
๐น๐น๐น
"Lepaskan dia!" bentak Grey pada sahabatnya.
Sean malah semakin merapatkan pelukannya pada Silver. "Dia butuh sandaran, Nyet! Kau sudah mencampakannya!"
"Aku datang kesini hanya untuknya!" ucap Grey dengan menarik Silver agar lepas dari pelukan Sean.
Lalu dia mengambil Cimot dari tangan Silver dan memberikan pada Sean beserta kunci kamar hotelnya.
"Tunggu aku di hotel! Kita perlu bicara!" ucapnya lalu dia menarik Silver menjauh karena Grey butuh waktu berdua dengan gadis itu.
Grey menyewa sebuah perahu dan membawa Silver menyusuri sungai yang ada di Bamberg agar Silver tidak bisa lari darinya. Setelah dirasa agak jauh dari pusat kota, Grey menghentikan dayungnya.
Dia menatap Silver yang dari tadi hanya diam menunduk di tempatnya.
"Silver aku menyesal telah berbohong padamu! Kau pernah bertanya padaku, apa aku merasakan kerlipan cahaya itu dan... "
Grey berkata dengan menggenggam tangan Silver. "Aku merasakannya!"
Sontak Silver langsung menegakkan wajahnya menatap Grey yang wajahnya begitu dekat dengannya. "Kenapa tidak bilang dari awal?"
"Maafkan aku! Aku menyangkal semua perasaanku padamu! Aku mencintaimu, Silver. Kau datang untukku, Silver untuk Grey! Bahkan indera penciumanku bermasalah saat kau pergi, semuanya bau kecuali dirimu!" ucap Grey yang lagi-lagi menaruh wajahnya dileher Silver dan menghendusnya dengan sensual.
"Bagaimana dengan calon istrimu, apa karena aku kalian berpisah?" tanya Silver dengan menahan desiran diseluruh tubuhnya karena Grey mulai menciumi lehernya.
Grey menggeleng. "Sama sekali bukan karenamu dan jangan bahas itu lagi!"
Saat Grey hendak menciumnya, Silver mendorong tubuh Grey sejenak. "Kita akhiri semuanya sekarang! Disini bukan tempatmu dan kembalilah ke London!"
"Kenapa? Aku datang kesini untukmu, aku akan membantumu mencari Lotus laut itu. Jika tidak berhasil pun aku akan tetap menikahimu, Silver! Kau tidak perlu sembunyi lagi, kita hadapi semuanya berdua!" bujuk Grey.
"Kau tidak mengerti, Grey! Aku... "
Belum sempat Silver menyelesaikan kalimatnya suara tembakan menggema di udara.
DOR! DOR! DOR!
__ADS_1
Yang mana keduanya menoleh kearah sumber suara dan disana mereka melihat Arse yang sudah berdiri di jembatan dengan senjata api yang dia arahkan keatas setelah itu arahnya membidik Grey dari tempatnya.
"Grey, cepat masuk dalam air! Daddy-ku kumat gilanya!" pekik Silver.
Mau tidak mau, Grey langsung menjeburkan dirinya ke dalam sungai.
"Mau kemana kau, hah!" teriak Arse yang berusaha membidik Grey dalam air.
"Dad, jangan! Aku akan naik!" Silver berkata dengan mendayung perahunya agar mendekati Arse.
"Kenapa kau bisa bersamanya, Sweety? jangan dekat dengannya lagi atau dia akan menyakitimu lagi!" geram Arse yang masih tidak terima Grey menolak Silver sebelumnya.
"Tenang, Dad! Ayo kita pulang, Grey pasti akan segera kembali ke London!" bujuk Silver yang sudah naik keatas.
Mereka berdua akhirnya kembali ke rumah mereka sementara Grey yang masih didalam air dan melihat perahu yang dia naiki sebelumnya bersama Silver tidak ada, langsung menyembulkan dirinya ke permukaan.
"Kenapa aku merasa seperti mengejar putri seorang mafia," gumamnya.
๐น๐น๐น
Grey kembali ke hotel dengan basah kuyup dan disana Sean sudah menunggunya sedari tadi.
Grey langsung mendorong tubuh Sean sampai membentur dinding. "Jelaskan padaku! Kenapa kau juga tidak bisa merasakan aroma Silver?"
"Tenang! Lebih baik kau bersihkan tubuhmu! Kau.... "
Perkataan Sean terjeda karena tiba-tiba dia mencium aroma pada tubuh Grey. Lalu dia menghendusi tubuh Grey yang bau air sungai itu.
"Sepertinya indera penciumanku mulai kembali, apa ini ada hubungannya dengan perasaanku pada Silver," gumam Sean.
Grey yang diperlakukan seperti itu, tentu saja langsung menjauhkan tubuhnya. "Dasar kambing mesum! Sudah lama tidak menggagahi wanita kau jadi belok sekarang?"
Akhirnya Grey membersihkan dirinya dengan segera sementara Sean termenung sambil mencubit kulitnya tapi dia belum merasakan sakit.
"Apa kembalinya panca inderaku bertahap?" gumamnya.
Disisi lain, Silver mengurung dirinya di kamarnya. Dia masih tidak percaya dengan Grey yang jauh-jauh datang menemuinya dan menyatakan perasaannya. Tentu saja dia sangat bahagia akhirnya cintanya terbalas tapi bagaimana dengan mimpinya. Dia tidak ingin kehilangan pria itu, dia rela bau seumur hidupnya asal Grey tetap hidup di dunia.
__ADS_1
TOK! TOK! TOK!
Pintu kamarnya diketuk, Silver membuka perlahan dan ternyata Abang Pandawanya yang mengetuk pintu kamarnya.
Silver tertawa terbahak-bahak melihat kelima Abangnya memakai masker seperti Ant-man.
"Supaya adik kami tidak menjauhi para Abangnya!" ucap mereka.
Masker itu khusus Naku buat agar tidak bisa mencium bau karena mereka ingin hubungan persaudaraan mereka terjalin erat bukan seperti yang biasa Silver lakukan yaitu menghindari mereka. Walaupun akan aneh dan pengap yang terpenting mereka bisa menghibur Silver.
Keenam bersaudara itu baring bersama di lantai dengan Silver yang berada di tengah sambil menatap langit-langit kamar.
"Sepertinya kita tidak pernah melakukan hal seperti ini kan?" tanya Silver. "Hidup kita terpisah jauh dari aku kecil, bahkan Abang semua harus hidup mandiri tanpa kasih sayang orangtua!"
"Bukankah aku begitu egois? Semuanya susah karena aku, apa mungkin aku anak pembawa sial!"
"Silver!" pekik Pandawa kompak mereka tidak suka jika Silver terus menyalahkan diri sendiri.
"Tapi itu benar, Bang! Bahkan para Abang semua tidak bisa menikah karena aku!"
Tira mendengus disana sebagai yang tertua dia harus paling bijak. "Timmy masih setia menunggu, sekarang Timmy jadi dokter spesialis penyakit dalam. Rasanya baru kemarin dia jadi gadis domba sekarang menjelma jadi wanita dewasa yang seksi!"
"Sasaku juga setia menunggu! Aku merindukannya yang selalu malu-malu kucing padaku!" timpal Bima membayangkan Sasa yang saat ini berhasil menjadi atlet lari.
Juna juga membayangkan si Cicil kembang desa yang membuatnya jatuh hati. "Cicilku juga begitu menggemaskan, aku bahkan saat ini ingin mendengar pujiannya!"
Lalu Silver melirik kearah kedua Abangnya yang lain. Naku dan Dewa ternyata juga tengah membayangkan pasangan mereka. "Abang Naku dan Dewa tidak merindukan kak Blue dan kak Zoya?" tanya Silver.
"Blue selalu penasaran dengan hal baru, aku takut khilaf kalau lama-lama dekat dengannya!" ucap Naku sambil membayangkan pacarnya yang tidak tahu apa-apa itu.
Lalu Dewa berdehem. "Buncitku juga mati-matian ingin diet! Kenapa harus diet? Dia itu seksi dengan perut buncitnya itu," ucapnya.
Semuanya geleng kepala mendengar pernyataan Dewa dan betapa gilanya Dewa dengan si Buncit. Kalau umumnya pria suka cewek cantik tapi lain hal dengan Dewa yang seleranya justru cewek jelek.
Lalu kelimanya mendengus bersama. "Kami mau kawin!"
๐น๐น๐น
__ADS_1
Spoiler dikit cerita Dewa๐