
๐น๐น๐น
Bianca tampak bingung harus berbuat apa, dia tidak suka keluarganya menjadi terpecah belah begini. Walaupun Bianca juga kecewa dengan Silver tapi tidak mungkin dia meninggalkan putrinya sementara pelayaran akan segera dimulai lagi.
"Kalian akan pulang ke Indonesia?" tegur Bianca pada kelima anak laki-lakinya yang tampak bersiap akan pergi.
"Naku yang akan bertahan!" jawab mereka. "Kami semua meninggalkan pekerjaan kami demi Silver dan sekarang waktunya kembali."
Bianca mendudukkan badannya disofa di apartemen milik mereka yang ada di Berlin itu.
"Bilang aja kalian itu mengkangen dan mengrindu pasangan kalian!" sindir Bianca. "Apa kalian tidak ingin memaafkan adik kalian?"
"Silver selama ini selalu menutup diri dan hanya Grey yang tidak bisa mencium baunya tentu saja dia menjadi excited bukan berarti tidak peduli dengan kita lagi," tambah Bianca.
Pandawa menghela nafas mereka bersama. "Itu tergantung Kapten saja, Mom!"
Lalu mereka berpamitan karena benar-benar harus kembali karena pekerjaan mereka yang mereka tinggal dadakan sebelumnya.
Pandawa mencium mommy mereka satu persatu sebelum pergi.
"Aku akan mengantar keempat saudaraku ke Bandara, Mom! Aku pasti kembali untuk menyelesaikan kapal selam kita! Sekarang tugas mommy bujuklah daddy. Aku akan menjauh sebentar supaya telingaku tidak panas!" ucap Naku disana.
Sementara sang Kapten saat ini tengah mengurung dirinya di kamar, dia merasa sangat kecewa dengan Silver yang menikah tanpa restu darinya tapi jauh di lubuk hatinya dia juga tidak bisa marah dengan Silver karena ini untuk pertama kalinya dia begitu marah dengan putri kesayangannya itu.
Pintu kamar itu terbuka dan Bianca menyembul masuk dengan membawa minuman eksperimentalnya.
"Minumlah terlebih dahulu supaya pikiranmu rileks," ucap Bianca dengan memberikan satu gelas minuman yang berupa teh yang dia campur dengan jahe dan madu tak lupa dia menambahkan kayu manis agar harum.
Arse menerima minuman itu dengan tangan gemetaran. "Aku bisa membuat minuman sendiri, sayang. Jadi tidak perlu repot-repot!"
"Aku tidak merasa direpotkan!" tegas Bianca. "Ayo cepat minum sampai habis!"
__ADS_1
Dan dengan terpaksa Arse meminumnya dengan manahan nafas dan langsung diteguknya hingga tandas. Demi Tuhan, Arse mau muntah tapi karena tidak ingin melihat istrinya menangis dia berusaha baik-baik saja.
"Sekarang lebih baik kan?" tanya Bianca kesenangan.
"I-iya Bee," jawab Arse kikuk.
"Kalau begitu nanti aku akan membuatnya lagi!"
"JANGAN!!!"
Bianca langsung terdiam mulai berkaca-kaca membuat Arse harus mengeluarkan jurus rayuan mautnya.
"Bee sayang, tanganmu itu lembut bagai sutera jadi jangan dibuat kasar dengan berkutat di dapur! Nanti kita sewa pembantu ya biar pekerjaanmu ringan!" bujuk Arse dengan memeluk istrinya.
Yang mana membuat Bianca tersulut emosi mendengar itu. "Jadi kau mau selingkuh ya! Pembantuku simpananku begitu!"
Inilah yang membuat kenapa Arse tidak menyewa pelayan untuk membantu mereka karena Bianca yang pencemburu berat.
Dan hal itu dimanfaatkan oleh Bianca. "Aku tidak akan marah lagi jika kau mau memaafkan Silver dan menerima Grey jadi menantu kita," tegas Bianca.
Arse terdiam, sebenarnya tidak ada alasan untuk menolak Grey. Pria itu sudah membuktikan cintanya pada Silver dengan menyusulnya kemari. Tapi perbuatan kawin lari mereka tidak bisa dibenarkan.
"Bubu, cobalah percaya pada Grey! Dia tidak akan mungkin menyakiti Silver bahkan dia menerima putri kita apa adanya," bujuk Bianca.
Bersamaan dengan itu, bell apartemen berbunyi. Bianca segera membuka pintu apartemen karena bell itu tidak berhenti berbunyi sedari tadi.
"Silver!" pekik Bianca saat melihat siapa yang datang.
Silver dan Grey yang mengantar Sean ke Berlin membulatkan niat mereka untuk meminta maaf pada Kapten. Dan Silver tahu pasti keluarganya ada di apartemen.
"Mom," Silver memeluk Bianca dengan terus memegang tangan suaminya.
__ADS_1
Dan Bianca membalas pelukan putrinya rasanya sangat jarang mereka melakukan kontak fisik. "Kau sangat harum, Sweety!"
"Aku tidak bau jika bersama Grey, Mom!"
Hati Grey menghangat melihat interaksi keduanya sampai suara deheman membuatnya langsung menegang.
"Daddy mertua!" ucap Grey dengan memberanikan diri mendekati Arse yang berdiri dibelakang mereka karena ingin melihat siapa yang datang.
"Aku belum merestuimu, jangan berani memanggilku seperti itu!" seru Arse disana.
"Apa yang harus aku lakukan supaya Daddy mertua merestuiku?" tanya Grey kemudian.
Arse menyeringai, lalu mendelik kearah istrinya. "Bee, buatkan Grey cupcake buatanmu yang terinspirasi dari Dewa!" perintahnya.
Grey yang belum mengetahui seperti apa makanan buatan Bianca tentu saja kesenangan bukan main ternyata syaratnya hanya memakan masakan Mommy mertuanya.
Sampai dua jam kemudian cupcake yang Bianca buat sudah jadi.
JRENG!!!
Grey langsung bergidik ngeri melihat cupcake sang Mommy mertuanya.
"Habiskan itu! Kau harus menghargai kerja keras istriku!" perintah Arse mendominasi.
Grey menatap Silver yang tidak bisa berbuat banyak.
"Grey, jangan dibayangkan bentuknya!" ucap Silver memberi semangat.
"Ini sangat nyata, Honey! Bagaimana aku tidak membayangkan! Bahkan bayangan bokong Dewa ada di kepalaku saat ini!"
__ADS_1
๐น๐น๐น