
Beberapa lama Gea dan Ananta saling mengejek ditambah Rara yang sedari tadi memihak Gea di setiap perdebatan. Dia senang mereka memecahkan kecanggungan yang entah kenapa tiba-tiba ada di sekelilingnya. Dia tidak terbiasa menghampiri Ananta duluan dalam kondisi seperti ini. Semua terasa berbeda, padahal beberapa hari lalu dia selalu punya hal-hal untuk dibicarakan dengan Ananta. Tapi sekarang pikirannya kosong. Alana terdiam mengamati teman-temannya berbincang-bincang dengan Ananta. Meski sesekali dia akan lebih banyak mencuri pandang pada Ananta. Dasar, ini aneh sekali.
Baru setelah mereka akan pamit Ananta menarik Alana mendekat. Gea masih sibuk dengan ibu Ananta yang memaksa mau memberi sesuatu untuk di bawa pulang. Rara dia tarik untuk membantunya menolak oleh-oleh dari ibu Ananta yang kelewat baik. Alana melirik ke arah Gea, melihatnya sibuk akhirnya dia mengalihkan pandangan sepenuhnya ke arah Ananta.
"hmm? kenapa." tanya Alana saat di tarik mendekat. Posisi Ananta masih duduk diam, sedangkan Alana berdiri karena tadinya mau menghampiri Gea dan Rara.
"kangen sedekat ini sama kamu" bisik Ananta menggoda.
"ih, ketempelan setan mana kamu, sok romantis gini." ejek Alana. Sepertinya bukan hanya dirinya yang merasa aneh, Ananta juga meski hanya ditunjukkan saat yang lain tidak melihat.
"biarin kamu geli dengernya. beneran kangen tau" balas Ananta lagi. Tangannya yang menggantung menahan lengan Alana menariknya untuk kembali duduk di sebelahnya.
"ngobrol di chat beda rasanya sama ketemu langsung" lanjutnya membuat suasana aneh yang tidak biasa itu terus berlanjut.
"aku bingung." balas Alana.
"hmm? kenapa?"
"mau minta cepet masuk sekolah lagi, tapi ga tega karena harusnya kamu istirahat dulu yang lamaaa." kalimat Alana menggantung, terhambat oleh rasa ragu yang muncul tiba-tiba.
"tapi kalau aku sendiri yang ke sekolah rasanya aneh. kan tujuan aku sekolah di sana karena kamu." lanjut Alana. Dia jujur, meski terdengar seperti merengek. Biasanya dia tidak pernah mengungkapkannya. Tapi kali ini kalimat itu keluar begitu saja.
"Padahal kalo kamu bilang, aku bakal langsung ke asrama saat itu juga." balas Ananta dengan nada serius. Eh, harusnya kan di balas dengan bercanda...
"ih, enggak. istirahat dulu yang lama. kalau enggak, ada kenapa-kenapa di sekolah aku nggak mau bantu" ancam Alana. Dia juga serius. Berjalan saja belum lancar, bagaimana mau ke sekolah yang asramanya saja ada banyak lantai.
"ih, jahatnya" Ananta cemberut mendengar ancaman Alana.
"ya makanya, tunggu pulih dulu" Alana akan marah kalau Ananta membuatnya mengulangi kalimat yang sama sekali lagi.
__ADS_1
"iya, iya." balas Ananta mengalah. Dia tidak mau dimarahi di hari pertama bertemu lagi setelah beberapa hari berpisah.
"lagipula, sekarang sekolah hanya sibuk untuk persiapan ujian, jadi tidak perlu ke sekolah sering-sering." tambah Alana.
"kamu bisa belajar dari rumah juga."
"hmm. kalau itu tidak perlu. kamu lupa? pacar kamu ini pintar" balas Ananta tersenyum lebar. Menyombongkan sesuatu yang pantas di sombongkan. Diam-diam dia memang sudah belajar tentang semua materi di SMA selama pelatihan untuk Olimpiade, jadi seharusnya ujian ini tidak menjadi masalah. Walau terlihat lama tidak ke sekolah, ingatannya masih kuat dan bisa menyimpan semua materi yang pernah di pelajari.
"walau pintar kan tetap harus belajar. Kamu udah lama banget nggak belajar. selama di rumah sakit juga nggak pernah. mana bisa" Tiba-tiba mereka kembali pada perdebatan beberapa saat yang lalu.
"ya sudah kalau nggak percaya, nanti juga kamu lihat sendiri" lanjut Ananta masih menyombong. Ya sudah lah, Alana hanya bisa menghela nafas kasar. Ananta kalau sudah begitu tidak bisa di debat.
"jangan lupa siapin hadiahnya kalau aku masih ranking" Alana membuang muka, dia terjebak lagi.
"setelah ini..." lanjut Ananta dengan suara rendah membuat Alana balik menatapnya lagi.
"kamu ke rumah Arkan?" tanya Ananta. Banyak hal yang mau dia sampaikan ke arkan, tapi satu-satunya cara yang dia bisa sekarang hanya melalui chat, itupun Arkan tidak pernah membacanya sekalipun.
"pfft" Alana tidak bisa menahan tawanya melihat benda yang dititip Ananta. Sangat bukan Ananta sekali.
"kuno sekali." balasnya tidak mau berkomentar banyak karena takut Ananta sakit hati, melihatnya tertawa saja Ananta sudah melotot dengan seram.
"biar, butuh banyak usaha tau buat nulis setiap katanya" balas Ananta menghela nafas panjang. Kalau boleh dia mau membuang muka karena malu, dia sudah seperti anak tahun 80-90an berkirim surat begini, tapi dia tidak mungkin memberitahu Alana tentang apa yang mau dia sampaikan.
"jangan di buka, cuma Arkan yang boleh baca" lanjutnya.
"iya-iya... ih, sama sahabat aja romantis begini sama aku enggak" kesal Alana masih mengejek cara Ananta berkomunikasi dengan Arkan.
"buat kamu juga ada tapi belum waktunya" kalimat itu singkat tapi sudah berhasil membuat pikiran Alana kemana-mana. Dia berdiri di antara garis tipis bahagia dan sedih. Sial, kenapa otaknya berpikir terlalu jauh tentang ini sih.
__ADS_1
"hmm, aku tunggu" balasnya, muram. Kalau isi surat itu akan membuatnya bahagia, dia harap dia cepat menerimanya. Tapi kalau isinya akan membuatnya bersedih, dia lebih baik tidak menerimanya sama sekali.
"hei... udah di panggil Gea itu" panggil Ananta menyadarkan Alana, barusan dia menatap kosong bergelut dengan pikirannya sendiri.
"eh iya." ucap Alana bergegas bangkit tapi tangannya di tahan lagi oleh Ananta.
"kenapa lagi?" respon Alana terdengar seperti agak marah, membuat Ananta menurunkan nada suaranya sebelum bicara lagi.
"ituu. suratnya taruh di tas aja biar yang lain nggak liat" ucap Ananta melirik surat yang di tenteng Alana terang-terangan. Dia tetap saja malu kalau yang lain melihat, apalagi respon Gea pasti akan heboh.
"oh," Alana memasukkan suratnya ke dalam tas.
"huft, aku pulang dulu" ucap Alana akhirnya. percakapan panjang mereka tadi sebenarnya karena Alana mau pamit pulang, tapi Gea masih berbincang panjang dengan ibu Ananta, jadi Alana berakhir ngobrol dengan Ananta. Sengaja, kalau tidak dibiarkan sendiri begitu mungkin sampai mereka pulang Alana tidak akan bicara banyak.
"tante kami pamit pulang dulu ya, maaf merepotkan" sapa alana sebelum mengikuti Gea dan Rara yang sudah lebih dulu berpamitan sudah berjalan menuju mobil.
"iya Alana... terimakasih atas kunjungannya, semoga Ananta cepat sembuh dan bisa bareng kamu lagii" ucapnya dengan senyuman.
"iya tante..." Alana menunduk lalu melambai sebentar sebelum benar-benar masuk ke mobil Gea.
"katanya pamitan doang, lama banget." ucap Gea sarkas padahal dia sendiri juga baru selesai menata bawaan dari ibu Ananta.
"dih kan sambil nungguin. kan masih ngobrol lama juga." balas Alana dengan nada tinggi.
"humm iya deh iya.." jawab Gea dengan mata penuh curiga.
"lovebird yang satu ini memang harus di pancing gitu ge, good job" jawab Rara kembali mendukung Gea, rasanya Alana seperti di bully kalau bersama mereka berdua. 😆
...----------------...
__ADS_1
...Maaf buat updatenya lamaaaa banget....
still, terimakasih yang udah baca sampe sini, mau kirim love banyak-banyak (っ'-')╮\=͟͟͞͞💌