
๐น๐น๐น
Silver dan kelima calon kakak iparnya atau biasa disebut Pandawi tengah berjalan bersama agar kesedihan Silver teralihkan sejenak.
Zoya calon istri dari Dewa, yang paling gendut diantara mereka merasa insecure berjalan di tengah-tengah mereka.
"Aku cantik, aku cantik, aku cantik," batin Zoya yang selalu mengingat mantranya agar tingkat percaya dirinya muncul.
Bukannya dia tidak ingin diet atau mempercantik diri tapi hal itu selalu dilarang oleh pacarnya karena bagi Dewa dirinya sangat cantik bagai bidadari. Entah kesambet setan apa tapi Dewa dari dulu sampai sekarang sangat tergila-gila padanya. Dan Zoya bersyukur karena Dewa mencintai dirinya apa adanya.
Zoya yang pekerjaannya adalah seorang desain grafis telah mendesain beberapa contoh undangan untuk pernikahan Pandawa dan Pandawi nanti.
"Kalian lihat dan pilihlah, bagus yang mana?" Zoya berkata sembari memberikan contoh desainnya pada Pandawi lain yang saat ini mereka tengah nongki cantik di Kafe.
Pandawi lain sudah mempunyai tugas masing-masing masalah pernikahan. Timmy calon istri dari Tira bertugas untuk menentukan tema dan dekorasi acara pernikahan.
Sasa calon istri dari Bima bertugas untuk menentukan baju pernikahan yang akan mereka pakai. Cicil calon istri dari Juna bertugas untuk mengurus catering dan menu apa saja yang akan disuguhkan pada tamu nanti.
"Ini sepertinya cocok dengan tema dan dekorasinya nanti," ucap Timmy mengambil salah satu undangan yang menurutnya elegan.
"Aku juga setuju, cocok juga dengan baju yang akan kita kenakan nanti," timpal Sasa.
Cicil juga mengangguk setuju. "Aku pasrah, pokok ee iso nikah sama Kangmas Juna tampan!"
Sementara Blue menatap mereka dengan jengah karena tidak diturut sertakan dalam urusan pernikahan dan selalu saja ide-idenya ditolak.
"Yang ingin menikah memang hanya kalian berempat," sindir Blue kemudian. Lalu dia mendelik kearah Silver yang sibuk makan waffle sedari tadi. "Silver, aku ingin bertanya sesuatu padamu!"
"Tanya apa kak?" Silver masih sibuk menyuapkan waffle ke mulutnya.
"Bagaimana rasanya making love?"
__ADS_1
Silver langsung berhenti makan dan menatap Blue yang ternyata keempat lainnya juga memandangnya seakan menunggu jawabannya.
"Kakak ipar semua membuatku merinding! Rasanya itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, rasanya kita terus ingin berteriak dan mendesah... Akhh.... Akhh... Begitulah kira-kira!" jawab Silver yang akhirnya jadi perhatian semua pengunjung Kafe.
Yang mana akhirnya membuat mereka semua salah tingkah.
"Blue, kalau mau bertanya begituan jangan di tempat umum!"
"Salah lagi, salah lagi," gerutu Blue kemudian.
Dan keesokan harinya, mereka berlanjut untuk fitting baju pengantin di sebuah butik yang sudah Sasa pesan sebelumnya.
Pandawi mencoba baju pengantin mereka masing-masing, sementara Silver hanya bisa memandangi baju-baju pengantin yang ada disana.
Silver mengelus salah satu baju pengantin yang menurutnya sangat cantik.
"Apa kau menyukainya? ingin mencoba seperti yang lain?" tanya pemilik butik.
"Tidak usah," tolak Silver.
"Wah, kakak semua sangat cantik," puji Silver.
Yang mana membuat mereka mendekati Silver dan memeluk adik ipar mereka bergantian.
"Kau tidak apa-apa, Silver? Apa kami tunda acara pernikahannya?"
Silver menggeleng kuat. "Aku tidak apa-apa! Kakak semua sudah jadi perawan tua jadi jangan ditunda lagi!"
"Silver....," pekik mereka.
Silver terkekeh dan keluar dari butik untuk mencari udara segar. Dia mengusap perutnya lagi-lagi dia teringat suaminya.
__ADS_1
"Mommy merindukan daddymu," lirihnya.
Diseberang butik itu ada sebuah toko parfum dan Silver kesana karena ingin meracik parfum sendiri. Dia akan membuat aroma Grey yang sangat dia rindukan.
"Untuk pacarmu?" tanya pelayan toko saat Silver sibuk meracik parfum sendiri.
"Aku sudah menikah dan sekarang hamil muda," sahut Silver.
"Benarkah? kau masih sangat muda!"
"Suamiku mengajakku kawin lari," jawab Silver lagi.
Setelah dirasa menemukan aroma woody suaminya, Silver segera membayar dengan kartu yang diberikan oleh daddynya.
Silver merasa terpukau saat kartu itu digesek dan bisa untuk membayar.
"Aku harus sering keluar supaya menjadi manusia normal sungguhan," gumamnya.
Saat keluar dari toko parfum, Silver menyemprotkan parfum yang baru dia buat ke seluruh badannya.
"Supaya aku merasa Grey selalu ada bersamaku," ucapnya.
Silver ingin kembali ke butik tapi dia terkejut bukan main saat melihat sosok Grey berdiri di depan pintu masuk butik itu.
"Astaga, ini pasti karena aku membuat aroma Grey sekarang jadi berkhayal ada orangnya disana," gumam Silver yang mengira jika Grey yang dia lihat adalah imajinasinya.
Silver terus berjalan karena dia merasa Grey yang dia lihat imajinasi, jadi dia ingin berjalan melewatinya begitu saja pasti bayangan itu akan tembus juga.
TUK!
Tapi dia salah, ternyata Grey imajinasi tidak tembus saat dia melewatinya. Justru kepalanya menubruk dada bidangnya.
__ADS_1
"Imajinasi luar biasa," ucap Silver kemudian.
๐น๐น๐น