu lagi. Hal yang lama ada di kepalanya.

__ADS_1


"Ta..." panggil Alana sebelum makan satu suapan lagi.


"hmm?"


"liburnya masih lama ya..." ucapnya setelah diam lama untuk mengunyah dan menelan.


"iya. kenapa?" tanya ananta. Tidak biasanya Alana menanyakan tentang sekolah, biasanya dia menikmati liburan sampai tidak ingin masuk lagi.


"Kalau kangen Gea sama Rara kan bisa ketemuan di luar aja" balas ananta menerka. Yang bisa dirindukan Alana dari sekolah, bukanya hanya mereka...


Alana menggeleng pelan.


"udah telpon tadi malem sampe ketiduran" balas Alana. Ananta bersiap ceramah, tapi Alana bicara lagi.


"kalau masuk sekolah nanti, bakal ketemu Arkan ya?" tanya alana dengan suara rendah. Hal itu agaknya masih mengganggunya. Sekarang, di mata alana Arkan adalah sebuah benda rapuh yang bisa pecah kapan saja. Terlalu rapuh sampai dia tidak tahu harus memperlakukannya seperti apa.


Arkan yang dia kenal dulu adalah seorang yang periang, selalu menghidupkan suasana dengan membuat orang lain tertawa. Tapi kenapa justru orang yang sama, begitu lelah dengan hidup sampai ingin menukarnya dengan hidup orang lain? Alana tidak dan tidak akan pernah paham kenapa Arkan pernah berpikir begitu.


"Arkan udah baik-baik aja Na, sekarang... " balas ananta dengan tatapan penuh arti. Dia sama-sama tahu kekhawatiran Alana.


"Aku bakal pastiin itu." tambahnya. Dia tidak bisa memberikan jaminan, tapi dia bisa megusahakannya kan. Mereka masih bertukar pesan setiap hari, dengan obrolan konyol seperti dulu sebelum apapun itu terjadi. Ananta tidak pura-pura lupa, dia hanya selalu mengingatkan Arkan, bahwa mereka pernah baik-baik saja. Dan masih akan baik-baik saja.


Karena bila hal yang sama terjadi lagi, keputusannya masih tetap sama, dia ingin hidup bersama dengan Arkan juga, bukannya hidup berkat Arkan.


Alana tersenyum kecil. Dia masih tidak mengerti dengan persahabatan di antara laki-laki, mungkin sampai kapanpun tidak akan mengerti. Tapi mendengar Ananta bicara begitu, rasanya Arkan memang benar-benar baik-baik saja.


"udah. Berhenti bicarain laki-laki lain. Kamu bareng aku sekarang." lanjut Ananta, tersenyum.


"Kalo di pikir-pikir, Arkan itu ganteng banget sih" balas Alana menggoda Ananta.

__ADS_1


"ALANA!"


__ADS_2