
Alana kembali ke ruang ini lagi. Penyelamat Alana dari hidupnya yang membosankan akhir-akhir ini adalah Latihan drama di hari minggu. Ada Gea dan Rara yang akan berbuat hal-hal lucu dengan tingkahnya yang ajaib.
Kali ini mereka berebut punggung untuk menyenderkan bahu, hingga hampir bertengkar. Tapi hanya bercanda saja. pada akhirnya mereka saling menyender satu sama lain juga.
Hari ini latihan terakhir mereka sebelum ujian. Puncak dari semua kegiatan belajar yang menyebalkan itu akan segera berakhir. Setelah ujian, baru Alana bisa bersenang-senang dengan tenang. Belum lagi kegiatan akhir semester dan liburan yang menyenangkan, semua itu sangat dia nantikan sejak lama.
Kalau bisa Alana mau melewatkan ujiannya saja. Langsung melompat ke kegiatan setelah ujian. Let's skip to the good part gitu. Sayangnya dia tidak punya kekuatan ajaib seperti itu jadi dia masih harus mengikuti ujian yang dijadwalkan hampir dua minggu itu.
"huwaaaa. Aku pengen punya mesin waktu aja." ucapnya di sela sesi istirahat. Alana bangun dari posisi menyendernya untuk merebahkan tubuhnya di lantai yang agak keras itu, dia tidak peduli kalau lantainya agak kotor. Dia capek sekali hari ini.
"kenapa nih tiba-tiba pengen jadi doraemon." ucap Rara melihat temannya itu berubah menjadi seonggok daging saja di atas lantai.
"kenapa sih cantik. Mau apa? bilang sama kakak"tanya gea ikut penasaran dengan isi pikiran Alana yang seperti frustasi itu. Melihat Alana kesal begini dia masih sempat saja menggoda. Alana menyipitkan matanya ke arah gea menunjukkan kalau dia benar-benar kesal.
"Mau skip langsung setelah ujian aja. ujian itu menyebalkan" balas Alana tanpa rasa bersalah.
"ya ampun. tinggal besok ujiannya Na. Cuma dua minggu setelah itu full kita senang-senang." Rara gemas melihat Alana yang bereaksi berlebihan.
"tapi ananta jadi nggak bisa di ajak main-main lagi. sebel" Kali ini Alana mengeluh. Ananta saat mode serius itu agak menyebalkan. Yah walaupun sesekali dia masih diperhatikan juga. Tapi tetap saja, membuatnya kesal.
"tahan dulu Lana sayang. sabar cuma dua minggu. Setelah ujian janji kita jalan-jalan." ucap Gea menghibur Alana dengan ajakan yang tidak bisa di tolak. Alana memang paling suka jalan-jalan.
"janji?" Alana bangun untuk duduk menghadap gea, mengeluarkan jari kelingkingnya sambil cemberut.
__ADS_1
"iya janji" eh, kenapa gea jadi agak keibuan sekarang. Seperti membesarkan anak kecil saja jadinya. Rara yang mengamati hanya tertawa sedikit. Kalau dia berkomentar lagi takutnya jadi sasaran tinju gea yang tidak bisa ditebak itu. Walau sebentar-sebentar bertingkah lucu, dia itu tetap punya mode preman yang harus diwaspadai.
"Ngomong-ngomong, Arkan masih belum kembali ke sekolah ya?" ucap Rara membuka topik baru supaya Alana tidak mengeluh lagi. Kupingnya agak panas kalau mendengar curhat galau Alana terus.
"iya. Dia sudah bisa duduk dan sedikit beraktivitas, tapi belum sepenuhnya pulih juga. Mungkin semester depan dia baru bisa masuk sekolah" ucap gea. Dia yang paling update tentang arkan, karena setiap kali ada kegiatan baru di kelas drama dia akan mencari arkan.
Pokoknya arkan tidak bisa meninggalkan tugas meski tidak pergi ke sekolah. Agak jahat juga sih, siapa suruh punya posisi penting di kegiatan sekolah begitu.
"hummm luka seperti itu memang sembuhnya lama ya." balas Rara bersimpati. Melihat kondisi arkan terakhir kali saja membuatnya meringis, apalagi yang merasakan sakitnya langsung.
"hummm. Aku iri sama arkan" ucap Alana tiba-tiba.
"hei dia itu sakit. iri apanya." ucap gea tidak terima.
"tidak sepenuhnya enak tau. Dia tetap harus ujian, tapi di rumah" Meski tidak yakin bisa belajar, arkan masih harus ikut ujian untuk mengisi nilainya yang kebanyakan kosong. Itu sudah jadi syarat supaya dia bisa tetap mendapat nilai, walaupun dia diberi keringanan juga untuk tidak mengerjakan tugas.
"tetap saja, dia bisa ujian sambil makan enak." ucap Alana lagi. Ya sudahlah suka-suka Alana saja. Di mata Alana arkan memang selalu membuatnya iri apapun keadaannya. Apalagi arkan punya bella, perempuan baik yang tetap setia meski dia dalam kondisi berantakan. Beruntung sekali kan.
Memang selalu ada dua sisi dari segala hal, dan kita selalu bisa memilih melihat dari sisi baiknya. Walaupun kali ini agak diluar nalar karena cemburu pada orang sakit.
"sudah-sudah. kita latihan lagi" balas gea. Sesi istirahat memang sudah selesai. Mereka harus berlatih lagi sebelum benar-benar pulang nanti.
Alana melangkah gontai. Rasanya lelah sekali hari ini. Dia butuh ananta untuk menghiburnya, tapi ananta bilang dia mau ke perpustakaan.
__ADS_1
"Dasar anak rajin, sudah hari minggu juga tetap saja mau belajar." gumam Alana pelan. Gea dan Rara sudah pergi duluan karena mau pergi ke suatu tempat. Alana ditinggalkan sendirian pulang dengan berjalan kaki. Dan sekarang dia baru sampai gerbang karena berjalannya sangat lambat.
"ngomongin aku ya?" Alana terkejut saat mendengar suara itu. Hei, suara ini familiar sekali. Alana menoleh ke kanan, menemukan ananta sedang duduk di sana menutup buku yang sedari tadi dia baca.
"kok disini?" ucapnya hampir bengong. Seorang Ananta pergi ke perpustakaan cuma sebentar? itu sangat jarang terjadi. Apalagi kalau Alana tidak mengganggunya, itu hampir tidak mungkin.
"Mau ajak kamu makan sesuatu, supaya nggak marah-marah nggak jelas." ucapnya enteng seolah Alana bukan seseorang yang mudah emosi.
"siapa bilang aku marah-marah" ucap Alana dengan nada agak tinggi, mendengarnya saja pasti akan percaya kalau Alana sedang marah.
"iya deh nggak marah. Cuma lemah nggak berdaya seolah kehilangan semangat hidup" ucap Ananta lagi membuat Alana semakin cemberut.
"mau es krim?" tanya Ananta sambil melempar senyum tipis.
"hehe. mau" balas Alana tersenyum begitu saja. Siapa juga yang bisa menolak es krim kan.
"ya udah sini." ucap Ananta merentangkan tangan kirinya yang tidak membawa buku, membuat Alana menatap heran kepadanya. Ini masih Ananta kan, Alana agak tidak percaya sampai Ananta membawa tangannya agak lebih tinggi lagi.
Melihatnya Alana segera menghampiri dengan senyum lebar. Dia mengambil tangan Ananta untuk menggandengnya dengan cepat. Mengayunkannya ke depan ke belakang seperti anak kecil. Biar saja orang lain menatapnya aneh, dia sedang senang sekarang.
"es krim matcha?" tanya Ananta yang juga tersenyum memandang Alana. Tingkahnya manis sekali.
"humm es krim matcha" balas Alana mengiyakan. Satu poin tambahan untuk Ananta sebagai pacar impian, dia sudah tahu makanan favorit Alana sekarang.
__ADS_1