
๐น๐น๐น
PLUK!
Tiba-tiba Silver terjatuh didada bidang Grey yang sudah berhasil menanggalkan bajunya menyisakan BH-nya saja.
"Terimakasih Tuhan," gumam Grey yang melihat Silver tertidur.
Grey membiarkan sejenak Silver yang tertidur diatas badannya sampai gadis itu benar-benar terlelap.
Dada bersentuhan dada membuat Grey menelan salivanya serak, walaupun semua yang dilakukan Silver tanpa sengaja tapi Grey sudah melihat semuanya.
Setelah dirasa Silver sudah terlelap dia membaringkan Silver dan memakaikan bajunya lagi setelah itu dia menutupi tubuh Silver dengan selimut.
Grey meraih ponselnya untuk menghubungi Nick agar cepat pulang, dia tidak ingin berbicara pada Kate karena mommy-nya pasti akan terus membuat ide gila yang membuatnya mau tidak mau harus menurut. Walau bagaimanapun juga Kate adalah ibu kandungnya dan dia sering mendengar dari Grandma Lusy bagaimana dulu Kate memperjuangkannya saat dalam kandungan. Karena itulah Grey tidak pernah marah jika berhadapan dengan Kate karena dibalik sifat bar-barnya Kate adalah ibu penyayang.
"Hallo, Dad," panggil Grey saat telponnya sudah tersambung.
Tidak ada suara dan ternyata yang mengambil alih panggilan adalah Kate yang dihindarinya.
"Bagaimana? apa kau dan Silver sudah berciuman?" tanya Kate penuh selidik disana.
"Mom, stop it! Aku sudah punya Jane!" protes Grey untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Grey, kau percaya insting seorang ibu kuat kan? Jane itu tidak sebaik yang kau kira!" ucap Kate mengeluarkan unek-unek dihatinya.
"Mom, jangan menilai seseorang karena insting!" kesal Grey.
"Selama ini aku tidak mencampuri urusan percintaanmu Grey, tapi kalau dengan Jane....," ucapan Kate menggantung karena Grey menyela duluan.
"Kapan mommy dan daddy pulang? bisakah dipercepat? Aku kewalahan menghadapi Silver!" keluhnya.
"Mommy ketagihan dengan sensasi baru dan negara baru jadi kami menambah acara bulan madu kami," ucap Kate kegirangan disana.
Grey hanya bisa menghela nafasnya panjang karena malas berdebat lagi, dia juga tahu selama ini Nick selalu sibuk dengan pekerjaannya mungkin memang orangtuanya butuh waktu berdua.
Grey mendekati Silver lagi dan merogoh kotak cincin yang ada di kantongnya. Di mengambil cincin kerang itu dan memasangkan dijari manis Silver.
"Sleep tight, Silver," ucapnya.
BUK!
Grey melempar bantal dengan keras kewajah Sean. "Kenapa kau memberinya minum, bodoh!" bentaknya.
Sean merasa tak enak hati. "Apa dia baik-baik saja?" tanya Sean khawatir.
"Sekarang iya! Tapi tadi tidak!" ketus Grey. "Cepat pulang sana!"
__ADS_1
"Tapi aku ingin melakukan sesi curhat denganmu!" ucap Sean dengan memelas.
BUK!
Lagi-lagi Grey melemparkan bantal ke wajah pria itu. "Aku tidak akan luluh dengan wajah kambing itu! Cepat pergi aku bukan tempat penampungan masalahmu!"
Sean menulikan telinganya dan tiba-tiba saja dia langsung tertidur tanpa sadar di sofa apartemen Grey, itulah yang dialami penderita Analgesia saat tubuhnya merasa lelah dia akan tertidur dengan sendirinya tanpa merasa ngantuk. Karena memang sudah dua hari Sean tidak tidur.
"Ck, dia bukan kambing tapi sebenarnya adalah kerbau!" decak Grey kesal.
Keesokan paginya
Silver terbangun dari tidurnya sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Dia mendudukkan badannya dan masih mengembalikan setengah kesadarannya, dia mengingat kejadian semalam saat dirinya minum bersama Sean setelah itu tidak ingat apa-apa lagi.
"Lebih baik aku sambil mengingatnya di air! Karena air membuat pikiranku jernih," gumamnya.
Silver berjalan sempoyongan menuju kamar mandi sambil memegangi kepalanya. Dia masih belum sadar jika saat ini dia berada dikamar Grey bukan kamarnya sendiri.
Dia membuka pintu kamar mandi dengan santainya dimana di dalam kamar mandi itu Grey sedang mandi dibawah guyuran shower.
Grey yang merasa ada seseorang membuka pintu kamar mandinya segera membalik badannya yang mana membuat nyawa Silver langsung kembali sepenuhnya.
Mata Silver fokus melihat benda yang membuatnya merasa asing karena baru pertama kali melihatnya.
__ADS_1
"Astaga! Kenapa punyamu mirip cumi-cumi jumbo Grey?" tanya Silver kemudian.
๐น๐น๐น