
Beberapa hari berlalu dengan kegiatan yang sama. Ananta masih sibuk dengan persiapannya untuk Olimpiade. Alana yang bosan menunggu Ananta sesekali akan menghampiri arkan untuk makan bersama di kantin. Walaupun seringnya arkan duluan yang menghampiri Alana.
Alana bukannya tidak punya teman sama sekali dari kelasnya, hanya saja menurutnya ngobrol dengan arkan yang sedikit aneh dan kocak lebih menyenangkan daripada teman kelasnya yang sangat rajin dan sedikit membosankan.
Disisi lain, Arkan juga menepati janjinya untuk berteman dengan Alana saat Ananta tidak bisa sering-sering bersamanya. Makanya dia selalu mengiyakan setiap kali Alana mengajaknya menghabiskan jam istirahat bersama-sama.
"Gea emang gitu ya orangnya?" Ucap Alana memulai pembicaraan setelah semangkuk baksonya datang.
"Gitu gimana?" Ananta mengerutkan keningnya, dia baru tahu kalau Alana juga suka membicarakan orang lain.
"Keren... Cool gitu penampilannya. Orangnya juga." Lanjut Alana dengan mata yang berbinar. Karakter gea memang terlihat keren. Orang yang bisa dengan bebas berpenampilan dan bebas menyampaikan pendapat tanpa ragu. Walau terkadang karakter seperti itu bisa jadi dibenci oleh orang yang tidak mengenalnya.
"Kirain mau gosip. Taunya malah dipuji-puji" Jawab arkan sedikit kesal karena tidak mengira Alana akan memuji temannya.
Diam-diam dia kagum, karena kebanyakan orang akan menghujat orang lain setelah melihat penampilan orang lain, tapi Alana mau mengamati dan mengenal lebih dulu sebelum menilai orang lain.
"Anak-anak drama itu lucu-lucu... Kelihatannya sangar, tapi aslinya ramah dan baik banget." Lanjut Alana, menghiraukan salah satu anggota club drama yang sedang dia ajak bicara.
"Hmmm... Gitu" Jawab arkan sekenanya, dia masih terlalu fokus mengamati Alana yang bercerita dengan sangat antusias.
Kadang dia lupa bahwa dia baru berteman dengan Alana beberapa hari saja. Karena cara Alana bercerita banyak hal seolah-olah mereka sudah dekat sejak lama.
"Tau enggak? Dewa so sweet banget." Lanjut Alana, mengingat hal menarik lainnya dari club yang baru dia datangi satu kali itu.
"Tunggu, kamu tahu?" Arkan lagi-lagi tidak menyangka Alana sudah memahami hal itu sejak pertama bertemu.
__ADS_1
"Iya... Gemes banget sama gea yang enggak paham-pahan sama cara dewa menatap dia." Pikiran Alana tepat seperti apa yang arkan amati sejak lama. Dia pun ikut antusias karena menemukan orang dengan pikiran yang sama dengannya.
Mereka masih asyik berbicara tanpa menyadari Ananta sudah berdiri di kejauhan dan mengamati mereka.
Tadinya Ananta mau mengajak Alana makan bersama karena bimbingannya hari ini selesai lebih cepat dari biasanya. Tapi setelah melihat Alana sedang berbincang asyik dengan arkan, dia mengurungkan niatnya. Dia hanya mengamati keduanya sebentar lalu pergi menjauh.
Tadinya melihat Alana terlihat sendirian membuatnya sedih. Tapi sekarang melihat Alana terlihat dekat dengan arkan membuat rasa di hatinya bercampur. Di satu sisi dia senang karena Alana punya teman bicara selain dirinya. Namun disisi yang lain, dia juga merasa aneh melihat Alana dekat dengan orang lain selain dirinya.
Namun lebih dari itu, dia senang Alana punya banyak teman selain dia. Supaya nantinya Alana tidak akan sendirian lagi. Apalagi kali ini orang yang dekat dengan Alana adalah Arkan, sahabat baiknya.
***
Pulang sekolah, seperti biasanya Alana sudah menunggu di depan kelas. Namun kali ini Ananta sudah menghilang sebelum Alana sampai. Akhirnya Alana hanya menemukan arkan yang pulang sedikit lebih lambat karena harus mengumpulkan tugas dari guru.
"Ananta mana." Sapa Alana setiap kali melihat arkan. Dia sangat jarang menyebut nama arkan sebagai sapaan karena yang dicarinya selalu Ananta.
Mendengarnya, Alana langsung sibuk dengan handphone nya. Rasa khawatir entah dari mana tiba-tiba datang begitu mendengar Ananta pergi tanpa mengajaknya. Hal itu terasa aneh karena biasanya mereka berdua selalu pulang bersama.
Belum sempat mengirim pesan, Ananta sudah mengirim pesan padanya.
"Aku ada urusan sebentar, kamu pulang sama arkan ya..." Tulis Ananta. Lagi-lagi Ananta tidak memberitahu tempatnya berada sama sekali. Hanya kata urusan yang biasanya berakhir tidak ada kabar untuk waktu yang lama.
"Apa kata Nanta?" Tanya arkan yang juga ingin tahu kemana sahabatnya pergi dengan buru-buru.
"Disuruh pulang sendiri" Ucap Alana berbohong, dia tidak mau mengikuti permintaan Ananta untuk pulang bersama arkan. Dia lebih baik pulang sendiri.
__ADS_1
"Enggak percaya, coba lihat." Arkan merebut handphone Alana tanpa aba-aba. Setelahnya ia tersenyum nakal.
"Tuh kan... Disuruh pulang bareng Arkan." Ucapnya dengan percaya diri.
"Mending pulang sendiri." Ucap Alana merebut kembali handphone nya lalu buru-buru pergi meninggalkan arkan yang diam-diam tetap membuntutinya sambil memastikan Alana benar-benar pulang ke asrama. Dia ini seperti sedang menjalankan misi rahasia dari Ananta, yaitu memastikan kalau Alana benar-benar pulang ke asrama dengan selamat.
***
Arkan kira Ananta hanya akan pergi sebentar. Tapi ternyata Ananta baru masuk ke kamarnya pada jam 10 malam. Sedikit terlambat, Arkan bahkan sedikit heran karena Ananta masih bisa lolos dari penjaga asrama yang cukup ketat soal jam malam.
"Dari mana aja Ta... Tumben pulang malem" Ucapnya setelah Ananta masuk kamar dengan raut menyedihkan. Melihatnya, arkan tidak bisa tidak bertanya tentang penyebab suasana suram yang Ananta bawa ke kamar mereka
"Dia, udah pergi." Jawab Ananta singkat. Dia lalu mendudukkan diri di kasur miliknya. Melihat raut muka Ananta yang sepertinya sedang tidak bisa diajak bicara, arkan memilih diam menghampiri Ananta lalu mengusap punggungnya tanpa berkata apa-apa.
Wajah Ananta terlihat kosong, tapi tidak menangis sama sekali. Melihat raut itu arkan paham, bahwa siapapun yang pergi itu dia sangat berharga untuk Ananta. Dia sangat tahu kalau Ananta sedang sangat hancur sekarang.
Setelah beberapa lama tenggelam dalam suasana yang suram sejak kepulangan Ananta, pesan dari Alana muncul lagi di layar handphonenya masih menanyakan keberadaan Ananta untuk kesekian kali.
Dia sedikit menyesal sudah memberikan nomornya ke Alana. Kini dia juga terkena imbas dari kekhawatiran Alana setiap kali Ananta tidak bisa dihubungi.
"Udah pulang dia." Jawab arkan singkat. Dia tidak bisa bilang ke Alana tentang keadaan Ananta sekarang. Hal itu hanya akan membuat Alana khawatir.
"Udah siap-siap tidur tuh" Tambah arkan mengambil foto punggung Ananta yang kini meringkuk di atas tempat tidur. Alana tidak akan tahu bagaimana ekspresi Ananta sekarang karena arkan menutupinya dengan sangat baik.
Nantinya dia akan meminta Ananta untuk menjelaskan sendiri apa yang terjadi pada Alana. Dia tidak mau jadi jubir dua pasangan yang seperti LDR padahal sekolah di tempat yang sama itu.
__ADS_1
Entah, tiba-tiba dia merindukan pacarnya sendiri gara-gara melihat Alana dan Ananta yang seperti menjauh satu sama lain. Rasanya kisah cintanya sedikit lebih indah meski benar-benar LDR. Dia bersyukur... duka dalam ceritanya, tidak sebanyak Ananta. Apalagi orang yang dia temukan itu sangat berharga.